Hidayatullah.com- Praktisi Energi Baru Terbarukan, Dipl Ing Haikal Jauhari MSc menyampaikan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya sumber energi baru dan terbarukan. Hal itu disampaikan sebagai salah seorang narasumber pada acara diskusi Majelis Reboan di Aula DPP Hidayatullah, Jakarta, Rabu (05/02/2020)
“Indonesia kaya sumber energi baru dan terbarukan. Tetapi belum semua benar-benar bisa dirasakan oleh masyarakat,” jelasnya pada acara bertema “Pemanfaatan Energi Terbarukan, Tepat Guna di Indonesia” itu.
Oleh karena itu, dikenal istilah energi baru dan terbarukan. Baru artinya belum tentu bisa terbarukan. “Kalau terbarukan artinya tidak habis sepanjang masa,” tegas Haikal Jauhari.
Salah satu sumber energi paling dekat dengan kehidupan di Indonesia adalah sinar matahari.
“Seperti energi surya, potensinya di Indonesia sangat besar, rata-rata 4,8 kilowatt per jam per hari. Kalau kita punya area 100m persegi, maka kalkulasinya kurang lebih cukup untuk menerangi 100 rumah, masing-masing 720 watt hour,” urai Haikal Jauhari.
Akan tetapi, tidak berarti hal itu tanpa kendala.
“Ada kendala, cuaca di Indonesia ini sebagai Khatulistiwa, cuacanya sering berubah. Awan sering muncul menutupi intensitas cahaya matahari, sehingga menjadi kendala awan lewat lima menit saja, suplai cahaya matahari bisa drop. Karena tiba-tiba saat beban digunakan, suplai hilang,” urainya.
Baca: Hidayatullah Dorong Pemanfaatan Energi Terbarukan Tepat Guna
Fakta itu menunjukkan bahwa Indonesia kurang cocok untuk pembangunan energi surya skala besar. Ini sebab kenapa tidak bisa jalan di Indonesia.
“Di sini alasan mengapa kita butuh dan benar-benar perlu energi yang lebih tepat dan lebih berguna, yang baru dan terbarukan,” ungkapnya.
Dalam kenyataannya, lanjut Haikal Jauhari, pemanfaatan energi terbarukan tepat guna di Indonesia masih butuh usaha keras dan waktu cukup panjang. Karena selain hal baru, secara teknologi masih dinilai membutuhkan penyempurnaan.
Untuk diketahui, Majelis Reboan adalah forum sharing ekonomi keumatan dan pemberdayaan sumber daya alam di Indonesia yang dikoordinatori oleh Kabid Ekonomi DPP Hidayatullah, Asih Subagyo.*