SESUNGGUHNYA penyebab lemahnya mental seorang Muslim bukan pada rendahnya tingkat pendidikan atau pun minimnya pengalaman hidup, tetapi tipisnya rasa tawakkal kepada Allah Ta’ala.
Imam Ghazali mengatakan, sikap menyerahkan urusan terhadap orang lain, maka ia tergolong orang yang mengangkat orang lain itu sebagai wakil yang menangani segala urusan dirinya yang menjamin untuk kepentingannya, yang mencukupi seluruh kebutuhan dirinya dengan tidak membebankan serta mencari perhatian kepada selainnya.
Sementara tawakkal kepada Allah berarti menyerahkan segala urusan hidup dan mati hanya kepada Allah dengan senantiasa menjalani segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya secara benar, sehingga tentram dan bahagia kehidupannya.
Ketika seorang Muslim rendah kualitas ketawakkalannya kepada Allah Ta’ala maka ia akan menjadi orang yang sangat gelisah dalam hidupnya, meskipun ibadah dalam kesehariannya selalu dijalankan secara benar. Inilah jawaban tepat mengapa ada seorang Muslim yang ibadahnya bagus tetapi korupsi jalan terus.
Rendahnya ketawakkalan kepada Allah, khususnya pada masalah rizki akan menjadikan seseorang mencari berbagai macam cara untuk bisa memiliki banyak harta. Hal ini karena ada anggapan dalam dirinya harta bisa dijadikan sandaran kuat dalam hidupnya. Ia seolah lupa bahwa Allah semata yang layak dijadikan sandaran.
Tidakkah kita perhatikan bagaimana para pemburu dunia dan kuasa yang penuh ambisi? Mereka itu tidak mampu menjadi mulia di dunia kecuali dengan mengorbankan harga diri, keluarga, harta benda bahkan juga agama.
Prinsipnya satu, orang yang tidak bagus kualitas tawakkalnya kepada Allah akan menjadi orang yang lemah, hina, ‘idiot’ dan menyusahkan orang lain.
Sebaliknya, orang yang bertawakkal kepada Allah maka ia disebut oleh Rasulullah sebagai Muslim yang kuat, begitu kata Imam al Ghazali dinukil dalam kitabnya “Minhajul Abidin.”
“Siapa saja yang ingin menjadi orang terkuat, maka hendaknya ia bertawakkal kepada Allah. Siapa saja yang ingin dirinya menjadi orang yang paling mulia, maka hendaknya ia bertakwa kepada Allah. Dan siapa saja yang ingin menjadi orang yang paling kaya, maka hendaknya ia lebih percaya dengan apa yang berada di Tangan Allah daripada apa yang ada di tangannya sendiri.”
Kisah Ibrahim Al-Khawwas
Kisah ini termaktub dalam Kitab Minhajul Abidin karya terakhir Hujjatul Islam Imam Ghazali. Di sana dikisahkan tentang pertemuan Ibrahim Al-Khawwas dengan seorang pemuda.
“Aku bertemu degan seorang anak muda di padang pasir yang luas, sepertinya ia seorang tukang sepuh perak. Kemudian aku bertanya kepadanya, ‘Hendak kemana engkau wahai anak muda?’
Ia menjawab, ‘Aku akan pergi ke Mekah.’
Aku bertanya lagi, ‘Engkau hendak ke sana tanpa bekal dan binatang tunggangan?’
Anak muda itu menjawab, ‘Wahai orang yang lemah imannya! Allah Yang Mahakuasa yang menjaga langit dan bumi adalah Zat Yang Mahakuasa pula untuk menyampaikan aku ke Mekkah tanpa bekal maupun kendaraan.’
Dan ketika aku sampai di kota Mekkah, aku benar-benar melihatnya sedang mengerjakan thowaf seraya mengatakan, “Wahai jiwa, bertasbilhlah selamanya. Usah engkau pedulikan seorang pun kecuali Zat yang Mahakuasa dan tempat seluruh makhluk bergantung. Wahai jiwa, matilah engkau dalam keadaan berserah.”
Dan ketika ia melihatku, ia pun berkata, ‘Wahai Syaikh, apakah imanmu masih lemah?”
Empat Bekal
Kemudian Imam Ghazali melanjutkan kisahnya. Kali ini Abu Muthi’ bertanya kepada Hatim Al-Asham. “Telah sampai berita kepadaku, bahwa engkau mengarungi padang pasir tanpa bekal.”
Hatim menjawab, “Bekalku ada empat.”
“Apa itu?” tanya Abu Muthi’.
“Aku melihat dunia dan akhirat merupakan urusan Allah. Aku melihat makhluk semuanya adalah hamba Allah dan di bawah tanggungan-Nya. Aku meliht rezeki dan semua sebab itu berada di Tangan Allah. Dan aku melihat qadha’ Allah pasti terlaksana di seluruh bumi-Nya.”
Jadi, kekuatan seorang Muslim terletak pada kualitas ketawakkalannya kepada Allah Ta’ala. Imam Ghazali mengatakan bahwa Muslim yang tidak tawakkal adalah Muslim yang tidak merasa cukup dengan janji-Nya, tidak tenang dengan jaminan-Nya dan tidak puas dengan pembagian-Nya, kemudian tidak memperhatikan atas apa yang menjadi perintah-Nya, janji serta ancaman-Nya, maka lihatlah bagaimana jadinya ia, dan uian apa yang bakal dijalani akibat sikapnya itu. Dan ini, demi Allah merupakan musibah yang amat berat. Sebab kita telah lalai kepada-Nya.
Kemudian Imam Ghazali mengutip pendapat Uwais Al-Qarni, seorang sahabat yang tidak hidup bersama Nabi namun Nabi mengatakan doanya mustajab, dan sahabat Ali dan Umar pun meminta agar di doakan oleh Uwais Al-Qarni.
Uwais berkata, “Allah tidak akan menerima ibadah dan ketaatanmu meskipun itu sebanyak ibadah seluruh penghuni langit dan bumi, sampai engkau percaya kepada jaminan-Nya, yaitu yakin kepada jaminan Allah untuk memberi rizki kepadamu. Yakinlah dengan itu, lalu curahkan dirimu untuk beribadah kepada-Nya.”
Dengan demikian teranglah bagi kita bahwa untuk menjadi Muslim yang kaffah, teguh, dan tsiqah kita perlu mengasah kekuatan tawakkal kita kepada Allah sepanjang hidup kita. Dan, semoga kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang bertawakkal, sehingga mendapat cinta dan keridhoan-Nya.
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal.” (QS. Ali Imron [3]: 159).
Oleh karena itu, sungguh tidak pantas jika seorang Muslim dalam hidupnya melakukan tindakan-tindakan tidak patut baik secara agama maupun moril hanya demi mendapatkan sesuatu. Padahal, Allah telah menjamin hidup mati kita secara sempurna. Masihkah kita enggan bertawakkal kepada-Nya?*