Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Teladani Ulama dalam Menuntut Ilmu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Mei 2013 14:08 2:08 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Mei 2013 14:08
Bagikan
Bagikan

SUNGGUH besar mujahadah para ulama kita dalam memperjuangkan dakwah Islam. Mereka mengerahkan segala yang dimiliki untuk mempelajari dan menjaga ilmu-ilmu Islam. Alhasil, buah dari ketekunan mereka pun dapat dinikmati oleh jutaan kaum muslimin di seluruh dunia. Baik berupa kumpulan hadits, tafsir, kamus, maupun kitab-kitab syari’at dan akhlak yang sangat berfaedah bukan saja untuk manusia sezamannya, tetapi juga untuk umat yang datang kemudian.

Tekun

Di kalangan mufassir, siapa yang tidak kenal Abdullah bin ‘Abbas? Semasa hidupnya, ia dikenal sangat gigih menimba ilmu dari para sahabat Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wa Sallam, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Radhiallahu Anhu. Tak heran anak paman Nabi ini mendapat gelar Turjumanul Qur’an (ahli tafsir Qur’an). Bahkan karena kecerdasannya dalam masalah agama, ia diikutkan dalam majelis syuro bersama sahabat-sahabat Badar.

Salah seorang murid istimewanya, Mujahid ibnu Jabr (Imam Mujahid), seorang ulama dari generasi tabi’in berkata, sebagaimana di riwayatkan oleh Fudhail bin Maimun, ”Aku belajar kepada Ibnu ‘Abbas sebanyak tiga kali pengulangan. Ketika berhenti dalam setiap ayat, aku bertanya kepadanya tentang ayat itu, dimana, kapan dan bagaimana diturunkan. Kami menggali hikmah dalam setiap ayat, hukum-hukumnya, pemahaman dan rahasia pengetahuannya.”

Ketekunan lain ditunjukkan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud. Ia hampir tidak pernah tertinggal dari kegiatan Rasulullah SAW dalam berbagai keadaan. Dialah salah satu sahabat yang selalu mempersiapkan sandal Nabi, membantu keperluan dan menyediakan air wudhunya. Sampai ia berkata, ”Tidaklah ada satu surat dan ayat Al Qur’an diturunkan, kecuali aku mengetahui dimana dan kapan diturunkan serta mengenai masalah apa ayat tersebut berkaitan. Sungguh, seandainya ada orang yang lebih alim tentang Al Qur’an, niscaya aku akan belajar kepadanya walau dengan menunggang unta yang jauh jaraknya.” Karena kecemerlangannya dalam ilmu agama, ia dijuluki sebagai ulamanya para sahabat.

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Umar bin Khathtab yang disibukkan dengan perdagangan tidaklah lepas kesungguhannya untuk terus mempelajari ilmu dari Rasulullah. Ia bergantian dengan sahabat Anshor Bani Umayyah bin Zaid mendatangi majelisnya Nabi. Demikian juga yang lainnya, jika salah seorang berhalangan, maka akan bertanya kepada yang hadir.

Seseorang yang telah lanjut usia titip pertanyaan kepada murid Imam Ahmad bin Hanbal untuk diteruskan kepada sang guru, apakah masih perlu ia menuntut ilmu? Imam Ahmad menjawab, ”Kalau ia masih pantas untuk hidup, maka pantas pula ia menuntut ilmu.” Dalam kesempatan lain Imam Ahmad ditanya, “Sampai kapankah seseorang belajar?” Beliau menjawab, ”Sampai kamu masuk kubur!” Untuk keperluan menuntut ilmu, Imam Ahmad pernah berangkat dari Madinah ke Baghdad belajar kepada Imam As-Shon’aniy dengan perjalanan berhari-hari.

Abdul Qadir Jailani pernah ditimpa kelaparan dan hampir mati karena kehabisan bekal dalam menuntut ilmu. Dia pun pernah pergi ke padang rumput dan mencari pucuk-puuk daun tumbuhan untuk dimakan demi menyembuhkan rasa laparnya.

Siapa yang tidak kenal Imam Bukhari? Dalam mempelajari hadits, ia memiliki guru lebih dari 1000 syeikh. Ia melakukan perjalanan yang panjang. Buah dari ketekunannya, ia berhasil mengumpulkan lebih dari 10.000 hadits.

Waktu-waktu malam hari, biasanya ia habiskan untuk mengulang dan menelaah ilmu yang ia dapatkan hingga pernah menyalakan lampu lebih dari 20 kali dalam semalam untuk menghafal hadits dan sanadnya. Jarak yang jauh dari sumber ilmu, tidak membuatnya patah arang. Ia tidak segan menjelajah gurun pasir yang panas, menembus badai dan kota-kota untuk mendapatkan hadits dari kota Bukhooro (Uzbekistan, Asia Tengah) hinga ke Makkah dan Madinah.

Menghargi Waktu

Penghargaan dan perhatian ulama dalam menggunakan waktu memang luar biasa. Imam Ibnu Abi Hatim ketika mau makan kue, ia menunggu sampai kering, setelah kering dicelupkan dalam air.

Ketika kebiasaan itu ditanyakan oleh muridnya, ia menjawab, ”Berapa menit waktuku terbuang hanya untuk mengunyah makanan berlama-lama. Masih banyak hal dari agama ini yang belum aku ketahui. Kalau roti tersebut kering lantas aku celup dengan air, bukankah hal ini mempercepat waktu makan dan hasilnyapun sama.”

Imam Syafi’I berkata, ”Bermalam-malam untuk menelaah ilmu lebih aku sukai dari pada tidur bersama wanita cantik dan kaya.” Beliau juga berkata, ”Wahai saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara yang mesti dipenuhi. Yaitu semangat, kesungguhan, kecerdasan, perbekalan yang cukup, petunjuk guru dan panjangnya waktu.” Kamar beliau penuh dengan kitab-kitab, hingga hanya sekadar untuk selonjorpun sulit.

Semangat Menyala

Imam Jauzi mengatakan, “Semangat para ulama mutaqaddimin sangat luar biasa dalam menuntut ilmu.” Di antara ulama ada yang masih sempat bertanya kepada ulama lain menjelang wafatnya. Ketika ditanya mengapa masih sempat melakukan hal demikian, iapun menjawab, ”Aku meninggal dalam keadaan mengetahui satu bab lebih baik daripada tidak mengetahuinya.”

Di antara mereka juga ada yang belajar di bawah cahaya rembulan seperti Jarir bin Hasyim. “Aku belajar kepada Al-Hasan selama tujuh tahun, dan selama kurun itu, aku tidak pernah absen,” katanya.

Selain secuil kutipan di atas, masih banyak lagi kegigihan yang dicontohkan ulama-ulama besar yang sungguh di luar nalar manusia awam dalam menekuni ilmu. Sebutlah misalnya, Imam Ibnu Qayyim Al-Juziyah, murid dari Ibnu Taimiyah yang mampu mengarang kitab Zaadul Ma’aad dalam perjalanan hajinya. Kitab tersebut terdiri 6 jilid, masing-masing jilid rata-rata 400 sampai 500 halaman.

Ada lagi Ibnu Hajar Al-Asqalani yang belajar Sunan Ibnu Majah dalam empat majelis, Shahih Muslim dalam empat majelis, Sunan Nasai dalam dua majelis, yang semua dilakukan dalam waktu yang sangat padat. Beliau juga menelorkan karya istimewa, yaitu kitab Fathul Bari syarah Shahih Bukhari yang digambarkan sebagai penutup hijrah pencerahan, yang artinya tidak ada yang mampu menandingi kitab syarah karya beliau yang lebih lengkap sesudahnya. Subhanallah!

Akhirul Kalam

Umat yang hidup hari ini layak bersyukur atas buah dari mujahadah mereka yang tak kenal lelah. Terbuktilah bahwa keterpaduan kecerdasan, kekuatan hafalan, kefasihan dan keindahan tutur kata, keluhuran akhlak, ketekunan ibadah yang luar biasa, ditambah dengan kemauan yang kuat, telah melahirkan karya yang tak lekang oleh zaman.

Manusia pun berbondong-bondong ingin menghilangkan dahaga rohaninya dengan mereguk karya-karyanya. Merekalah orang-orang pilihan Allah. Semoga kita dapat memetik sekuntum hikmah dari kisah di atas.*/diambil dari Majalah Suara Hidayatullah bulan Juni 2006

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 10% Dana Otsus di Aceh untuk Pembangunan Rumah Dhuafa
Tulisan selanjutnya Sebut Hasil UN Syarat Kelulusan, Marzuki dapat Kecaman DPR

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?