Lanjutan artikel PERTAMA
Oleh sebab itu, Islam memerintahkan agar senantiasa bergaul dan berkumpul dengan orang-orang baik agar disebut dan menjadi orang baik.
Dalam hal ini Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berkumpullah bersama orang-orang yang baik.” (QS At Taubah: 119).
Ketiga, pemimpin kita
Siapa pemimpin yang dipilih sejatinya cerminan dari wajah-wajah masyarakat yang memilih pemimpinnya. Dalam alam demokrasi, pemimpin cerminan kualitas kebanyakan orang yang memilih. Baik buruk pemimpin adalah gambaran baik buruknya yang memilih pemimpin. Dari pemimpin kita bisa berkaca siapa kebanyakan kita sebenarnya.
Dalam Al-Quran dijelaskan, bahwa Allah menjadikan pemimpin bagi orang-orang fasiq tidak jauh, bahkan lebih fasiq dari mereka, yaitu Fir’un.
Allah ta’ala berfirman:
فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْماً فَاسِقِينَ
“Maka Fir’un mempengaruhi kaumnya, lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasiq.” (QS. Az Zukhruf: 54).
Allah ta’ala juga berfirman:
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضاً بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
“Dan demikianlah, Kami jadikan orang-orang yang dzolim itu menjadi teman (pemimpin) sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS: Al An’am: 129).
Imam Thabrani pernah meriwayatkan dari Hasan Al Bashri rahimahullah, bahwa ia pernah mendengar seorang laki-laki mendoakan keburukan untuk Al Hajjaj, seorang pemimpin yang dzolim di zamannya, lantas ia berkata; “Jangan kamu lakukan itu! Kalian diberi pemimpin seperti ini karena diri kalian sendiri. Kami khawatir jika Al Hajjaj digulingkan atau meninggal, maka kalian akan di pimpin oleh kera atau babi. Sebagaimana telah diriwayatkan, bahwa pemimpin kalian adalah buah dari amalan kalian, dan kalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian.” (Kitab Kasyfu al Khafa, dikutip dari As Sunnah, Edisi 06, 2014).
Dalam konteks Indonesia kekinian, banyak hal berharga yang menjadi pelajaran. Umat Islam di Indonesia adalah mayoritas, tapi yang tergilas dan tertindas. Karena kualitas masyarakat yang rendah, hilangnya ghirah menilai sesuatu dari sisi agama, akibat abainya dengan nasihat ulama, tanpa kritis, akhirnya memilih pemimpin sesuai arus pencitraan media. Padahal, pencitraan lebih dekat dengan kepalsuan.
Tidak perlu menepuk air di dulang, karena akan memercik kepada wajah sendiri.
Bagaimana pemimpin kita sekarang, adalah cerminan kualitas kebanyakan orang, termasuk kita. Tidak perlu meratapi apa yang terjadi, karena kesadaran memang selalu datang belakangan. Sebab itu, jika ingin wajah kita tampak bersih, maka mulailah memperhatikan cerminan diri seperti ucapan, teman pergaulan, dan pemimpin yang akan dipilih.
Maka, jika kita melihat carut-marut Negara dan Bangsa kita, juga kualitas pemempin kita yang kurang membanggakan, mungkin itulah cerminan kualitas kita sendiri yang ditunjukkan Allah kepada kita semua. Wallahu A’lam!*/Lidus Yardi, Sekretaris Majelis Tabligh PD Muhammadiyah Kuansing Riau