SULTAN MURAD II penguasa Daulah Al Utsmaniyah telah berusaha untuk memberikan pendidikan terbaik kepada putranya yang bernama Muhammad yang kelak menjadi penakluk Romawi Timur yang bergelar “Al Fatih” itu. Beliau telah memilih guru-guru khusus yang bertugas mendidik sang anak. Namun para guru gagal mendidiknya dan mereka pun menyerah karena Muhammad tidak pernah mengindahkan apa yang disampaikan oleh mereka.
Akhirnya Sultan Murad memilih Syeikh Ahmad bin Ismail Al Kaurani untuk mendidik sang putra. Tidak cukup menunjuk, bahkan Sultan Murad II memberikan pemukul kepada beliau, untuk digunakan memukul Muhammad jika ia melakukan pembangkangan.
Al Kaurani pun memasuki ruang belajar Muhammad dengan alat pemukul di tangan dan mengatakan,”Ayahmu mengirimku untuk mengajarimu beserta pemukulnya jika engkau menentang perintahku”. Apa yang terjadi? Muhammad malah tertawa mendengar perkataan itu. Namun rupanya Syeikh Al Kaurani sudah mengantisipasi hal itu, sang guru pun memukul Muhammad dengan pukulan yang keras di ruangan itu hingga akhirnya Muhammad merasa amat takut terhadap sang guru.
Apa yang dilakukan oleh Syeikh Al Kaurani ternyata membuahkan hasil. Dalam waktu singkat Muhammad hafal Al Qur`an sebelum berumur 9 tahun mulai nampak kelebihannya dibanding para putra bangsawan lainnya. (lihat, Nashr Al Kabir Muhammad Al Fatih, hal. 40-41)
Kisah di atas menunjukkan bahwa Sultan Murad sebagai orang tua amat percaya terhadap guru yang bakal mendidik putranya, hingga beliau sendiri yang menyiapkan alat pukul untuk mendidik putranya itu. Dan hal itu bukanlah dalih bolehnya memukul murid dengan membabi buta, karena Syeikh Al Kaurani adalah ulama besar yang pasti telah mempertimbangkan jenis pukulan yang bisa membuat sadar namun tidak membahayakan.*