IMAM AN NAWAWI sangat menyukai makanan kisyk, yakni tepung gandum dan susu yang dikeringkan, lalu dimasak. Ketika Imam An Nawawi memasaknya, maka ia mengundang sahabatnya, yakni Alauddin Al Baji untuk makan bersama. Saat itu Al Baji mendapati hidangan kisyk dan air putih, sedangkan ia sendiri tidak terlalu menyukainya. Meski demikian, Alauddin pun memenuhi undangan-undangan tersebut. Hingga sampai suatu saat Alauddin tidak memenuhi undangan makan kisyk bersama Imam An Nawawi.
Katika Alauddin tidak datang, Imam An Nawawi sendiri mendatangi sahabatnya itu dengan mambawa kisyk, lalu mengatakan,”Demi Allah wahai Syeikh Alauddin, aku mencintaimu dan mencintai kisyk, dan aku tidak mamasaknya kecuali ingin makan bersamamu. Dengan demikian, bisa engkau datang kepadaku, atau aku yang datang kepadamu.”
Imam Alauddin Al Baji pun membalas,”Demi Allah wahai Syeikh Muhyiddin, aku mencintamu, namun aku tidak mencintai kisyk.” (Thabaqat Asy Syafi’iyah Al Kubra, 10/341)