Kita bisa bercermin dari kisah Khalifah Harun Al-Rasyid, betapa nilai jabatan dan nilai kekayaan tidak lebih dari segelas air yang sangat murah
Hidayatullah.com | SUATU ketika, Khalifah Harun Al- Rasyid duduk di teras istana dengan mimik gelisah. Untuk meringankan penat dan beban pikirannya, seperti biasa, la mengundang ulama terkemuka agar pikirannya kembali cerah dan segar. Ulama terkemuka yang dipanggil saat itu bernama Abu Sammak.
Setelah ulama itu tiba di istana, tanpa menunnggu lama Khalifah berkata, “Nasihatilah aku.”
Sementara itu, seorang pelayan membawa air suguhan untuk Abu Sammak dan Khalifah.
Saat hendak meminum, Abu Sammak berkata, “Tunggu sebentar!”
“Seandainya dalam keadaan sangat haus seperti ini kau tidak memperoleh air, berapakah harga yang siap kau bayar? Jawablah dengan jajur.”
“Setengah dari kekayaanku,” jawab sang Khalifah.
Abu Sammak mempersilakan Khalifah minum. Selesai minum, Abu Sammak bertanya kembali, “Seandainya air tadi mendesak dikeluarkan tapi kau tak mampu mengeluarkannya, berapakah harga yang akan engkau bayarkan agar air itu keluar?”
Khalifah menjawab, “Setengah dari kekayaanku.”
“Kalau demikian, sadarilah bahwa nilai seluruh kekayaan dan nilai kekuasaan yang ada di sisimu hanya setara dengan segelas air. Tidak wajar apabila diperebutkan dan dipertahankan tanpa hak. Ketahuilah, betapa banyak nikmat Allah laparan selain segelas air itu yang telah kau terima sehingga tidak wajar jilka engkau tidak mensyukurinya, “ demikian nasihat Abu Sammak kepada Khalifah Harun Al-Rasyid.
Secara khusus, kisah Harun Al-Rasyid ini adalah cambuk bagi orang yang sedang mengemban amanah, jabatan dan bergelimang harta. Jabatan bukanlah mainan dan ajang memperkaya diri.
Jabatan adalah amanah yang berat, yang suatu saat akan diminta pertanggungjawabannya. Kita bisa bercermin dari Khalifah Harun Al-Rasyid, betapa nilai jabatan dan nilai kekayaan tidak lebih dari segelas air yang dapat kita beli dengan harga murah.
Di mata Allah, jabatan dan kekayaan itu murah, sangat murah. Oleh karena itu, kita tidak boleh tergelapkan oleh jabatan dan kekayaan.
Sedikit pun harta dan kekayaan itu tidak akan kita bawa mati. Hanya amal kebaikan kitalah yang dapat menolong di hari perhitungan amal kelak.*/Mamang M Haerudin, “Cermin Hati: Satu Akhlak Al-Karimah, Sejuta Hikmah”