Ulama dan ilmuwan Muslim terdahulu menjadikan dunia tulis-menulis dan ‘jihad media’ sebagai salah satu dakwah utama selain mengajar
Hidayatullah.com | PARA ULAMA zaman dulu menghabiskan waktu untuk menulis. Mereka –para ulama dan ilmuwan Muslim— menjadikan jihad media sebagai salah satu dakwah utama.
Imam Ath-Thabari, Imam Al-Ghazali, Imam Nawawi, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, Imam Ibnu Al-Jauzy, Imam Ibnu Katsir, juga Imam Al-Qurthubi termasuk para ulama yang menghabiskan waktu untuk menulis.
Mereka dikenal dengan karya tulis hingga ribuan judul dan satu judulnya ada yang mencapai ratusan jilid buku. Imam Ath-Thabari, seorang ahli sejarah dan ahli tafsir terkemuka, membiasakan diri selama 40 tahun untuk menulis 40 lembar setiap hari.
Setelah kematiannya, murid-muridnya menghitung apa yang ditulisnya setiap hari. Ternyata sejak beliau berusia baligh sampai meninggalnya, terhitung kurang lebih 14 lembar yang beliau tulis setiap hari.
Abu Ishaq asy-Syairazi telah menulis 100 jilid buku. Imam Ibnu Taimiyah menyelesaikan setiap buku dalam waktu satu minggu. Beliau pernah menulis satu buku penuh dalam satu kali duduk. Dan bukunya telah dijadikan referensi oleh lebih dari 1000 penulis.
***
Ya’kub bin Yusuf bin Ma’gal bin Sinan An-Naisaburi. Dia adalah orang yang memiliki tulisan tangan yang sangat indah. Dia sudah menyalin banyak kitab dan mendapat manfaat darinya. Dia wafat pada bulan Muharram 277 H.
Al-Qurthubi Al-Muntashir Billah, penguasa Andalusia, mengarang kitab dengan judul Syu’ara’ Bani Umayyah. Dia menyempurnakan karangannya itu hingga akhirnya menjadi satu jilid kitab. (dalam Tarikh Al-Islam).
Al-Khathib menyebutkan bahwa dirinya menerima warisan sebesar 700 dinar. Semua uang itu, ia belanjakan untuk membeli kertas dalam sekali transaksi.
Sesudah itu, dalam waktu yang sangat lama, dia hanya berdiam di rumah untuk menulis hadits. Semoga Allah merahmatinya.
Harun An-Nahwi bercerita:
"Abu Ali Al-Qali tiba di Andalusia pada tahun 330 H. Dia hendak menemui Abdurrahman An-Nashir Lidinillah. Dia menghormatinya dan mengarang untuk puteranya Al-Hakam beberapa buah karangan. Dia menyebarluaskan ilmunya di sana. Dia mencari Kitab Sibawaih pada Ibnu Dastawaih Al-Farisi. Dalam pandangan Nahwu, dia cenderung pada pemikiran ulama Nahwu Bashrah.
Dia mendiktekan banyak hal dari hafalannya seperti kitab An-Nawadir dan Al-Amali yang melambungkan namanya serta kitab Al-Maqshur Wa Al-Mamdud. Di samping itu, dia juga mempunyai karangan dengan judul-judul Al-Ibil, Al-Khail dan Al-Bari' Fi Al-Lughah kurang lebih setebal 5000 halaman. Tidak ada orang seperti dirinya yang mengarang kitab dengan penguasaan materi dan informasi melimpah tetapi sayangnya tidak disempurnakan. Dia bersumpah setia pada Abdul Malik bin Marwan. ItulaH kenapa dia secara sengaja merapat ke raja-raja Andalusia yang notabenenya dari keturunan Bani Umayyah. Dia begitu dihormati oleh mereka. Karya-karyanya sangat detail dan meyakinkan.” (dalam Tarikh al-Islam).
Adalah Al-Qali, lengkapnya Ismail ibn Qasim bin Aidhun Abu Ali (901-967), menguasai hampir seluruh aspek kajian bahasa. Dari gramatika, sastra, tata bahasa, serta dua ilmu baru, yakni filologi dan leksikografi atau teknik penyusunan kamus. Bahkan, namanya sejajar dengan nama besar ilmuwan lainnya dalam bidang tersebut.
Mengarang untuk Keturunan Bani Umayyah yang jadi Raja-Raja Andalusia
Abu Ali At-Tanukhi berkata, “Pengarang Kitab Al-Aghani, Abu Al-Faraj Al-Isfahani hafal banyak syair, lagu, berita, riwayat dan nasab dimana aku tidak menjumpai orang yang menghafal semua itu seperti dirinya,” katanya.
Ia adalah seorang ilmuan besar di masanya, dari beragam cabang ilmu seperti bahasa, fikih, sejarah, sejarah Rasulullah saw, lughat dan ahli otak dan anatomi tubuh.
“Selain itu, dia juga hafal ilmu-ilmu yang lain. Seperti ilmu Lughah, ilmu Nahwu, ilmu perang dan IImu sejarah. Dia mempunyai banyak sekali karangan. Dia berhasil menyusun banyak kitab tentang Bani Umayyah yang menjadi raja-raja Andalusia. Dia membawa karyanya itu ke hadapan mereka secara diam-diam dan mendapatkan imbalan besar secara rahasia,” kata Abu Ali At-Tanukhi.
Di antara karangannya adalah Nasab Bani Abdi Syams, Ayyam Al-Arab Alfun Wa Sittu Miati Yaumin, Jamharah An-Nisa, Nasab Bani Syabiban dan Nasab Al-Mahalibah karena dia secara khusus menemani Menteri Al-Muhallabi.
Dia mempunyai banyak karya berisi sanjungan untuknya. Selain itu, dia mempunyai kitab berjudul AkhbarAsy-Syawari, Magatil Ath-Thalibiyin dan Az-Ziyarat. “Ini mencengangkan karena sejatinya dia sendiri adalah pengikut Bani Marwan,” kata Abu Ali At-Tanukhi.
Abu Ja’far bin Abu As-Sirri berkata; “Aku bertemu Ibnu Uqdah di Kufah. Pada suatu hari, aku memohon kepadanya agar bersedia mengulangi faut.” Maksudnya, materi pelajaran hadits yang aku ketinggalan dan belum mendengarnya.
Meletakkan pena di tinta, berdoa, kemudian wafat
Al-Qadhi Abu Zur’ah Rauh Sibth Ibnu As-Sinni, berkata, “Aku mendengar pamanku Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Ishaq mengatakan, “Ayahku-semoga Allah merahmatinya-– menulis sebuah hadits lalu meletakkan pena di tabung tinta. Kemudian dia mengangkat kedua tangan berdoa kepada Allah. Sesudah itu dia wafat. Peristiwa ini terjadi pada akhir tahun 364 H. Dia berusia 80-an tahun.* (dalam Siyar ‘alam an-Nubala)