ENTAH ini hari keberapa, memori seorang Abu Hurairah tak lagi mampu mengingatnya, kapan terakhir kali lidahnya mencicipi sejumput makanan. Yang pasti perutnya benar-benar terasa perih kala itu. Berbagai cara sudah Abu Hurairah lakukan untuk mengakali keadaannya itu.
“Adakalanya saya membenamkan perutku yang lapar itu ke tanah. Sedang di lain waktu, aku mengandalkan batu yang kulilit melingkari perutku yang menjerit, ” ujar Abu Hurairah menutur hidupnya yang susah di lingkungan Ahlu ash-Shuffah, Madinah.
Saat itu sepertinya Abu Hurairah tak lagi punya solusi lain. Kini ia sengaja menampakkan dirinya di sudut jalan Kota Madinah. Seraya berharap ada sahabat yang menyapa sekaligus menanyakan kabarnya. Syukur-syukur ada yang berkenan menjamunya di rumah.
Bak gayung bersambut, dalam jenak lamunannya, tiba-tiba Nabi Muhammad muncul berjalan dan menyapa Abu Hurairah. “Ya Aba Hirr, ikutilah aku,” perintah Nabi. “Labbaik ya Rasulullah,” balas Abu Hurairah bersemangat.
“Ternyata Nabi sangat paham kondisi diriku,” batin Abu Hurairah seraya terus mengiringi Nabi menuju rumahnya.
Singkat cerita, setiba di rumah Nabi. Abu Hurairah yang masih menunggu di luar rumah, diminta bergegas pulang dahulu ke markas Ahlu ash-Shuffah. Nabi ingin seluruh rekan Abu Hurairah yang juga segendang sepenarian dalam menanggung rasa lapar, semuanya bisa hadir berkumpul di rumah Nabi. Rupanya Rasulullah memiliki persediaan susu yang didapatnya dari kiriman seorang sahabat yang lain.
“Jika Ahlu ash-Shuffah sudah tiba, tentu saya juga yang disuruh melayani mereka nanti. Jika persediaan Nabi terbatas, lalu apa yang tersisa buatku?” hati kecil Abu Hurairah perlahan mulai meronta dalam diam. “Setidaknya adalah seteguk susu buatku terlebih dahulu sebagai pengembali kekuatanku yang kian lemas ini.”
Kali ini Abu Hurairah benar-benar galau dengan perasaannya.
“Bagaimana kalau ternyata aku sendiri yang tidak kebagian susu nanti? Bukankah kabar gembira ini adalah ‘hasil’ dari usahaku dan menjadi milikku pertama kali?” Sejumlah gulana terus meneror perasaan Abu Hurairah yang kian berkecamuk.
Meski demikian Abu Hurairah tetap saja berlari kecil menuju pelataran Masjid Nabawi. Sebagaimana ia juga tetap semangat melayani kawan-kawannya sesuai perintah Nabi setelah itu. Alhasil, meski berpuluh gelas susu telah ia pergilirkan kepada para sahabat Rasulullah yang papa itu, tetap saja persediaan susu seolah kian meruah di tangan Nabi.
“Kini tiba giliranmu, minumlah!” pinta Nabi kepada Abu Hurairah usai menyelesaikan tugasnya. “Iya, minumlah kembali.” Nabi Muhammad kembali menyuruh Abu Hurairah minum sekali lagi dan seterusnya, hingga ia merasa kekenyangan bersama seluruh penduduk Ahlu ash-Shuffah. Rupanya, Allah telah memberkahi segelas susu tersebut.
Ujian Ketaatan
Hadits di atas diidentifikasi oleh Imam al-Bukhari sebagai hadits shahih. Kisah tentang sepenggal potret kehidupan sosial seorang sahabat kala menjalani titian keimanannya. Ternyata ada masa di mana rasa itu menyeruak tampak. Sekali waktu para sahabatpun merasa bahwa ego itu seolah benar untuk dituruti.
Inilah di antara kemuliaan para sahabat. Mereka mendapat garansi sebagai generasi terbaik sepanjang peradaban manusia, tentu bukan tanpa alasan, apalagi sebatas klaim sepihak dari mereka. Sebab hal itu nyata dari keseharian para sahabat dalam mendemonstrasikan keunggulan iman mereka. Mereka mampu menundukkan godaan nafsu dengan ilmu serta kepatuhan tanpa syarat kepada Nabi.
Empati terhadap Sesama
Kisah Abu Hurairah di atas juga menoreh pelajaran berharga lainnya. Adalah kepedulian terhadap persoalan umat hendaknya menjadi karakter dasar orang beriman. Bagi seorang Muslim, empati tak lain buah manis dari ukhuwah yang produktif. Ia bukanlah sekedar pencitraan semata. Ia juga bukan retorika manis tanpa bukti. Sebab Abu Hurairah sudah merayakan keteladanan itu bersama sahabat-sahabatnya ribuan tahun silam.
Alhasil, di tengah carut marut persoalan bangsa saat ini. Layak jika ada satu jenak di mana setiap diri menanyai nuraninya masing-masing.
Sudah tepatkah cara ia menempatkan nafsu dan ego yang dipunyai?
Pun, bagaimana dengan ukhuwah yang dulu seolah menjadi lagu wajib kala dirinya masih dirundung susah?
Jangan-jangan sikap peduli dan empati terhadap sesama justru lenyap tak berjejak, hanya karena ia sudah asyik dengan kenikmatan yang ditakdirkan sesaat untuk dinikmati di dunia. Sebab faktanya, yang tampak malah ucapan ringan yang keluar dari mulutnya, “Ah, itu bukan urusan saya.”*/Masykur Abu Jaulah