Hidayatullah.com | BETAPA kematian seringkali datang tiba-tiba, tanpa menentukan masa, menyentak yang terlena, mengingatkan bagi yang tak kunjung sedia. Saat kematian tiba;
لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Tak dapat di akhirkan, juga tak kuasa di undurkan.
Betapa banyak yang berlari dari kematian, namun pada akhirnya kematian tetap mendapatinya dalam ketidak siapan.
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh……..…” (QS. An-Nisaa: 78)
Mati sejatinya kenikmatan bagi yang mempersiapkan, jalan para perindu untuk bertemu dengan Tuhan, satu momen yang telah lama dinanti-nantikan. Tapi bagi pelaku kemaksiatan, ia bukanlah jalan pulang, kematian justru menakutkan, tak ada bekalan dan persiapan, lalu bagaimana mungkin ingin bertemu Tuhan dalam kondisi demikian.
Belajar bagaimana para ulama menutup kematian dengan penuh keindahan. Abu Zur’ah Ar Raziy misalnya bagaimana ia menutup kisahnya yang indah. Kematian menyapa beliau tepat setelah ia membaca sebuah hadits;
من كان آخر كلامه من الدنيا لاإله إلاالله دخل الجنة
Barang siapa yang akhir ucapannya di dunia “laa ilaaha illa llah” maka dia masuk Syurga”.
Bukankah Ibnu Rajab Al hambali yang terkenal itu wafat saat beliau menulis syarah dari Shahih al Bukhary. Beliau wafat tepat saat ia goreskan penanya di bab “Janaaiz” (jenazah).
Siapa yang tak mengenal Ibnu Hajar al Asqalany, dalam kondisi apa beliau menutup usia? Beliau tutup kisah indahnya saat membaca ayat dalam Al-Qur’an;
سلام قولاً من رب الرحيم
Dikatakan kepada mereka para penghuni Syurga : “Salam (keselamatan)”, sebagai ucapan dari Rabb yang Maha Penyayang.
Syeikh Muhammad al Amiin Asy Syinqithy, diwafatkan Allah dengan indah saat menulis sebuah Tafsir Adhwaaul Bayaan. Pena beliau berakhir pada ayat, أولئك حزب الله ألا إن حزب الله هم المفلحون
“Mereka itu adalah golongan Allah, Sungguh hanya golongan Allah yang beruntung..
Syeikh Muhammad Muhtaar asy syinqity, menutup kisahnya tepat setelah mengajarkan ; باب فضل الموت والدفن فى المدينة
(Bab keutamaan wafat dan dimakamkan di madinah) Ibnu Taimiyah yang terkenal itu, ia tutup kisah indahnya dengan membaca ayat,
إن المتقين في جنات ونهر في مقعد صدق عند مليك مقتدر
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Rabb yang berkuasa.”
Menyaksikan betapa indah para ulama menutup usianya maka benarlah sabda Rasullah ﷺ;
يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ
“Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya.” (HR Muslim no 2878)
Berkata Al-Munaawi :
أَيْ يَمُوْتُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ وَيُبْعَثُ عَلَى ذَلِكَ
“Yaitu ia meninggal di atas kehidupan yang biasa ia jalani dan ia dibangkitkan juga di atas hal itu.” (‘At-Taisiir bi Syarh Al-Jaami’ As-Shogiir’ 2/859)
Pemahaman akan kondisi kebangkitanlah yang membuat mereka siap sedia menjamu kematian setiap saat. Karenanya, Muhammad Rasyid Ridha menyambut kematiannya dengan menyelesaikan tafsir surah Yusuf yang berbunyi;
رَبِّ قَدۡ اٰتَیۡتَنِیۡ مِنَ الۡمُلۡکِ وَ عَلَّمۡتَنِیۡ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ ۚ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۟ اَنۡتَ وَلِیّٖ فِی الدُّنۡیَا وَ الۡاٰخِرَۃِ ۚ تَوَفَّنِیۡ مُسۡلِمًا وَّ اَلۡحِقۡنِیۡ بِالصّٰلِحِیۡنَ
“Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang shaleh.”
Kematian mengintai setiap orang, tak pedulia ia sedia atau tidak. Apa pun kondisinya kematian tetap mendatanginya, maka ulama salaf pun berkata; كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا
“Cukuplah kematian sebagai pemberi nasehat.”*/Naser Muhammad