Oleh: Abdullah al-Mustofa
Allah Ta’alaberfirman:
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةًيَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ
Dan Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan kepada Kami mereka selalu beribadah,(QS. Al-Anbiya’ [21]:73)
Ayat tersebut di atas berada di antara kumpulan ayat yang menyebutkan nama beberapa nabi dan rasul, yaitu: Musa, Harun, Ibrahim, Luth, Ishaq, Ya’qub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Ismail, Idris, Dzulkifli, Yunus, Zakaria, Isa dan Muhammad.
Selain menyebutkan nama mereka kumpulan ayat tersebut juga menyebutkan karakteristik mereka.Di antara karakteristik merekayang disebutkan dalam kumpulan ayat tersebut adalah adil dalam memberikan keputusan, selalu bertasbih, sabar, sholeh, bersegera dalam perbuatan baik, berdo’a kepada Allah dengan harap dan cemas, dan khusyu’ kepada Allah.
Tentang karakteristik mereka ini ayat yang dikutip di awal tulisan ini (QS. Al-Anbiyaa’ [21]: 73) memberikan informasi tambahan, yakni memberi petunjuk, mengerjakan kebajikan, mendirikan sholat, menunaikan zakat, hanya kepada Allah mereka selalu beribadah.
Dalam ayat tersebut karakteristik pertama yang disebutkan adalah yahdunabi amrina (mereka memberi petunjuk dengan perintah Kami). Redaksi yahdunabi amrina ini juga disebutkan di dalam ayat lain yang juga berkaitan dengan kepemimpinan, yakni QS. As-Sajdah [32]: 24.
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآَيَاتِنَا يُوقِنُونَ
Dan Kami jadikan di antara merekaitu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketikamerekasabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.
Ketika menafsirkan kalimat yahdunabi amrina dalam kedua ayat tersebut Ibnu Katsir mengatakan, “Mereka menyeru manusia untuk menyembah Allah dengan seizin-Nya. Memberi petunjuk kepada kebenaran dengan perintah Allah, menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada kebajikan, serta mencegah kemungkaran”
Intinya,yahdunabi amrina berarti menyeru atau mengajak keSurga. Karakteristik yahdunabi amrina para nabi dan rasul ini adalah lawan dari karakteristik Fir’aun yang menyeru atau mengajak rakyatnya ke Neraka.
فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ
“Maka Kami hukumlah Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka kedalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim.(QS Al-Qoshosh [28]: 40)
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يُنْصَرُونَ
“Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (QS Al-Qoshosh [28]: 41)
Pelajaran
Orang-orang beriman di zaman para nabi dan rasul dipimpin oleh nabi dan rasul. Para nabi dan rasul menyeru dan mengajak kaumnya ke surge dalam arti membimbing dan memberipetunjuk kepada kaumnya supaya menyembah Allah, mengerjakan kebajikan dan meninggalkan kemungkaran.
Dari sejarahh idup para nabi dan rasul yang mengajak kaumnya ke surge serta dari sejarah hidup para penguasa kafir yang mengajak rakyatnya ke Neraka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa pemimpin memiliki peran penting dalam menentukan nasib masyarakat yang dipimpinnya di akhirat kelak (lihat QS. 11: 97 s/d 99, 17: 71, 33: 64 s/d68, 37: 20 s/d 34).
Mengingat peran penting pemimpin dalam menentukan nasib rakyatnya di akhirat maka kita setiap elemen umat Islam di manapun wajib mengupayakan muncul dan terpilihnya para pemimpin Muslim yang mau dan mampu meneladani para nabi dan rasul,serta secara umum memenuhi criteria dan mengikuti panduan yang telah digariskan oleh Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijtihad ulama’. Para pemimpin yang demikian insya Allah mau dan mampu membuat masyarakatnya mendapatkan ridho dan hasanah dari Allah Ta’ala di dunia dan akhirat. Wallahua’lam.*
Penulis anggota Majelis Intelektuan dan Ulama Muda (MIUMI) Jawa Timur