Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Dicari! Sumber Kepercayaan Umat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 November 2013 08:27 8:27 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 November 2013 08:27
Bagikan
Bagikan

Oleh: Eka Sugeng Ariadi

BELUM lama ini Direktur Indonesia Research Centre Jakarta, Agus Sudibyo, dalam harian Kompas (25/09/2013), melaporkan bahwa hasil hitung cepat beberapa lembaga survei menunjukkan angka golongan putih (golput) dalam Pilkada Jawa Timur yang baru berakhir: 40 persen.  Kenyataan ini kian menegaskan kegelisahan tentang rendahnya minat masyarakat terhadap suksesi kepemimpinan.

Kasus di  Jawa Timur tak sendirian. Pilkada Jawa Tengah beberapa bulan lalu menghasilkan golput 48 persen. Pilkada Jawa Barat Februari 2013 dimenangi pemilih golput dengan 36 persen. Yang paling fenomenal tentu saja Pilkada Sumatera Utara: golput 60 persen.

Kenapa pemenangnya adalah golput?

Kesimpulannya warga Jawa Timur memilih atau terpaksa menjadi golput bisa karena apatis terhadap politik atau karena alasan teknis dan alasan politis-rasional.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Edelman Trust Barometer 2013, sebuah lembaga survei asing, pun tertarik mengupas fenomena hiruk pikuk jalannya proses demokrasi di negeri ini.

Menurut CEO Edelman Indonesia, Stephen Lock, mengungkapkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah meningkat dari 40 persen pada 2012 menjadi 47 persen pada 2013. Hasil surveinya menyimpulkan sebagian besar responden mempersepsikan pemimpin bisnis dan pemerintahan sebagai orang-orang yang kurang dapat dipercaya dan kurang mampu dalam memecahkan masalah sosial dan membuat keputusan dengan pertimbangan etika dan moral yang tepat. Meski ada peningkatan prosentase, namun kesimpulan hasil survei patut untuk dijadikan evaluasi dan instropeksi diri.

Inilah potret dunia politik, sosial kemasyarakatan, dan kehidupan berbangsa bernegara di negeri kita tercinta, NKRI. Betapa tidak mudahnya menumbuhkan trust (kepercayaan) rakyat terhadap para pemimpin-pemimpinnya.

Begitupun sebaliknya, para calon-calon pemimpin harus kerja ekstra-keras hanya sekedar berebut meraih trust rakyat agar mau memilihnya sebagai seorang pemimpin. Kerja ekstra-keras itu tidak hanya sekedar fisik tapi juga finansial. Sekedar untuk menjadi seorang pemimpin di desa saja, sudah harus menyiapkan uang puluhan juta. Apalagi ingin jadi pemimpin di tingkat lebih tinggi lagi. Sungguh, sumber trust (kepercayaan) di negeri ini sangat mahal harganya. Bila sebuah trust itupun terbeli, hasil akhirnya belum tentu juga membawa kemaslahatan bagi yang mempercayainya sebagai pemimpin. Adakah sumber trust yang lebih murah?

Sumber Kepercayaan Umat

Adalah Muhammad bin Ja’far pernah bercerita, suatu ketika datang rombongan Nasrani Najran menemui Rasulullah  صلى الله عليه و سلم  . “Ya Abalqasim,” kata utusan itu, “Datangkanlah utusanmu ke negeri kami untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang kami hadapi. Kami betul-betul ridha dan yakin terhadap kaum Muslimin.”

Rasulullah  صلى الله عليه و سلم menyanggupinya dan menjanjikan kepada mereka seraya berkata, “Esok hari aku akan mengutus bersama kalian seorang yang benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya.” Rasululah menyebut “amin” (terpercaya) sampai diulanginya tiga kali.

Tak lama kemudian beritapun tersebar di tengah-tengah para sahabat ra. Masing-masing ingin ditunjuk oleh Rasulullah  صلى الله عليه و سلم menjadi utusan. Umar ra mengungkapkan, “Aku benar-benar mengharap agar aku ditunjuk Rasulullah  صلى الله عليه و سلم untuk menduduki jabatan itu. Aku sengaja mengangkat kepalaku agar beliau bisa melihatku dan mengutusku untuk menduduki jabatan yang diamanatkannya.”

Rasul  صلى الله عليه و سلم masih tetap mencari seseorang, sehingga beliau melihat Abu Ubaidah dan berkata, “Wahai Abu Ubaidah, pergilah engkau bersama-sama dengan penduduk Najran. Jalankan hukum-hukum dengan penuh kebenaran terhadap segala apa yang mereka perselisihkan.”

Rasulullah  صلى الله عليه و سلم pernah bersabda yang maksudnya, “Setiap umat mempunyai sumber kepercayaan, sumber kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah.”

Itulah penghargaan ‘bintang mahaputra’ yang diterima oleh Abu Ubaidah dari Rasulullah  صلى الله عليه و سلم. Penghargaan yang tidak diberikan Rasulullah kepada sahabat yang lainnya. Memang kalau dilihat dari kenyataan yang ada Abu Ubaidah layak mendapatkan gelar seperti itu. Sekalipun ia tidak mengharapkannya.

Dari sosok tubuhnya yang tinggi, kurus tapi bersih, tampak disana tersimpan sifat-sifat mulia yang tidak dimiliki orang lain. Jujur, tawadhu’, pemalu itulah di antara sifat yang paling menonjol dari Abu ‘Ubaidah bin Jarrah r.a.

Tapi ini bukan berarti, bahwa Rasulullah  صلى الله عليه و سلم tidak percaya kepada sahabat yang lainnya. Abdullah bin ‘Umar pernah menjelaskan perwatakan Abu Ubaidah ini, “Tiga lelaki Quraish yang paling berseri wajahnya, paling baik akhlaknya, dan paling teguh sifat malunya; Jika mereka berkata kepadamu, mereka tidak berdusta. Jika kamu berkata kepada mereka, mereka tidak akan mendustakannya. Mereka adalah Abu Bakar, Utsman bin ‘Affan dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah.”

Berendah Hati

Begitulah potret nyata dunia ‘perpolitikan’ dan sosial kemasyarakatan yang luar biasa telah dicontohkan oleh Rasulullah  صلى الله عليه و سلم dan para shahabatnya.

Bukankah teladan dari seorang Abu Ubaidah bin al-Jarrah sudah seharusnya menjadi blue print bagi para calon pemimpin dan bagi pemimpin untuk meraih trust rakyat yang dipimpinnya. Persyaratan utama yang dibutuhkan seorang pemimpin adalah jujur, tawadu’ (rendah hati) dan pemalu. Jujur dalam mengemban amanah jabatan. Bila memberikan laporan pertanggungjawaban kepada rakyatnya tidak suka berdusta. Kemudian tawadhu’ (rendah hati) kepada rakyat-rakyatnya, karena pada hakekatnya pemimpin adalah pelayan bagi rakyat. Bukan malah sebaliknya, pemimpin selalu ingin mendapatkan pelayanan yang lebih istimewa. Lalu, malu bila sebagai pemimpin tidak bisa memenuhi janji-janjinya ketika berkampanye. Malu bila sebagai pemimpin tidak lagi amanah dalam kepemimpinannya.

Semoga seluruh pemimpin dan calon pemimpin di negeri ini benar-benar mau berusaha memiliki akhlak mulia, seperti jujur, tawadhu’, malu dan lain sebagainya. Niscaya, menjadi sumber kepercayaan tidak akan mahal, takkan mudah dibeli dan pasti dicari.*

Penulis adalah  Guru Madrasah Aliyah As Sholchah Warungdowo, Pasuruan  Jawa Timur

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:amanahkepercayaanpemimpintawadhu'trustumat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Gereja, Sejarah Kalender Masehi dan Tahun Baru Hijriyah (1)
Tulisan selanjutnya Mendagri Malaysia: Kebangkitan Islam akan Muncul dari Indonesia dan Malaysia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?