Sambungan artikel PERTAMA
Keempat, اسْتِخْفَافٌ بِالدَّمِ (Menyepelekan urusan darah). Berita mengenai pembunuhan, pertumpahan darah sudah menjadi konsumsi publik. Nyawa yang seharusnya menempati posisi yang penting yang seharusnya dipertahankan malah disepelekan dan diremehkan. Di mana-mana banyak terjadi pembunuhun, bahkan sajian berita secara global tak lepas dengan fenomena ini. Padahal di antara hal yang pertama kali diputuskan di akhirat kelak ialah urusan darah. Kita berlindung kepada Allah semoga dijauhkan dari perbuatan tercela tersebut.
Kelima, قَطِيعَةُ الرَّحِمِ (Memutus shilatur rahim). Hal yang kelima ini juga sedemikian menggejala. Banyak orang yang terlalu sibuk dengan urusan duniawai mengabaikan urusan yang sangat penting ini. Sementara yang lain mencukupkan diri hanya asyik dalam dunia digital sehingga kurang memerhatikan hubungan dengan kerabat dan tetangga sekitar. Bahkan yang lebih parah ialah sampai memutus hubungan kekerabatan. Padahal Rasulullah bersabda dalam haditsnya:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ (رواه الحاكم).
“Tidak akan masuk surga orang yang memutus shilatur rahim.” (HR. Hakim).
Baca: Tanda Akhir Zaman: Orang Buruk Dimuliakan, Orang Shalih Dihinakan
Karena itulah, menyikapi fenomena akhir zaman ini, Umat Islam harus benar-benar bisa menjaga dengan baik hubungan kerabat, shilatur rahim supaya kita dilapangkan rejekinyan Allah dan dipanjangkan umur kita sebagaimana sabda nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ رِزْقُهُ ، أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan pengaruhnya, maka bershilatur rahimlah.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainya).
Keenam, وَنَشْوٌ يَتَّخِذُونَ الْقُرْآنَ مَزَامِيرَ، يُقَدِّمُونَ أَحَدُهُمْ لِيُغَنِّيَهُمْ وَإِنْ كَانَ أَقَلُّهُمْ فِقْهًا
Yaitu (sekumpulan orang) yang menjadikan al-Qur`an seperti seruling, mereka mendahulukan (orang yang enak suaranya untuk membaca al-Qur`an) meskipun pemahamannya sangat kurang).
Hal yang kelima sebagai penutup ini pada intinya secara umum al-Qur`an sudah terlepas dari tujuan semula diturunkan. Seharusnya al-Qur`an dipikirkan, direnungkan dan diamalkan malah hanya sekedar dilagu-lagukan dan dinikmati alunan nadanya yang merdu. Bahkan yang cukup ironis terkadang-kalau tidak kebanyakan- malah dilomba-lombakan siapa yang terbaik dalam membaca al-Qur`an maka akan memenangkan perlombaan. Hal ini sangat jauh dan tak sejalan dengan tujuan Allah menurunkan al-Qur`an untuk dijadikan sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi kehidupan manusia.
Bila tanda-tanda tersebut sudah ditemukan dan dialami, berarti kita sudah mendekati kiamat yang mana akan banyak timbul berbagai fitnah dan cobaan. Kita tidak akan bisa lari dari semua itu, yang kita bisa hanyalah mengamalkan pesan nabi dalam salah satu riwayat: بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ (Bersegera/lekas beramal salehlih). Yang dimaksud dengan amal shalih ialah setiap perkataan dan perbuatan yang dianjurkan syari`at, sudah diperhitungkan baik-buruknya dan ditujukan hanya untuk menggapai ridha Allah.
Hadits di atas memberikan beberapa solusi untuk menghadapi fenomena akhir zaman: Pertama, bersegera melakukan amal shalih. Kedua, bekerja sesuai dengan bidangnya. Ketiga, mengangkat pemimpin yang benar-benar layak dan ahli. Keempat, membela dan mendukung penguasa yang menjunjung dan menegakkan kebenaran. Kelima, selalu menegakkan hukum walau pahit terasa. Keenam, menciptakan rasa aman sehingga tidak terjadi pertumpahan darah. Ketujuh, setia menjalin shilatur rahim yang harmonis. Kedelapan, merenungi, memahami, memikirkan dan mengamalkan isi al-Qur`an bukan hanya melagu-lagukannya. Wallahu a’lam.*/Mahmud Budi Setiawan