Oleh: Imam Nawawi
SEJAK kehadirannya, Islam telah datang membawa banyak perobahan kepada manusia. Sebagian dari mereka yang tidak mendapat hidayah, hanya mampu kagum dan heran, bagaimana Islam yang dari lahir sampai dalam putaran sejarah selalu menghadirkan pesona-pesona yang akal dan nurani manusia dibuat kagum dan tak pernah mampu melupakannya.
Hugh Kennedy menguraikan dalam pengantar bukunya The Great Arab Conquest How The Spread of Islam Changed the World We Live In, bahwa pada 680-an, seorang pendeta bernama John Bar Penkaye sedang mengerjakan ringkasan tentang sejarah dunia di biaranya yang jauh terpencil di tepi Sungai Tigris yang mengalir deras, di pegunungan yang kini disebut Turki Tenggara.
Ketika sampai pada titik untuk menulis sejarah zamannya sendiri, ia tertunduk merenung ihhwalpenaklukan bangsa Arab di Timur Tengah, yang asih tersimpan dalam ingatan.
Kala merenungkan peristiwa dramatis ini, perasaannya dipenuhi teka-teki, “Bagaimana bisa,” ia bertanya, “orang-orang tanpa senjata, berkuda tanpa baju baja atau perisai, berhasil memenangkan pertempuran… dan meruntuhkan semangat kebanggaan diri orang-orang Persia?”
Ia semakin terenyak, “hanya dalam periode yang singkat seluruh dunia diambil alih orang-orang Arab’ mereka menguasai seluruh kota ang dikelilingi benteng, mengambil alih pengawasan dari laut ke laut, dan dari timur ke barat – Mesir, dari Crete ke Cappadcia, dari Yaman ke Gerbang Alan (di Pegunungan Caucasus), bangsa Armenia, Suriah, Persia, Byzantium dan Mesir serta seluruh wilayah di sekitarnya: ‘tangan mereka ada di mana-mana’ kata nabi.”
Masih ada bahkan mungkin banyak kekaguman-kekaguman serupa atas sejarah Islam. Akan tetapi, semua itu belum menjelma di masa kini, dimana kita sama-sama memiliki kesempatan sama untuk mengembalikan kemuliaan Islam di masa hidup atau di zaman kita ini.
Satu sisi kita boleh bangga, dan boleh sesekali melihat untuk menguatkan semangat perjuangan sebagai seorang Muslim. Namun satu sisi kita juga dituntut mampu menarik semangat ajaran Islam itu dalam ragam laku dan sisi kehidupan, sebab Islam bukan sebatas objek kajian, tetapi sesungguhnya, Islam adalah ruh dari kehidupan itu sendiri.
Dr Zakir Naik pernah menjelaskan bahwa dari sisi effort pemuka-pemuka agama di luar Islam telah melakukan persiapan rapi dan baik dengan sedemikian rupa, bahkan jumlah ahli yang mereka siapkan untuk terjun ke gelanggang mencapai angka 1 juta jiwa. Sedangkan Islam, belum sedemikian kuatnya. Zakir Naik menegaskan, akan sangat mudah bagi Allah mematikan kita dan menggantikan kita dengan 1 juta ahli Islam. Akan tetapi, Allah tidak lakukan hal itu, karena memberi kesempatan kepada kita untuk menunjukkan kiprah dan kontribusi terbaik bagi Islam.
Inilah tantangan generasi Muslim saat ini, bagaimana menata kembali kehidupan kolektif untuk sampai pada apa yang dahulu pernah membuat dunia tercengang akan keindahan dan pesona ajaran Islam.
Buya Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam Pra-Kenabian hingga Islam di Nusantara menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mampu melahirkan perubahan besar dan cepat, karena yang pertama kali diubah adalah manusianya dengan revolusi jiwa, sehingga terjadilah revolusi peradaban.
Semua bermula dari penanaman tauhid yang kuat di dalam setiap jiwa kaum Muslimin. Kita tidak boleh melupakan fase paling awal dalam sejarah lahir dan berkembangnya Islam di Makkah ini. Umat Islam dianiaya, diusir bahkan ada yang dibunuh, tetapi mereka tidak berputus asa dan tetap yakin bahwa Allah akan memenangkan Islam dengan sempurna.
Fase tersebut adalah fase yang sangat sulit, berat, tetapi ini adalah awal untuk Islam bisa take off dengan baik dan sempurnah. Dan, dari fase yang penuh heroisme itulah tauhid menjelma dalam kehidupan dengan lahirnya persatuan kata, kesatuan tujuan, kesatuan hati dan kesatuan tenaga yang sangat sulit dipecahkan oleh kekuatan kaum kafir.
Dengan kata lain, apabila kita ingin mengulang kejayaan Islam hal pertama dan utama yang harus dibangun adalah perasaan sebagai saudara yang saling menjaga, melindungi dan menguatkan, sehingga tidak ada kekuatan apapun yang mampu menembus kekuatan barisan kaum Muslimin. Dan, untuk sampai pada tahap tersebut, pemurnian tauhid, pengesampingan egosentris harus benar-benar tuntas dilakukan oleh setiap kaum Muslimin di negeri ini.
Modal untuk hal tersebut sudah ada, Aksi Bela Islam adalah puncak tahap pertama yang sangat mengagumkan, dimana kesadaran umat Islam sebagai sama-sama hamba Allah dan harus bersatu membela Islam telah diwujudkan.
Hanya saja, itu adalah modal yang harus dikelola untuk dikembangkan menjadikan Islam superior dalam kancah kehidupan modern. Dan, beruntung, beberapa pihak menyalurkan modal tersebut melalui jalur ekonomi, dan terbukti ampuh ketika disalurkan pula ke ranah politik. Kemenangan Anies – Sandi adalah kemenangan kesadaran umat Islam akan pentingnya politik dalam Islam sebagai wujud dari komitmen sebagai Muslim.
Namun, sekali lagi itu semua adalah modal dan baru tahap permulaan. Dibutuhkan effort lebih keras (mujahadah) untuk menjadikan diri kita lebih siap bergerak, bekerja dan berkarya untuk kejayaan Islam, bukan lagi atas nama Ilam yang hakikatnya untuk membangun diri dan kelompok sendiri.
Sejauh hal ini menjadi sistem kesadaran umat Islam, niscaya cepat atau lambat, Islam akan menjadi gelombang baru, gelombang yang akan mendatangkan perubahan, yang untuk Indonesia, memang sudah saatnya umat Islam tampil dengan identitas Islam yang sesungguhnya, yang sejuk, tegas, penuh kasih sayang dan terdepan dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Setidaknya kita harus malu dengan apa yang telah dipersembahkan oleh leluhur kita di negeri ini, mereka telah memberikan hasil perjuangannya berupa Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dengan utuh dan tugas kitalah menjadikan NKRI maju dan berpengaruh di tataran global, terlebih dunia secara umum juga dilanda krisis peradaban yang sangat luar biasa.
Jika Islam pernah begitu mempesona dalam tataran sejarah, mengubah banyak bangsa dengan sedemikian mengagumkan, dari Timur Tengah (Arab) hingga Barat (Andalusia dan Turki) juga sudah menorehkan tinta emasnya, apakah mustahil, jika zaman ini dan kedepan, umat Islam Indonesia mendapat kepercayaan memegang pucuk kendali kemuliaan dunia di bawah bendera Islam?
Tentu bukan hal yang mustahil sekalipun tidak bisa dipastikan. Tetapi, seperti apa yang ditegaskan oleh KH Abdullah Said, pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah, bahwa jika perangkat untuk kita mendapat pertolongan Allah telah benar-benar disiapkan, adalah tidak mungkin Allah tidak memberikan pertolongannya kepada kita.
Bersatulah wahai kaum Muslimin agar berkibar panji Islam di seluruh penjuru negeri, menerangi seluruh kehidupan umat manusia kembali, seperti dahulu pernah terjadi dan memberi bukti. Wallahu a’lam.*
Jika ingin mengulang kejayaan Islam, kita harus memulai saling menguatkan dan bersatu