Rahmat Allah Subhanahu wata’ala selalu lebih luas dari murkanya (HR. Bukhari, Muslim). Karenanya, setiap muslim tidak seharusnya pesimis terhadap kebaikan seseorang, betapa pun kerasnya dia. Al-kisah, Amir bin Abi Rabi’ah Radhiyallahu ‘anhu bersama Istrinya, Laila binti Abi Hatsmah hendak hijrah ke negeri Habasyah. Secara tak sengaja, Laila berpapasan dengan Umar bin Khattab.
Gayung bersambut pun berlangsung antara keduanya. Sampai Umar mengucapkan, “Semoga Allah menyertai kalian.” Hati kecilnya, sebagai seorang wanita meresakan kelembutan hati dari orang yang selama ini sangat keras dalam memusuhi Islam. Diceritakanlah kelembutan hati itu kepada suaminya, Amir bin Abi Rabi’ah. Ibu dari Abdullah ini optimis akan keislaman Umar di masa mendatang.
Dengan nada pesimis, sang suami segera menepis anggapsn istrinya, “Orang semacam itu tidak akan pernah masuk Islam, hingga keledai Khattab masuk Islam.” (Shahih al-Sirah al-Nabawiyyah, Muhammad bin Rizqi bin Tharuni al-Sulami. Jilid II. Hal. 141, 142). Mungkin dengan bahasa sekarang: orang sebejat dan sebiadab itu permusuhannya pada Islam, bagaimana mungkin akan masuk Islam.
Baca: Antusias pada Kebaikan
Namun, takdir Allah berkata lain. Rupanya kepekaan sang istri jauh lebih akurat dari pada sang suami. Pada tahun keenam kenabian, akhirnya putra Khattab tersebut masuk Islam. Peristiwa ini memberikan pelajaran berharga. Setiap orang, betapa pun keras dan nakalnya seseorang, masih ada peluang untuk mendapat baik dan mendapat hidayah. Di sisi lain, orang yang terlihat keras dari sikap dan perilakunya, bisa jadi memiliki kelembutan-kelembutan yang sering kali tidak diketahui oleh kebanyakan orang.
Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu yang dikenal keras, tegas, ditakuti istri nabi, bahkan setan, ternyata pada perjalanan hidupnya juga menampakkan kelembutan. Konon, kelembutan pula yang mengantarkannya memeluk Islam melalui tangan adiknya. Bahkan, sewaktu menjadi Khalifah, kasih sayang dan kelembutan hatinya begitu teruji.
Dikisahkan, Bapak Hafshah ini rela jalan malam hari untuk memeriksa kondisi rakyatnya yang kesusahan. Tak tanggung-tanggung, terkadang beliau sendiri mengangkat makanan dari Baitul Mal menuju keluarga yang kelaparan. Sebagai, seorang suami, ia juga berlaku lemah lembut di hadapan istrinya. Bahkan diam ketika dimarahi istrinya (Menikah Untuk Bahagia, Gus Arifin, 128)
Selain kisah ini, bisa juga diangkat kisah Bung Tomo. Orang kalau melihatnya dari isi pidatonya yang berapi-api, pasti akan menimbulkan kesan bahwa beliau keras orangnya. Padahal, menurut penuturan K’tut Tantri, wanita Amerika yang bergabung dengan para pejuang RI, beliau dinilai baik hati dan penuh humor. (Majalah Tempo, 9-15 November 2015, Edisi Khusus Hairan Pahlawan, hal.12). Bahkan menurut pengakuan istrinya, Sulistina, beliau adalah sosok yang romantis dan puitis. (Bung Tomo suamiku: biar rakyat yang menilai kepahlawananmu, Sulistina, 131).
Di dunia internasional, tokoh semacam Saddam Husein dan Adolf Hitler yang dikenal sebagai tokoh yang garang dan keras, rupanya memiliki sisi lembut. Adolf Hitler dia punya hobi menggambar kartun Disney. Sementara itu, Saddam Husein, kegemarannya ialah menulis novel romantis. (88 Cara Inspiratif Berburu Ide Untuk Blog, Jubilee Enterprise, hal. 156). Maka sekali lagi, jangan berhenti menilai seseorang dari watak, sikap keras atau hal lain yang sifatnya permukaan.
Oleh karena itu, kita harus lebih hati-hati dalam menilai seseorang. Perlu disiapkan pandangan berlipat, pengelihatan rangkap, sebelum menilai seseorang. Tidak berhenti pada yang wadak, serta tetap optimis bahwa setiap orang yang terlihat keras secara permukaan, bisa jadi memiliki kelembuatan, kebaikan yang jarang diketahui orang.
Di samping itu, yang lebih penting, setiap orang juga memiliki peluang untuk menjadi lebih baik. Itu telah terbukti dalam kehidupan sahabat sekaliber Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu.*/Mahmud Budi Setiawan