MANUSIA berdasarkan watak aslinya, selalu berkeluh kesah. Namun, setelah dia mengetahui keutamaan bersabar, pahala, fungsi, dan kedudukannya dalam agama, tentu dia akan memutuskan bahwa tiada suatu kejadian atau suatu sikap pun dalam kehidupannya, melainkan dia akan melaluinya dengan kesabaran, berjuang melawan hawa nafsunya untuk menanggulanginya, dan memaksakan dirinya untuk bersikap tegar terhadapnya hingga dirinya menjadi orang yang penyabar.
Rasulullah telah menerangkan bahwa sabar adalah penerangan, sebagaimana yang disebutkan dalam hadist riwayat Imam Muslim yang menyatakan bahwa Nabi pernah bersabda:
Shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, sabar adalah penerangan, dan Al-Qur’an adakalanya menjadi hujjah yang bermanfaat bagimu atau hujjah yang berbalik menghantam dirimu. (HR Muslim dalam Ad-Dimyathi)
Ketika Nabi bersua dengan seorang wanita yang sedang menangis berat di dekat sebuah kuburan yang baru, Nabi bermaksud hendak menasihatinya, beliau bersabda kepadanya, “Bertakwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah!”
Perempuan itu menjawab, “Menyingkirlah dariku karena sesungguhnya engkau belum pernah tertimpa musibah seperti yang menimpa diriku!” Perempuan itu mengatakan demikian karena dia tidak mengetahui bahwa yang mengatakan demikian adalah Nabi sebab dia tidak menoleh.
Setelah mendengar jawaban wanita itu, beliau tidak bermaksud mendebatnya dalam kondisi seperti itu. Dan, sikap seperti inilah yang dibenarkan bagi seorang dai dalam keadaan seperti itu. Selanjutnya, beliau berlalu meninggalkannya. Setelah itu, dikatakan kepada wanita tersebut bahwa sesungguhnya orang yang mengatakan demikian kepadanya tadi adalah Nabi Muhammad.
Setelah wanita itu mengetahuinya, ia hampir saja pingsan mendengarnya. Sebab, jawabannya tadi sangat kasar kepada Nabi. Lalu, dengan langkah bergegas, dia datang menghadap Nabi untuk meminta maaf. Ternyata, di depan pintu rumah Nabi tidak terdapat penjaga pintu atau pegawai karena pola hidupnya yang begitu sederhana lagi rendah hati. Wanita itu langsung meminta maaf dengan mengatakan, “Maaf, saya tidak mengetahui bahwa yang berkata demikian adalah engkau.”
Maka, Nabi bersabda: Sesungguhnya sabar itu hanyalah saat pertama kali musibah datang menimpa diri. (HR Bukhari).
Ketika Abu Salamah meninggal dunia, apakah yang dikatakan oleh istrinya, Ummu Salamah, yang begitu mencintai ia? Ternyata, apa yang dikatakannya adalah seperti yang pernah diajarkan oleh Nabi kepadanya pada masa sebelumnya, yaitu:
Sesungguhnya, kami hanyalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nyalah kita bakal dikembalikan. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah kepadaku gantinya dengan yang lebih baik daripadanya. (HR Muslim).
Setelah suaminya meninggal dunia dan Ummu Salamah mengatakan ucapan tersebut, lalu dia berkata, “Siapakah di kalangan kaum muslimin yang lebih baik daripada Abu Salamah?” Ia mengatakan demikian setelah melihat dan merasakan sendiri kebaikan yang diperoleh dari suami tercintanya, Abu Salamah. Karena dia seorang wanita mukmin, dia pun mengatakan apa yang telah dipelajarinya dari Nabi. Selanjutnya, Ummu Salamah berkata, “Maka, Allah pun memberikan gantinya kepadaku dengan Rasulullah.” Setelah meninggalnya Abu Salamah, Rasulullah datang melamarnya dan menikahinya.
Dalam ajaran Rasulullah, apabila seorang hamba bersabar saat kematian anaknya, dia akan mendapatkan pahala seperti yang disebutkan oleh Nabi dalam hadist berikut:
Apabila meninggal dunia anak seorang hamba, Allah berfirman kepada para malaikat-Nya, “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku. ” Mereka menjawab, “Benar!” Allah berfirman, “Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya. “Mereka menjawab, “Benar!” Allah berfirman, ‘Apakah yang telah dikatakan oleh hamba-Ku?” Mereka menjawab, “Dia memuji Engkau dan mengucapkan istirja (Inna lillahi wa inna ilaihi rodji’un).” Allah berfirman, ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku ini sebuah gedung di dalam surga dan berikan nama Gedung Pujian!” (HR Turmudzi).
Tidaklah sekali-kali seorang mukmin ditinggal mati oleh orang kesayangannya dari kalangan penduduk bumi, lalu dia bersabar dan mengharapkan pahala Allah atas kesabarannya, melainkan hanya surgalah sebagai pahalanya.
Demikianlah manusia itu diuji menurut kadar kekuatan agama dan kemampuan sabarnya. Dalam sebuah hadist disebutkan:
Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang ini kepada orang-orang yang di bawah mereka, dan di bawahnya lagi, (demikianlah seterusnya). Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Jika dia memiliki keteguhan dalam agamanya dan memiliki kesabaran yang kuat, ujiannya diperberat agar pahalanya makin bertambah. (HR Turmudzi dan dinilai hasan oleh Al-Albani)
Pada hari kiamat nanti, orang-orang yang hidup sehat merasa iri kepada orang-orang yang mengalami cobaan, saat mereka menerima pahala yang dibagikan kepada mereka sebab kesabaran mereka selama di dunia sehingga orang-orang yang sehat itu berharap, seandainya saja ketika di dunia, kulit mereka dicabuti dengan alat-alat pencabut.
Dari berbagai hadist Rasulullah, tampak bahwa kesabaran itu bertingkat-tingkat. Beliau membagi kesabaran atas tiga tingkatan, yaitu:
1. Kesabaran dalam menghadapi musibah;
2. Kesabaran dalam mematuhi perintah Allah;
3. Kesabaran dalam menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan maksiat.
Kesabaran pertama merupakan kesabaran terendah, kesabaran tingkat kedua adalah kesabaran tingkat pertengahan, dan kesabaran ketiga merupakan kesabaran tingkat tinggi. (HR Ibnu Abi Ad-Dunya). Pada kesabaran yang ketiga itulah, terdapat janji Allah bahwa Allah akan membalas orang yang sabar dengan pahala yang tiada terkira (Al-Qashash: 54 dan Az-Zumar: 10).*/Muhammad Sholikhin, dari bukunya The Power of Sabar. [Tulisan selanjutnya]