Oleh: Zahirul Haq
Hidayatullah.com | ULAMA selain berkewajiban menyebarkan ilmu yang bermanfaat bersumber dari Allah dan Rasul-Nya kepada masyarakat, juga berkewajiban menjaga moralitas ummat dan umara (penguasa). Amar makruf nahi munkar adalah fungsi utama setiap ulama.
Adalah Sa’id bin Jubair (46-95 H), ulama tabiin murid kesayangan para sahabat Nabi seperti Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mughaffal, Abdullah bin Umar, Adi bin Hatim, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah, Abu Mas’ud al-Badri, Abdullah bin Zubair RA dan isteri Nabi Aisyah RA dll, ulama generasi awal yang terdidik dalam misykat nubuwah itu. (Lihat Siyar A’lam an-Nubala, vol.4, hlm.322).
Saat diinterogasi ia sempat dipaksa menjawab soal: Apakah Ali bin Abi Thalib masuk neraka? “JIKA engkau telah masuk ke dalam neraka, maka engkau akan tahu siapa saja yang berada di dalamnya dan pertanyaanmu akan terjawab,” jawaban tegas dan mendalam itu diucapkan Sa’id bin Jubair atas pertanyaan pemimpin lalim Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi.
Ia tak segan menghilangkan nyawa rakyatnya. Termasuk nyawa para ulama. Sedikit saja perbedaan pendapat, akan membuat mereka “diciduk” dan tinggal nama.
Kisah syahidnya Sa’id bin Jubair di tangan pemimpin lalim itu sangat masyhur.
Saat ditangkap di kampungnya dan hendak dibawa ke istana oleh prajurit kerajaan, rombongan ini terpaksa bermalam di sebuah gereja di pinggir hutan. Mereka tak berani melintasi, karena dari hutan itu ada singa yang selalu muncul di malam hari.
Sa’id bin Jubair tidak bersedia masuk ke dalam gereja. Ia memilih menghabiskan malam di luar bangunan. Kaki dan tangannya diikat pada sebuah pohon. Dan benar saja, saat gelap menyelimuti bumi, singa itu muncul mencari mangsa.
Para prajurit sudah menduga Sa’id bin Jubair akan diterkam singa. Alangkah terkejutnya mereka saat mendapati singa itu duduk di dekat sang ulama seakan mendengar dzikir yang sedang dideraskannya. Demikian Imam Al-Dzahabi menuturkan. (Lihat kitab SiyarA’lam An-Nubala, vol.4, hlm 329).
“Kehebatan” Sa’id bin Jubair menundukkan singa itu membuat para prajurit gentar. Mereka baru menyadari kalau yang ditangkap itu benar-benar orang sholeh. Namun, mereka tak punya kuasa melawan perintah atasan.
Singkat cerita, akhirnya Sa’id bin Jubair dihadapkan pada Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Sama dengan kejadian bertemu singa buas di tepi hutan, Sa’id bin Jubair sama sekali tidak menunjukkan ketakutannya.
Ia tak gentar menghadapi cercaan pertanyaan yang diajukan sang penguasa. Ia bahkan masih bisa menjawab dengan jawaban menohok seperti dialog di bawah ini.
“Pilihlah cara matimu, Sa’id!” perintah Hajjaj.
“Terserah engkau, hai Hajjaj! Demi Allah, engkau tidak akan membunuhku melainkan Allah pasti akan membunuhmu dengan cara yang sama di akhirat kelak.”
Setelah berucap syahadat, Sa’id melanjutkan perkataannya, “Ambillah dariku sampai engkau bertemu denganku di Yaumil Hisab kelak.”
Lalu Sa’id bin Jubair mengangkat tangan dan berdoa, “Ya Allah! Janganlah engkau memberinya kesempatan untuk membunuh seorang pun setelah aku.” (Lihat kitab Siyar A’lam An-Nubala, vol.4, hlm.331-332, Jamaluddin al-Mizzi dalam Tahdzib al-Kamal fi Asma’ al-Rijal, vol.10, hlm.373, al-Asbahani dalam Siyar al-Salaf al-Shalihin, hlm.787).
Benar saja, Allah kabulkan doa itu. Sa’id bin Jubair syahid di bulan Sya’ban tahun 95 H. Tak sampai satu bulan, Hajjaj bin Yusuf meninggal di tahun yang sama. Ia tak sempat membunuh satu orang pun setelah syahidnya Sa’id bin Jubair.
Menjelang kematiannya, Hajjaj bin Yusuf dikejar-kejar mimpi buruk. Dalam mimpinya, ia diqishosh atas setiap nyawa yang dihilangkannya, kecuali Sa’id bin Jubair, ia diqishosh sebanyak 70 kali untuk satu nyawa Sa’id. Dalam tidur, ia sering berteriak-teriak, “Ada apa Sa’id bin Jubair?!” (Ibnu Khalikan dalam Wafayat al-A’yan, vol.2, hlm.374; al-Yafi’i dalam Mir’atul Jinan wa ‘Ibrat al-Yaqzhan, vol.1, hlm.157).
Hasan al-Basri saat mendengar kabar syahidnya Sa’id bin Jubair segera mengangkat tangan dan berdoa, “Ya Allah, binasakanlah orang fasik yang keterlaluan itu. Demi Allah, seandainya semua yang ada di langit dan bumi bekerja sama untuk membunuh Sa’id, pastilah Allah akan melemparkan mereka semua ke dalam Neraka.”
Saya tak ingin mengatakan ulama harus jadi oposan. Tergantung siapa dan bagaimana dulu sifat penguasa saat ia hidup. Namun, seperti dicatat oleh Khalid Muhammad Khalid, 4 orang Khulafa Rasyidin yang saleh dan dijamin masuk surga oleh Rasulullah ﷺ di semua pidato pelantikannya meminta rakyat mengawasi dan meluruskan kebijakannya jika ada yang menyimpang.
Maka apakah ulama saat ini bisa mangkir dari fungsi amar makruf nahi munkar? Wallahu a’lam bil shawab.*
Penulis adalah seorang santri, peminat masalah sosial dan keagamaan