Oleh: Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Kelahiran Rasul ﷺ merupakan rahmat dari Allah yang dihadiahkan bagi umat manusia. Tidak hanya bagi umat manusia, tapi bagi seluruh makhluk di semesta alam. Sungguh beruntung setiap insan yang mengikuti ajaran beliau dan sungguh celaka bagi mereka yang mengingkarinya.
Sebagai wujud syukur kepada Allah, kita harus benar-benar memanfaatkan rahmat ini dengan menerapkan ajaran rahmah yang berarti kasih sayang, dalam kehidupan kita sehari-hari. Seorang muslim sejati akan selalu berusaha menghadirkan rahmah dan menyerukannya kepada sesama, sebagai bentuk kepatuhan terhadap sabda Baginda Nabi Muhammad ﷺ :
الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمٰنُ تَبَارَكَ وَتَعَالىَ اِرْحَمُوْا مَنْ فِى اْلأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ
“Orang-orang yang penyayang, akan disayangi oleh Allah yang Maha Rahman. Sayangilah semua makhluk yang di bumi, niscaya semua makhluk yang di langit akan menyayangi kalian semua.” (HR: Ahmad)
Sikap rahmah tidak sekadar perkara batin. Lebih dari itu, rahmah juga berdampak dalam kehidupan nyata yang mengirimkan pesan bahwa ‘islamku mengharuskan diriku untuk berbuat baik kepada siapa saja.’
Hadirin Hafidzakumullah
Marilah kita tengok kembali lembaran sejarah kehidupan Nabi ﷺ yang penuh dengan rahmah selama mengisi kehidupannya. Pertama, sikap rahmah beliau ﷺ kepada anak-anak. Beliau mengajarkan perhatian kepada anak yang menitik beratkan kepada sikap ramah dan rahmah.
Suatu kali, Rasulullah mendatangi Abu Saif Al Qayyin yang isterinya mengasuh dan menyusui putra Nabi, Ibrahim. Lalu Rasul ﷺ mengambil Ibrahim dan menciumnya. Di lain kesempatan, pada saat beliau mengetahui bahwa putranya Ibrahim wafat, beliau menangis. Abdurrahman bin Auf yang melihat beliau menitikkan air mata, bertanya, “Mengapa engkau menangis, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab: “Wahai Ibnu ‘Auf, sesungguhnya ini adalah rahmat (tangisan kasih sayang).” Beliau lalu melanjutkan perkataannya, “Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya saja kita tidak boleh mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Tuhan kita. Dan kami dengan perpisahan ini wahai Ibrahim pastilah bersedih.” (HR: Bukhari)
Jama’ah Shalat Jum’at
Kedua, sikap rahmah juga beliau ajarkan ketika menceritakan kisah tentang hewan yang diberi minum. Pada suatu hari, beliau bercerita bahwa ada seorang laki-laki sedang berjalan. Dia merasakan kehausan yang luar biasa. Kemudian ia turun ke sumur dan minum. Ketika sudah selesai dari hajatnya, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan.
Lelaki ini berkata, “Anjing ini kehausan seperti diriku.” Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Kata Rasul meneruskan ceritanya, “Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?” Beliau menjawab, “Setiap memberi minum pada hewan akan mendapatkan ganjaran.” (HR:Bukhari-Muslim)
Di kesempatan berbeda, beliau menceritakan kisah yang sebaliknya. Beliau bersabda, “Ada seorang perempuan yang menzalimi seekor kucing. Dia disiksa karena seekor kucing yang dikurungnya hingga mati, si wanita masuk neraka karena perbuatannya. Kucing itu tidak diberinya makanan dan minum, tidak pula dilepaskannya hingga bisa memakan hewan yang ada di tanah.” (HR: Bukhari-Muslim)
Ketiga, sikap rahmah Rasul ﷺ di dalam salat. Pernah suatu ketika, beliau tengah salat. Beliau sudah niat untuk memperpanjang salatnya. Tapi, di sela salat beliau mendengar tangis seorang anak. Beliau mengurungkan niatnya. Beliau memperpendek salatnya. Alasan yang beliau kemukakan adalah, “Karena saya tahu, tangisan anak itu akan membangkitkan kemarahan ibunya.” (HR: Bukhari)
Keempat, ajaran Rasul ﷺ tentang sikap rahmah ini pernah diamalkan oleh cucunya, Sayyidina Ali Zainal Abidin bin Husain. Suatu hari, beliau keluar hendak menuju masjid. Di tengah jalan muncul seseorang yang tiba-tiba menghinanya habis-habisan. Umpatan dan sumpah serapah meluncur dari mulutnya yang ditujukan kepada sang cucu Nabi ini.
Sayidina Ali membiarkan sampai si penghina selesai dari memaki sembari melarang pengawalnya untuk memukulnya. Setelah itu, Sayyidina Ali berkata, “Wahai tuan, aku memiliki keburukan yang lebih banyak dari yang tuan katakan. Apa yang tuan tidak ketahui (tentang keburukanku) lebih banyak dari yang tuan ketahui. Jika tuan membutuhkannya, aku akan menceritakan (semua)nya pada tuan.”
Orang itu pun menjadi malu. Lalu Sayyidina Ali merogoh kantong bajunya dan memberinya uang seribu dirham. Orang itu pun berlalu sambil berkata: “Aku bersaksi bahwa pemuda ini (Sayyidina Ali Zainal Abidin) adalah keturunan Rasulullah ﷺ.”
Kaum Muslimin yang Berbahagia
Cara Rasulullah menyikapi berbagai persoalan yang terjadi di tengah kehidupan masyarakat beliau dasari dengan sikap rahmah. Beliau bisa menangis lantaran sedih ditinggal wafat anaknya. Beliau menaruh empati kepada hewan yang diperlakukan dengan zalim dan kasar.
Rasulullah juga tidak segan-segan menyingkat salatnya lantaran ada anak yang beliau dengar tengah menangis, sehingga kalau tetap memperpanjang salat, beliau kuatir akan membuat memicu kemarahan atau ketidaknyamanan bagi si ibu. Hal yang sama ditujukan oleh Sayidina Ali Zainal Abidin. Beliau adalah gambaran dari sikap rahmah dengan berbuat baik dan mudah memaafkan kepada orang yang telah berbuat tidak baik kepadanya.
Kisah-kisah itu nyata adanya. Bukan dongeng yang dibuat-buat. Tentunya kita pasti bisa mencontohnya jika ada niat dan kemauan kuat. Sikap rahmah menjadi tanda hati orang yang beruntung. Sebaliknya, sikap tidak ramah dan rahmah adalah tanda dari hati orang yang celaka, sebagaimana sabda Rasul ﷺ :
لاَ تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلاَّ مِنْ شَقِيٍّ
“Tidaklah tercerabut rahmat (rasa belas kasih), kecuali dari (hati) orang yang celaka.” (HR: Turmudzi)
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. اَمَّا بَعْدُ :
فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ وَمَا بَطَنْ، وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ.
وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ،
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ وَالجُنُونِ والجُذَامِ وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا, اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى والتُّقَى والعَفَافَ والغِنَى، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ