Hidayatullah.com | SETIAP ZAMAN selalu ada virus jahiliyah, karenanya kaum Muslim wajib mewaspadainya. Islam adalah nikmat terbesar yang dianugerahkan Allah atas manusia.
Bahkan ia lebih besar daripada hikmat hidup dan kehidupan. Untuk membuktikan bahwa manusia benar-benar bersyukur kepada Allah, maka ia wajib mengamalkan ajaran Islam secara benar dan universal.
Akan tetapi, dalam rangka mengamalkan ajaran tersebut ada virus yang menyebabkan manusia atau masyarakat tidak berdaya mengaktualisasikan ajaran Islam yang benar dan universal dalam realita kehidupan, sehingga seolah-olah ada asumsi bahwa Islam tidak mampu menjawab tantangan-tantangan zaman. Inilah yang disebut virus jahiliyah .
Makna jahiliyah
Jahiliyah berasal dari kata jahl yang berarti bodoh atau tidak tahu, lawan kata dari ilmu. Kebodohan atau ketidaktahuan ini ada tiga macam.
Pertama, jahillyah yang berarti kehampaan jiwa dari imu pengetahuan. Ini adalah pangkal dari segala kebodohan. Kedua, jahiliyah yang berarti keyakinan yang salah terhadap sesuatu (tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya).
Ketiga, jahiliyah berarti berbuat sesuatu dengan menyalahi apa yang sebenamya dikerjakan. Dalam hal ini, sama.
Apakah seseorang itu mengerjakan hal tersebut berangkat dari keyakinan yang benar atau keyakinan yang salah, seperti orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja. (Lihat Al-Mufradat Fi Gharibi al-Qur’an halm. 102)
Dari keterangan di atas bisa dipahami bahwa jahiliyah adalah satu kondisi kejiwaan di mana seseorang atau masyarakat mempunyal kecenderungan untuk menolak kebenaran (Islam). Dengan kata lain, jahiliyah tidak ditentukan dengan tingkat kecerdasan, status kepemimpinan ketokohan, atau sebaliknya.
Akan tetapi, seseseorang bisa jadi terjangkit virus jahiliyah, sementara dia seorang pemimpin, atau seorang tokoh bahkan seorang cendikiawan sekalipun jika ia menolak ajaran Islam. Di sinilah bisa kita mengerti mengapa Abu Jahal disebut Abu Jahal (bapak jahiliyah (kebodohan) padahal dia seorang pemimpin. Karena ia menolak Islam, maka la dijuluki demikian.
Ruang lingkup jahiliyah
Islam merupakan ajaran yang universal mencakup segala aspek kehidupan. Walaupun demikian, virus jahiliyah siap menggerogot kehidupan individu dan masyarakat jika mereka tida senantiasa waspada.
Di antara ruang lingkup dan ruang gerak virus jahiliyah untuk memperluas sasaran dan jaringannya adalah:
Akidah. Akidah yang merupakan pondasi kekuatan seorang muslim bisa terkena virus jahiliyah jika a tidak rajin dirawat dan dipelihara. Al-Quran memberikan pelajaran kepada umatnya tentang kisan bangsa Yahudi (Israel) yang telah diselamatkan oleh kebiadaban Firaun dan tentaranya.
Begitu mereka melihat kaum penyembah berhala sedang berain depan berhala-berhalanya, maka mereka minta nabi Musa -dengan atas nama agama – untuk memberikan kepada mereka Tuhan baru yang bisa disembah:
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).” (QS: Al-A’raf [7]: 138).
Inhiraf atau penyimpangan –yang terjadi setip masa– dari ajaran tauhid kepada syirik hanya bias muncul karena disebabkan dari virus jahiliyah, waupun penderitanya mengaku intelek atau cendekiawan. Dan sesungguhnya ilmu yang dipergunakan untuk berpikir jernih akan mengantarkan manusia kepada tauhidullah.
Akhlak
Virus jahiliyah juga bisa menimpa moralitas bangsa yang pada gilirannya akan menyebabkan hancurnya bangsa itu sendiri. Kebesaran bangsa tidaklah ditentukan oleh kharismatik pemimpinnya atau keanehan-keanehan yang tidak dimengerti oleh rakyatnya.
Akan tetapi, kebesaran bangsa sangat ditentukan oleh al akhlakul karim dari pemimpinnya dan diteladani oleh pengikut setianya. Di sinilah seorang pemimpin mendapatkan legitimitas melihat moralitasnya secara transparan.”
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir)pun akan melihat,” (QS: Al-Qalam [68] :4-5).
Kesadaarn akan pentingnya memelihara al-akhlakul karim (akhlak yang mulia) dicontohkan oleh manusia-manusia terbaik dan pemimpin-pemimpin yang bjak. Di antaranya adalah sikap bijak dan tindakan terpuji yang dilakukan oleh Nabi Yusuf.
Beliau rela meninggalkan hidup di Istana negara dan lebih memilih penjara demi terpeliharanya moralitas seorang pemimpin. Beliau sadar bahwa menjaga kehomatan agama ndan akhlaknya lebih mahal daripada sekadar menjaga kelanggengan kedudukan duniawi yang pasti tidak abadi.
Oleh karena itu, beliau nemohon kepada Allah agar diselamatkan dari tipu wanita-wanita yang memang biasanya menambah semakin glamonya suasana istana. Dan sedikit sekali manusia dalam kondisi tertentu –selain orang yang mendapat Rahmat Allah– yang selamat dari skandal wanita.
قَالَ رَبِّ السِّجۡنُ اَحَبُّ اِلَىَّ مِمَّا يَدۡعُوۡنَنِىۡۤ اِلَيۡهِۚ وَاِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّىۡ كَيۡدَهُنَّ اَصۡبُ اِلَيۡهِنَّ وَاَكُنۡ مِّنَ الۡجٰهِلِيۡنَ
“Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.” (QS: Yusuf [12]: 33).
Virus jahiliyah ketika merasuk dalam diri manusia bisa menyebabkan pikiran dan jiwa menjadi gelap, dan bangunan akhlak menjadi rapuh.
Sehingga ketika menghadapi suatu problematika, ia tidak mempunyai kendali yang benar dan kuat. Ketidak- stabilan akhlak seseorang bisa berakibat fatal terhadap kehidupan masyarakat sehingga se- seorang bisa menghalalkan darah saudaranya, hanya karena obsesi duniawi yang sangat rendah.
Ini pemah terjadi pada saudara-saudara nabi Yusuf dan akan terjadi pada masa-masa mendatang jika akhlak seseorang atau masyarakat sudah terkena virus jahiliyah.
اۨقۡتُلُوۡا يُوۡسُفَ اَوِ اطۡرَحُوۡهُ اَرۡضًا يَّخۡلُ لَـكُمۡ وَجۡهُ اَبِيۡكُمۡ وَ تَكُوۡنُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِهٖ قَوۡمًا صٰلِحِيۡنَ
“Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.” (QS: Yusuf [12]:9).
Yusuf berkata, “Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidakmengetahui (jahil) akibat perbuatanmu itu.” (QS: Yusuf [12]: 89).
Pengorbanan /Perjuangan
اِذْ جَعَلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ
“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu )kesombongan jahiliyah…” (QS: Al-Fath [48] : 26).
Kesombongan jahiliyah yang mendorong orang kafir untuk berjuang dan berkorban demi berhala-berhala dan pemimpin pemimpinnya seharusnya menjadi pelajaran bagi setiap muslim agar di dalam berjuang dan berkorban benar-benar hanya untuk Allah.
Sebab, setiap pengorbanan yang tidak dipersembahkan kepada Alah akan berakibat fatal dalam kehidupan dunia dan akhirat. Sesungguhnya hidup dan mati hanyalah untuk Allah, bukan untuk siapa-siapa.
{قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}
{وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ}
“Katakanlah, Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah. Tuhan semesta alam. Dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS: Al-An’am: 163).*/ Dr Ahzaml Sami’un Jazuli, Sabili, No 22 TH. VII, 2001