Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Izzah Politik dan Militer Khilafah Umawiyah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 Februari 2019 11:47 11:47 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Februari 2019 11:47
Bagikan
Ilustrasi
Bagikan

MEMBICARAKAN izzah (kekuatan, kehormatan, kemuliaan) Dinasti Umawiyah (41-132 H/661-750 M), maka sisi politik dan militer menjadi yang paling menonjol.  Pada masanya, Islam bukan saja mampu menciptakan stabilitas keamanan melalui kekuatan militer yang disegani dunia, tapi juga memperlus hegemoni wilayahnya menembus Asia, Afrika bahkan Eropa. Di sisi lain, meski sedikit, dinasti ini menjadi embrio bagi kemajuan peradaban di masa Abbasiyah.

Era ini diawali dengan peristiwa yang cukup dramatis. Dua kubu pasukan besar umat Islam (Mu’awiyah Vs Hasan) nyaris bertempur pada 41 Hijriah akibat masalah kekuasaan. Untungnya, Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu yang waktu itu sebagai pengganti resmi Ali Radhiyallahu ‘anhu, berbesar hati menyerahkan kekuasaannya secara bersyarat kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu demi persatuan umat dan tidak terjadi pertumpahan darah.

Peristiwa ini diabadikan sejarah dengan ‘āmu al-jamā’ah’ [tahun persatuan] karena mereka bersama-sama sepakat tunduk pada satu pemimpin (Ibnu katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, VI/244). Dengan demikian, konflik internal yang hampir saja meledak, bisa diredam dengan damai dan bijak.

Tidak seperti pendahulunya, sistem pada daulah ini mengalami perubahan yang sangat signifikan sehingga banyak menuai kritik dari para oposisi. Sistem kekuasaan yang sebelumnya –empat khalifah- menggunakan sistem syura umat Islam, diubah menjadi sistem monarki.

Baca:  Peradaban Islam, Sains, dan Khilafah [1]

Karena itulah, meski Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu berikut pemimpin setelahnya masih menggunakan idiom “khalifah” tetap saja daulah ini subtansinya adalah dinasti. Pusat pemerintahan pun diganti. Kalau sebelumnya di Madinah (pada masa nabi,  Abu Bakar, Umar dan Utsman) dan Kufah (pada masa Ali), pada masa Umawiyah diganti ke Damaskus.

Baca Juga

KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

Pada masa dinasti ini, hegemoni politik, militer, dan pengaruh di luar jazirah Arab begitu mencengangkan. Meski pada masanya ada pemberontakan-pemberontakan dari ‘alawiyin (anak keturunan atau simpatisan Ali bin Abi Thalib) dan Khawarij, namun itu bisa diatasi dengan baik. Karena itu, selama sembilan puluh dua  tahun kekuasaan Dinasti Umawiyah, telah mampu menciptakan stabilitas keamanan yang sangat mengesankan.

Dinasti ini dipimpin oleh 14 khalifah: Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Yazid bin Mu’awiyah,  Mu’awiyah bin Yazid, Marwan bin Hakam, Abdul Malik bin Marwan, Walid bin Abdul Malik, Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul ‘Aziz, Yazid bin Abdul Malik, Hisyam bin Abdul Malik, Walid bin Yaziz, Yazid bin Walid Ibrahim bin al-Walid, Marwan bin Muhammad (Al-Kahiri, 2013: 189, 190).

Di antara khalifah kenamaan dari era ini seperti: Pertama, Mu’awiyah sang negarawan mumpuni, administator ulung yang membangun basis keamanan kuat dan melanjutkan gerakan futuhat. Kedua, Abdul Malik bin Marwan yang berhasil mengembalikan integritas wibawa dan kekuasaan, menundukkan tentara Romawi, menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi, pencetakan uang dan pembangunan masjid. Ketiga, Walid bin Abdul Malik yang mampu memperluas wilayah sampai ke Asia Tengah, India bahkan Spanyol. Keempat, Umar bin Abdul ‘Aziz yang mampu mensejahterakan dan menegakkan keadilan. Sedemikian adilnya, pada saat itu sampai susah mencari orang yang menerima infak (Adz-Dzahabi, Siyaru A’lam al-Nubala, V/131).

Kelebihan dinasti Mu’awiyah di antaranya yang paling menonjol adalah: Pertama, militer yang kuat sehingga mampu menjaga stabilitas keamanan. Kedua,  kekuatan politik yang cemerlang. Ketiga, memperluas gerakan futuhat (pembebasan negeri). Ketiga hal itulah yang menjadi faktor kemajuan Dinasti Umawiyah sehingga mampu menciptakan kesejahteraan pada rakyatnya.

Adapun kekurangan yang paling nampak dari dinasti ini adalah terlampau fokus pada gerakan pembebasarn dan militer sehingga ranah-ranah sains dan peradaban kurang tersentuh dengan baik.Pada masa dinasti ini memang gerakan peradaban yang ditandai dengan kuatnya sektor keilmuan terbilang sangat minim. Satu-satunya yang menonjol adalah dalam bidang sya’ir.

Meski demikian, bukan berarti embrio peradaban tidak ada. Misalnya, dalam bidang ilmu pengobatan dan kimia, ada sosok Khalid yang menerjemahkan buku-buku berbahasa Yunani dan Koptik tentang kimia, kedokteran dan astrologi (Saefuddin Buchari, 2009: 72).

Tentu ini menjadi embrio gerakan ilmiah yang berkembang pesat di masa dinasti Abbasiyah. Di bidang arsitektur misalnya, Masjid Umawi di Damaskus kemudian monumen Dome of The Rock (Quba ash Shahrah) di Jerusalem (Baitul Maqdis) adalah contoh adiluhung yang menggamarkan capaian Dinasiti Umawiyah di bidang arsitektur.

Bagaimanapun kuatnya dinasti ini, sebagaimana daulah-daulah lainnya juga mengalami kemunduran hingga mengakibatkan kejatuhannya. Hal ini diistilahkan al-Qur`an sebagai sunnah tadāwul (QS. Ali Imran [3] : 140) yang bermakna: hukum penggiliran kekuasaan.

Baca:  Dr Ahmad Zain: Khilafah Seharusnya Muncul di Negara Syam

Ali Muhammad Shallabi (2008: II, 568-606) menyebutkan ada tiga belas faktor kejatuhan Dinasti Umawiyah: Pertama, pemberontakan atas gerakan pembaharuan Umar bin Abdul ‘Aziz. Kedua, kezaliman. Ketiga, kemewahan dan terjerembab pada kesenangan hawa nafsu. Keempat, mengenyampingkan pilihan jalur musyawarah. Kelima, sistem peralihan kekuasaan. Keenam, pemberontakan-pemberontakan yang melawan dinasti seperti: pemberontakan Husain bin Ali, Zaid bin Ali bin Husan, dan orang-orang Khawarij. Ketujuh, fanatisme.

Kedelapan, mawali yang berperan banyak di pemerintahan. Mawali (yang kebanyakan non-Arab ini cendrung mendapat perlakuan diskriminatif). Kesembilan, gagal mewujudkan orientasi peradaban. Kesepuluh, konflik internal perebutan kekuasaan. Kesebelas, gagal membentuk tentara disiplin yang loyal terhadap pemerintah. Keduabelas, gagalnya Marwan bin Muhammad dalam menyelamatkan dinasti. Ketiga belas, menyebarnya dakwah (propaganda) Abbasiyah yang kemudian memberontak dan mendirikan dinasti baru.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, pernyataan Hudari Bik ini bisa dijadikan gambaran penting dalam menilai dinasti ini, “Yang paling mengagumkan dari dinasti raksasa ini adalah meskipun diterpa berbagai bencana, fitnah, dan pemberontakan, ia tidak tampak lemah di hadapan umat-umat lain, kecuali pada kesempatan yang sangat jarang sekali.” (Qasim A. Ibrahim & Ahmad Shalih, 2014: 237).

Dari dinasti ini bisa diambil pelajaran: jika umat Islam mau mendapatkan kembali izzahnya, maka wajib memperkuat sektor politik dan militer. Di samping itu, belajar dari kekurangan dinasti ini, kita harus menguatkan perhatian pada sektor keilmuan untuk kebangkitan peradaban Islam.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bani AbasiyahDinasti UmawiyahKhalifahKhilafahmiliterUmayyah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Facebook Melarang Empat Kelompok Pemberontak Myanmar
Tulisan selanjutnya Hawaii Pertimbangkan UU Pembeli Rokok Harus Berusia 100 Tahun

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bantah Pakai RS untuk Aktivitas Militer, Hamas: Tuduhan Palsu ‘Israel’

Berita
8 Oktober 2026 19:16
Dua Pria Iran Didakwa Berencana Serang Yahudi Manchester
Sekitar 2.200 Kerabat Terduga Petempur ISIS Masih Ditahan Pasukan Kurdi Suriah
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
‘Israel’ Klaim Tutup Konsulat Inggris dan Usir 20 Stafnya

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Tutup Konsulat Inggris dan Usir 20 Stafnya
  • Bangun Sinergi Strategis, Hidayatullah Sumut dan Kadin Medan Jajaki Kolaborasi Penguatan Ekonomi Serta SDM
  • Arab Saudi: Tiga Orang Tewas dalam Serangan di Bandara Internasional Riyadh
  • Bantah Pakai RS untuk Aktivitas Militer, Hamas: Tuduhan Palsu ‘Israel’
  • Demonstran Pendukung Palestina Duduki Stasiun di Sejumlah Kota Belanda
  • Sekitar 2.200 Kerabat Terduga Petempur ISIS Masih Ditahan Pasukan Kurdi Suriah
  • KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
  • Bentuk Kantor Urusan Keagamaan, Menhan AS Kaitkan Perang Fisik dengan Pertempuran Spiritual
  • Menteri Pertahanan AS Kutip Alkitab dan Serukan Perang terhadap “Kaum Islamis”
  • Aljazair Berlakukan Hukuman Mati Bagi Arsonis Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?