Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

Mahmud
Terakhir diupdate: 15 Juni 2026 07:42 7:42 am
Mahmud
Dipublikasikan 15 Juni 2026 07:41
Bagikan
Abu Hanifah dan Istri (Hafni Zahra) pada tahun 1935.
Bagikan

“Kami, dari Angkatan ’28, dulu berjuang untuk mewujudkan cita2 Indonesia merdeka. Dan kemerdekaan memang terwujud. Kini kita mengisinya dengan pembangunan di segala bidang.” (Nyonya Hafni, Sinar Harapan, No. 6927, Minggu 26 September 1982)

Hidayatullah.com | DALAM sejarah panjang perjuangan kemerdekaan Indonesia, sosok wanita tangguh sering kali luput dari catatan sejarah utama. Salah satu sosok yang memiliki andil namun jarang tersorot adalah Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah. Perjalanan hidup beliau adalah cerminan semangat nasionalisme yang tak pernah padam, melintasi era pergerakan pemuda hingga masa revolusi fisik. Beliau merupakan istri dari tokoh besar Masyumi, Prof. Dr. Abu Hanifah, seorang intelektual, dokter, dan diplomat yang juga dikenal sebagai tokoh serba bisa dalam sejarah pergerakan nasional (Majalah Harmonis No. 102, 15 Februari 1976).

Beliau dilahirkan di Medan pada 13 September 1912 (Baca: G. A. Ohorella, Prof. Dr. Abu Hanifah Dt. M.E. Karya dan Pengabdiannya, 1985: 87). Sejak muda, ia sering mondar-mandir di tahanan Belanda untuk menjenguk ayahnya yang sering ditahan Belanda sebagai aktivis Sarekat Islam Medan. Hafni Zahra telah menunjukkan api nasionalisme sejak belia. Pada umur 15 tahun, beliau sudah terjun aktif dalam pergerakan.

Langkah awalnya dimulai dengan bergabung dalam Serikat Islam, kemudian aktif di Jong Islamieten Bond (JIB). Namun, bagi Hafni muda, organisasi tersebut dirasa belum cukup mewadahi cita-cita kemerdekaan bangsa yang lebih luas (Berita Buana, Ibu Hafni Zahra Abu Hanifah Kena Black List Belanda di Medan, No. 343, Thn. VII, 8 Agustus, 1975).

Semangatnya yang berapi-api membuat pemerintah kolonial Belanda merasa terancam. Bersama tujuh orang temannya, Hafni masuk dalam daftar hitam (blacklist) Belanda karena dianggap sebagai pemuda ekstrem yang suka menggaungkan kebangsaan (maksudnya kemerdekaan). Kejadian ini memaksanya meninggalkan tanah kelahirannya dan hijrah ke Jawa untuk melanjutkan studi serta memperkuat jaringan pergerakan. Waktu itu, selain Hafni, pemuda lainnya adalah Alfi Zahrah, Kustyah, Teguh, Rusli, Romli dan lain sebagainya.

Baca Juga

Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

Penempaan Diri dan Perlawanan

Di tanah Jawa, beliau ditampung oleh Pemuda Indonesia di Bandung, tempat beliau bertemu tokoh besar seperti Bung Karno dan Sjahrir. Beliau kemudian melanjutkan pendidikan di Taman Siswa, Yogyakarta, atas rekomendasi langsung dari Bung Karno kepada Ki Hajar Dewantara (Berita Buana, Ibu Hafni Zahra Abu Hanifah Kena Black List Belanda di Medan, No. 343, Thn. VII, 8 Agustus, 1975).

Masa muda Hafni diisi dengan pengalaman yang mendewasakan nasionalismenya. Beliau adalah remaja “serba mau” yang aktif dalam rapat besar, menyanyi lagu nasional hingga serak, bahkan menjadi kurir surat rahasia. Keberaniannya teruji saat asrama Wisma Rini pada tahun 1929 digerebek PID (maksudnya polisi kolonial); alih-alih takut, beliau justru menertawakan konyolnya tindakan polisi kolonial tersebut (Berita Buana, Mengenal Tokoh-Tokoh Pejuang Wanita Indonesia; Ibu Hafni Abu Hanifah, No. 344, Thn. VII, 9 Agustus 1975).

Pada 19 Oktober 1932, Hafni Zahra Thaib dinikahi oleh Abu Hanifah. Hafni adalah putri dari Moh. Samin Thaib dan Siti Ara Dati, seorang gadis aktif dalam organisasi Indonesia Muda yang semangat perjuangannya membuat ia diusir dari Medan dan dikeluarkan dari sekolah, lalu hijrah ke Jakarta. (G. A. Ohorella, Prof. Dr. Abu Hanifah Dt. M.E. Karya dan Pengabdiannya, 1985: 87).

Di kota inilah ia berkenalan dengan Abu Hanifah, hingga akhirnya keduanya dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Dari rumah tangga ini lahir tiga anak: Elsam Ibnu Abu Hanifah (lahir di Medan, 11 September 1934), Chalid Ibnu Abu Hanifah (lahir di Indragiri, 23 Oktober 1937, saat Abu Hanifah menjabat Direktur Rumah Sakit Kuantan), dan Siti Nurhati Abu Hanifah (lahir di Jakarta, 20 Desember 1952).

Kisah keluarga ini menjadi bagian dari perjalanan panjang perjuangan kemerdekaan Indonesia, di mana cinta dan pengabdian berpadu dalam satu cita untuk bangsa. Kehidupan mereka penuh tekanan politik. Ketika suaminya ditahan Belanda, Ibu Hafni harus berjuang membesarkan anak dalam kondisi ekonomi yang sangat sulit.

Saat revolusi fisik berkobar, beliau membentuk Gerakan Putri Islam Indonesia di Sukabumi, aktif melayani di rumah sakit, serta mengelola dapur umum. Peran beliau sebagai kurir bagi tokoh besar seperti Dr. A.K. Gani menjadi sangat krusial, terutama dalam membawa emas Cikotok ke Jakarta dan membawa dokumen penting pemerintah kembali ke Sukabumi  (Berita Buana, Mengenal Tokoh-Tokoh Pejuang Wanita Indonesia; Ibu Hafni Abu Hanifah, No. 344, Thn. VII, 9 Agustus 1975).

Semangat yang Tak Pernah Padam

Hingga usia senjanya, semangat Ibu Hafni tidak pernah mengendor. Dalam wawancara di tahun 1982, beliau menegaskan bahwa sebagai wanita, mereka tetap menjadi moral forces bagi bangsa (Sinar Harapan, Ibu Hafni Zahra, Istri Abu Hanifah, Nenek yang semangatnya tak pernah mengendor, No. 6927, Thn. XXI, 26 September 1982). Beliau aktif dalam “Yayasan Wanita Pejuang” sebagai Sekretaris.

Bersumber dari Majalah Harmonis 15 Februari 1976

Bahkan di masa pensiunnya, beliau masih merisaukan masa depan generasi penerus, terutama terkait bahaya senjata nuklir. Beliau adalah sosok nenek yang tak mau berpangku tangan; jika tidak membaca, beliau akan menulis atau mendesain perabot rumah sendiri, meneladani gaya hidup suaminya yang produktif dan mencintai seni (Majalah Harmonis No. 102, 15 Februari 1976).

Kehidupan Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah memberikan pelajaran berharga tentang konsistensi dalam mencintai tanah air. Dari seorang gadis muda di Medan yang di-blacklist oleh kolonial, hingga menjadi pejuang wanita yang vokal di masa tua, perjalanan hidup beliau adalah napas perjuangan itu sendiri.

Jejak langkah beliau menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia bukan sekadar ilham satu malam, melainkan buah dari rentetan perjuangan panjang yang melibatkan pengorbanan luar biasa dari pejuang wanita. Semangat beliau untuk terus berbuat adalah warisan intelektual dan moral yang tetap relevan untuk dipelajari generasi saat ini. Dalam Sinar Harapan No. 6927 digambarkan, “Semangatnya tak pernah lentur biarpun usia mendekati uzur.” Rahimahallah rahmatan waasi’ah. (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Abu HanifahHafni ZahraHeadlinePejuang Wanita
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Prosesi Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei Dimulai 4 Juli
Tulisan selanjutnya Tradisi Membaca sebagai Penguat Halaqoh

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Mahkamah Agung Tunisia Tolak Kasasi Puluhan Lawan Politik Presiden Kais Saied

Berita
12 September 2026 16:49
‘Israel’ Percepat Pembangunan 1000 Rumah untuk Pemukim Ilegal di Tepi Barat
Media ‘Israel’: UEA Pernah Peringatkan Zionis Soal Operasi Thufan Al-Aqsha
11 Negara Eropa dan Kanada Sepakati Larangan Dagang dengan Permukiman Ilegal ‘Israel’
Serangan Drone dari Iraq Merusak Pipa Minyak Arab Saudi, Melukai Sejumlah Orang

Terbaru

  • Serangan Drone dari Iraq Merusak Pipa Minyak Arab Saudi, Melukai Sejumlah Orang
  • Turki akan Mengebor Minyak di Laut Hitam
  • Mahkamah Agung Tunisia Tolak Kasasi Puluhan Lawan Politik Presiden Kais Saied
  • QatarEnergy Berupaya Garap LNG Amerika Serikat Sampai 2031
  • Suriah Tangkap 9 Bekas Pilot Tempur Era Rezim Bashar al-Assad
  • Amerika Minta Libanon Formulasikan Rencana Perlucutan Senjata Hizbullah
  • Pengisi Utama Pro-Israel, Artis Portugal Berbondong-Bondong Tinggalkan Festival Lisbon
  • Promosi Adidas Gandeng IDF, MUI: Waspada Propaganda Zionis, Perkuat Boikot!
  • Penasihat Trump Khawatir Perang Iran Berlangsung Bertahun-tahun
  • Warga Thailand Demo Kedutaan ‘Israel’, Protes Kelakuan Wisatawan Zionis

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?