Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Mengenal Para Ulama di Bumi Uighur

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 Desember 2018 08:55 8:55 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Desember 2018 08:55
Bagikan
Muslim Uighur
Bagikan

SEBELUM lebih jauh membahas ulama di bumi Uighur (Xinjiang), pembaca perlu diingatkan kembali sekilas tentang sejarah masuknya Islam di wilayah Uighur ini. Hal ini dimaksudkan agar tertanam kesadaran mendalam bahwa mereka adalah saudaran sesama muslim.

Dalam buku “al-Islām wa al-Muslimūn fī Āsiya al-Wusṭa” (2017: 282) karya Muhammad Yusuf Adas, disebutkan bahwa tahun 94 Hijriah, pasca pembebasan negeri Persia dan Khurasan para umat Islam meneruskan pembebasan Transoxiana, Asia Tengah.

Di bawah komandan Abu Umamah al-Bahili, umat Islam merangsek ke arah timur hingga sampai ke wilayah Kashgar yang saat itu merupaka Ibu Kota Turkistan Timur. Daerah ini baru bisa ditaklukkan pada tahun berikutnya.

Pada masa Dinasti Abbasiyah, tepatnya pada pertengahan abad ke-10 Masehi, Islam dikenalkan di Xinjiang (Turkistan Timur) oleh Satuk Boghra (910-956 M), yang merupakan Khan dari Dinasti Karakitai. Kisah ringkas ini bisa dibaca dalam buku “Islam in China Mengenal Islam di Negeri Leluhur” (2017: 35) karya Mi Shoujiang dan You Jia.

Baca: [VIDEO] Ratusan Ribu Orang Iringi Kepergian Imam Qinghai di China

Setelah Satuk Boghra masuk Islam, maka keislamannya diikuti oleh anak-anak dan pembesar negerinya. Sejak saat itu, Islam menjadi agama resmi di Turkistan Timur. Bersamaan dengan itu pula, dimulailah penerjemahan al-Qur`an, pembangunan 3 masjid di Kota Kashgar. Dalam memperujangkan dakwah Islam, para penduduknya telah mengalami getir-manis perjuangan.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Di antara mereka ada yang jadi dai dan mujahid (pejuang) dalam ekspedisi pembebasan-pembebasan wilayah baru Islam. Tak hanya itu, di sana juga muncul ulama-ulama menonjol yang studi dan karya-karya tulis mereka turut memperkaya khazanah dan budaya umat Islam di berbagai disiplin ilmu.

Dalam buku “al-Wāfy bi al-Wafayāt” (2000: XVI/261) karya Shalahuddin Khalil bin Aybik ash-Shafady, disebutkan bahwa ada ulama dari daerah ini yang dikenal dengan Abu al-Ma’āli al-Waa’idz. Namanya adalah Tughrul Syah bin Muhammad bin Husain bin Hasyim al-Kasyghari Abu al-Ma’aali bin Abi Ja’fara al-Waa`idz.

Beliau tinggal di Herat, sekarang masuk wilayah Afganistan. Ia belajar dari banyak guru. Salah satu kepiawaiannya adalah dalam bidang tafsir dan sastra. Ulama yang berasal dari Kasyghar ini terkenal dengan nasihat indahnya, banyak hafalan dan suka melancong ke berbagai negeri. Beliau dilahirkan pada tahun 490 dan wafat tahun 560 H.

Selain itu, dalam disertasi yang berjudul “Thabaqāt Ruwāt al-Hadīts bi Khurasān fī al-Qarni al-Khāmis al-Hijry” (1424: I/173-174) karya  Ahmad Athallah Abdul Jawwad di situ dicantukan 555 ulama di antaranya adalah al-Kasygari. Nama lengkapnya Abul Futuh Abdul Ghafir bin al-Husain bin Ali bin Khalaf bin Jibril bin Shalih bin Muhammad al-Mawarzy al-Kasyghari.

Data akurat tanggal kelahirannya tidak diketahui secara persis. Namun, ia pernah mendengar hadits dari al-Khaffaf Ahmad bin Muhammad an-Naisabury seorang ulama pakar hadits yang wafat di Khurasan pada tahun 395 H.

Baca:  Kemana Keadilan bagi Muslim Uighur di China? 

Imam as-Sam’any dalam Kitab “al-Ansāb” berkomentar positif mengenai diri al-Kasygary, “al-Kasyghari adalah seorang hafidz, terpercaya, banyak meriwayatkan hadits, dan shaduq (jujur).” Di antara gurunya adalah Abu Thahir Muhammad bin Abdul Malik ad-Dandanqāny. As-Sam’any mengatakan bahwa beliau wafat 20 tahun sebelum bapaknya meninggal. Jadi, wafat beliau sekitar tahun 474 H.

Sedangkan ulama kontemporer misalnya Muhammad Shalih al-Kasyghari. Yang merupakan ulama yang berasal dari Turkistan Timur (Xinjiang). Beliau turut memperkaya khazanah kepustakaan Islam dengan menulis berbagai buku dengan bahasa Uighur, China dan Arab. Beliau dilahirkan pada tahun 1939 dan wafat pada tahun 2018 di kamp penjara yang dibuat negara China.

Di antara jasa beliau adalah menerjemahkan al-Qur`an ke dalam bahasa Uighur. Salah satu karya tulisnya berjudul “al-Durr al-Mundhid min Qasā`id al-Walid wa al-Walad” yang diberi pengantar oleh Dr. Ibrahim Shalah Hud-Hud.

Dan masih banyak lagi ulama yang lainnya. Negeri yang dulunya sampai dijuluki Bukhara Kecil ini memang banyak melahirkan ulama. Sayangnya, mereka sekarang berada di bawah jajahan China. Semua yang berbau Islam dibatasi bahkan ingin dienyahkan dari bumi Tirai Bambu. Sudah seharusnya muslim di berbagai penjuru dunia peduli dengan nasib mereka yang kini dalam pilu penderitaan negara komunis China.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:chinaislamkomunisMuslimpenindasan uighuruighurulamaUyghur
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya MUI Imbau Pengusaha Tak Ajak Karyawan Muslim Pakai Simbol terkait Natal
Tulisan selanjutnya Uighur, Sang Korban Tiongkokisasi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah

Berita
16 Oktober 2026 14:56
Kecam Serangan Bandara King Khalid Saudi, Dewan Dakwah: Tidak Dapat Dibenarkan
Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli
Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?