Oleh Sholih Hasyim*
Hidayatullah.com–Beberapa hari lalu kita merayakan Hari Raya ‘Idul Qurban atau ‘Idul Adha. Tiga hari berturut-turut berikutnya kaum muslimin yang memiliki kelapangan rezeki disunatkan memotong ternak, minimal kambing untuk satu orang, guna dibagi-bagikan kepada saudara-saudara kita yang seumur-umur jarang/tidak pernah membeli daging, apalagi mengkonsumsinya.
Dalam suasana Idul Qurban, sementara di belahan bumi Indonesia yang lain saudara kita sebangsa sedang diselimuti berbagai musibah yang tak kunjung lepas, umat Islam dibangkitkan jiwa sosialnya untuk menggalang solidaritas, soliditas dan kesetiakawanan sosial, ukhuwwah islamiyah. Dengan bertumpuk masalah yang dihadapi hari-hari ini, umat Islam mendesak untuk bersatu. Dengan persatuan akan melahirkan kekuatan. Dengan persatuan yang didasari oleh nilai-nilai suci yang diserap dari keimanan dan ketakwaan, kita akan menang dalam perjuangan, seperti pada masa penjajahan fisik setengah abad yang lalu.
Sebaliknya, jika kita mempertontonkan dan menonjolkan perbedaan yang tidak subtansial, dan tidak mengedepankan persamaan masalah prinsip, kita akan gagal mengisi kemerdekaan. Bahkan, akan datang penjajahan baru dalam bentuk lain, di antaranya penyakit KKN yang menggurita. KKN merupakan simbol kerusakan moral, sebagai indikator nafsu serakah dan mementingkan diri sendiri. Tidak mau berkorban, tetapi mengorbankan negara untuk memperkaya diri dan mempertahankan status quo. Sehingga negara kita dijajah/digerogoti dari dalam, kemiskinan, kehinaan, kebodohan, tidak independen, tidak bermartabat, tertinggal dari bangsa lain.
Dengan persatuan, kita memiliki nyali untuk menghalau tantangan internal dan melawan musuh eksternal. Mustahil kita menjadi bangsa yang besar, jika kita berjiwa kerdil. Tidak luber dan legowo dan tidak berjiwa permadani. Tidak memiliki jiwa besar. Ada sebuah ungkapan: “kun kalyadaini walaa takun kaludzunani” (jadilah kamu seperti kedua tangan, jangan seperti kedua telinga). Berbeda dengan telinga, tangan itu memiliki ciri suka bergandengan. Persatuan tidak sekedar memperbanyak SK, karena persatuan merupakan refleksi ruhani.
Imam Ali mengomentari krisis perpecahan umat Islam: “Aku heran kaum Muslimin bercerai berai dalam kebenaran, sedangkan musuh bersatu dalam kebatilan. Kekeruhan berjamaah (bersatu) itu masih lebih baik daripada bersih secara sendirian.”
Bukankah 1 milyar populasi umat Islam di seluruh penjuru dunia tidak berdaya menghadapi segelintir kaum Yahudi yang dengan semena-mena, tanpa mengenal prikemanusiaan menjajah penduduk muslim Palestina?
Dalam kesempatan lain Khalifah Islam IV mengatakan, “Allah SWT tidak akan pernah memberikan kemuliaan kepada siapapun, bangsa manapun, dalam perpecahan, tidak kepada umat terdahulu tidak pula kepada umat di zaman akhir.”
Imam Syafi’i mengatakan: “Perkara batil terkadang bisa menang karena bersatu, sebaliknya kebenaran kadang-kadang menderita kekalahan, kelemahan dan kehinaan disebabkan perpecahan.”
Momentum Idul Qurban menjadi pelajaran bagi diri sendiri untuk memperkuat jalinan ukhuwwah Islamiyah dengan cara mempertebal kepekaan sosial kita, agar kita memperoleh hikmah, ibrah, pelajaran dari Hari Raya ‘Idul Adha ini.
Ruhul Qurban Wat Taqarrub Ilallah
Di samping ‘Idul Adha, Hari Raya ini dinamakan pula ‘Idul Qurban’ karena dengan semangat jiwa sosial dan berkorban, kita akan menjadi hamba yang bertambah dekat kepada Allah SWT. Dekat dengan pertolongan-Nya. Dekat dengan petunjuk-Nya. Dekat dengan rahmat-Nya. Dan dekat dengan ridha-Nya. Manusia yang paling sengsara dalam kehidupan di dunia ini dan kelak di akhirat adalah manusia yang jauh dari hidayah Allah SWT. Jauh dari pertolongan-Nya. Jauh dari rahmat-Nya.
Dalam perjalanan kehidupan ini kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga, sekalipun dengan susah payah, memutar otak, memeras tenaga, mengumpulkan perbekalan, akan tetapi yang dituju seringkali tidak tercapai. Usaha mengalami kegagalan, sekalipun sudah dikerahkan orang-orang yang ahli dalam berbagai bidang. Banyak target yang sudah direncanakan secara cermat ternyata tidak realistis. Konsep sudah disusun secara matang, terbukti kandas di tengah jalan. Bukankah tukang cukur tidak bisa mencukur rambutnya sendiri.
Sungguh, dalam sejarah tidak ada ceritanya manusia bisa survive, eksis, serta melakukan segalanya sendirian, tanpa keterlibatan pihak lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik manusia primitif maupun manusia modern. Manusia hanya berusaha, berharap, berencana, berikhtiar, pada akhirnya yang paling menentukan adalah Allah SWT. Binatang dinosaurus itu lebih cepat punah, karena kurang terampil dalam membangun sinergi. Setiap perkembangan lingkungan sosial yang baru, kawan baru, ide baru, dipandang sebagai ancaman, bukan anugerah yang patut disyukuri.
Oleh karena itu marilah kita tingkatkan usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan sedekat-dekatnya. Dengan cara meningkatkan grafik keimanan dan ketakwaan kita. Semoga kita bisa mengambil hikmah ‘Idul Qurban.
Taqorrub ilallah (sandaran spiritual) hanya bisa dicapai dengan menegakkan shalat wajib, sunnat, shalat lail, melakukan puasa, mengeluarkan zakat, menunaikan ibadah haji, aktif dalam majlis ta’lim. Dengan cara demikian, insya Allah komunikasi kita dengan Al-Khalik semakin akrab, dekat dan erat.
Adapun membangun kedekatan dengan orang lain dengan jalan memberi, berkurban pula, bukan menuntut. Berbeda dengan falsafah kehidupan orang Barat: Lakukan apa saja sesuka hatimu, yang penting jangan mengganggu kebebasan orang lain. Dalam Islam diajarkan: apa yang bisa kamu kurbankan untuk kepentingan orang lain. Kepekaan sosial yang paling rendah adalah ‘salamatush shadr’ (selamat dada kita dari kebencian terhadap sesama). Dan solidaritas sosial yang paling tinggi adalah ‘al-Istar’ (mengutamakan orang lain melebihi dari dirinya sendiri, sekalipun dalam kesulitan).
Dengan mengulurkan tangan kepada orang lain secara ikhlas, di samping kehidupan kita akan menemui berbagai kemudahan, pula mendatangkan pertolongan dari Allah SWT. Bahkan bukti kecintaan seorang hamba kepada Allah SWT adalah diukur dari kualitas kecintaannya kepada sesama.
????????? ???? ?????? ????????? ???????? ????????? ???? ?????? ????????
“Allah SWT pasti menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong orang lain.” (Hadits Qudsi).
”Barangsiapa yang mengeluarkan zakat hartanya Dia akan menghilangkan kejelekan dirinya.” (HR. Thabrani).
???????? ?????????? ??? ???? ???? ???? ?????? ???????? ?????????? ??????????? ????? : ???????? ????? ?????? ??????
?????? ???? ??? ????? ?????? ???? ??????? ?????? ??? ???????? ???????????? ???? ???????? ???????????? ???? ??????????? ????????????
“Saya menghadap Nabi Saw ketika itu beliau sedang membaca “Al-Hakumut Takatsur”, lalu beliau bersabda: Orang-orang selalu berkata: Ini hartaku, ini milikku! Apakah yang bisa engkau perbuat terhadap kekayaanmu, kecuali yang kamu makan sampai habis atau engkau pakai hingga habis, atau engkau sedekahkan kepada orang-orang yang sedang memerlukan atau untuk kepentingan umum (fi sabilillah), maka harta kekayaan yang demikian itu akan menjadi tabunganmu yang tersimpan kelak di akhirat akan engkau nikmati manfaatnya.” (HR. Muslim).
Islam adalah agama yang menempatkan dunia dalam posisi yang penting. Ini tidak perlu diperdebatkan. Maka ada rukun (pilar) Islam yang bernama zakat dan haji, ibadah keduanya tidak bisa dikerjakan kecuali dengan harta. Fungsi dunia adalah ‘mazra’atul akhirah’ (ladang yang harus ditanami baik-baik agar bisa dipanen di akhirat), kata Imam Al-Ghozali. Akan tetapi beliau memperingatkan kita agar bersikap “zuhud” dalam menyikapi kekayaan dunia. Zuhud artinya tidak serakah, membatasi konsumsi sesuai keperluan.
??? ????????? ?????????? ????????? ??? ?????? ?????????? ????? ???? ?????? ????????? ??????????? ??????????
“Dua ekor serigala yang lapar dan dilepas ke dalam kumpulan kambing tidak lebih merusak dibanding kerusakan yang ditimbulkan akibat serakah terhadap harta dan kedudukan yang sangat merugikan agama itu.” (HR. Turmudzi).
Ruhun Nahr
‘Idul Qurban disebut juga ‘Idun Nahr’ artinya Hari Raya memotong korban binatang ternak. Ritual penyembelihan sebagai simbol/bentuk menyembelih nafsu hewani kita, agar tunduk kepada Allah SWT. Yang dinilai bukan daging, darah hewan kurban, tetapi motivasi berkurban.
Asal usulnya dimulai dari ujian Allah SWT kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih puteranya yang tercinta Ismail as. Nabi Ibrahim berkali-kali diuji dengan berbagai ujian berat yang memerlukan pengorbanan yang besar. Semuanya dilalui dengan selamat. Beliau lulus ujian. Diuji untuk mempertahankan keimanannya sekalipun menghadapi hukuman dibakar hidup-hidup. Pengorbanan yang dilakukan tidak sia-sia. Beliau ditolong langsung oleh Allah SWT. Karena agama ini milik-Nya. Siapa saja yang menodai agama Islam, berarti mengadakan konfrontasi langsung dengan-Nya. Api menjadi dingin, Ibrahim selamat atas restu Allah SWT.
Ujian terberat bagi Nabi Ibrahim adalah perintah mengorbankan putranya Isma’il, putra semata wayang yang sangat dicintainya ketika itu. Sekalipun berat, berkat kerjasama antara Ibu, Anak dan Bapak dalam suasana dialogis yang menyejukkan, maka ujian berat itu sukses dijalani.
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash Shoffat (37) : 102).
Dari jejaknya itu lahirlah Kota Suci Mekah, kiblat umat Islam seluruh dunia, dengan sumur Zam-zam yang tidak pernah kering sejak 4000 tahun yang lalu sekalipun setiap hari dikuras airnya berjuta liter, sebagai tonggak jasa seorang wanita yang telah teruji kesabarannya Ibunda Hajar, ibu kandung Ismail as.
Dari sejarah Ibrahim, maka Tawaf, Sa’i, Wuquf di Arafah, melempar Jumrah, bermalam di Muzdalifah (Mina), memotong hewan Quran (al-Hadyu), menjadi rangkaian Ibadah Haji atau Umrah yang disyariatkan oleh Islam, setiap tahun tidak kurang 2 juta banyaknya umat Islam datang berhaji dari seluruh dunia.
Dari Ka’bah yang dibangun dua Nabi ayah dan anak, Ibrahim dan Ismail, maka tiap 5 waktu sehari semalam 1 milyar umat Islam sedunia menghadap ke kiblat Ka’bah. Dakwah Islam menggetarkan umat manusia untuk memeluk Islam. Sehingga, Islam tidak saja berkembang di Mekah dan Madinah, tetapi merambah ke seluruh dunia. Berkat perjuangan Ibrahim yang tidak kenal lelah dalam menegakkan kalimat tauhid, kita rasakan nikmatnya hingga hari ini.
Sebagai mercusuar/magnit power Islam, Mekah dan Madinah memiliki kedudukan politik dan ekonomi yang penting dalam percaturan global. Seluruh dunia memandang Negara Timur Tengah sebagai negara petro dollar yang sangat strategis dalam pembangunan ekonomi dunia. Saudi Arabia, tempat Ka’bah dan Kota Suci Mekah dan Madinah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, Ismail dan Hajar merupakan pusat kemakmuran ekonomi.
Repelita tahun 1975-1980 menelan biaya $ US 142 milyar, sama dengan 59 trilyun rupiah tiga kali anggaran pembangunan negara kita. Padahal penduduknya hanya berjumlah tidak sampai 100 juta. Belum lagi menyaksikan perkembangan saat ini.
Ruhut Takbir (Spirit Takbir)
‘Idul Qurban juga disebut ‘Idul Akbar (Hari Raya Paling Besar). Kalau pada Hari Raya ‘Idul Fithri kita disunnahkan mengumandangkan takbir mulai malam sampai shalat Idul Fithri selesai pada pagi hari, maka ‘Idul Adha ditandai dengan takbiran selama 4 hari. Ini berarti membangun kesadaran kita sesungguhnya hanya Allah Yang Maha Besar. Betapa tidak berharga, sedikit dan kecil diri, ilmu, pengaruh, harta kekayaan dan jabatan kita. Subhanallah, Maha Suci Engkau Ya Allah. Bukankah kita seringkali tidak kuasa mengendalikan mulut, telinga, tangan, pikiran, syahwat perut, nafsu biologis, dan hati kita dari kontaminasi dosa.
Al Hamdulillah. Bersyukur atas nikmat dari Allah SWT yang tidak terhitung. Termasuk nikmat bisa berkurban. Bukan karena usaha kita semata, tetapi karunia dari-Nya. Laa ilaaha illallah. Tiada ilah yang eksis di dunia ini kecuali Allah. Kita dianjurkan untuk memperbanyak ucapan tahlil, berarti kita dituntut mengukir sebanyak mungkin amal shalih karena dorongan iman dan taqwa. Kalimat tahlil yang kita hayati dengan sepenuh hati, diucapkan dengan lisan dan digerakkan dengan seluruh anggota tubuh, semoga iman merasuk dan menghunjam di dalam jiwa kita.
Jika kita mengagungkan harta, jabatan, ilmu, pengaruh kita, maka saat itu Allah Yang Maha Besar kita pandang kecil. Seruannya kita persepsikan bagaikan suara yang berasal dari nun jauh di sana, terdengar sayup-sayup, suara serak-serak basah (QS. Fushshilat (41) : 44). Syariatnya, tidak kita junjung tinggi. Kita menyediakan diri untuk jatuh pada lubang kehancuran total.
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah [syariat Allah SWT] dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? (QS. Ibrahim (14) : 28).
Ketika kita mengelola nikmat harta, posisi, ilmu, tidak melibatkan-Nya, maka nikmat itu berubah menjadi niqmah (kebinasaan). Semua itu tidak menambah kebaikan kita.
…(siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Al-Anfal (8) : 53).
Besar harapan kita umat Islam Indonesia dan umat Islam di seluruh dunia tetap dalam ikatan persaudaraan Islam (ribathul ukhuwwah). Semakin hari bertambah kokoh. Karena tantangan yang dihadapi semakin berat. Menuntut tergalangnya solidaritas, saling bergandengan tangan dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Dan mendorong adanya pemerataan ekonomi dunia. Saling tawashou bilhaqqi, bishshabri, wabilmarhamah (saling menasihati dalam menetapi kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang).
Demikian pula, semoga tercipta suasana dialogis yang menyejukkan antara dua generasi. Generasi tua dan generasi muda. Dengan membuka dialog, akan terjadi proses regenerasi yang menyehatkan. Sehingga pewarisan nilai dan amal shalih tidak terjadi kemandekan. Demikianlah beberapa nilai education yang diserap dari Hari Raya Besar. Wallahu a’lam Bish Shawab.
Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com dan tinggal di Kudus