Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Orang Kaya Lebih Dipandang Jelek Oleh Al-Qur’an

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 Januari 2018 21:02 9:02 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 Januari 2018 21:02
Bagikan
Ilustrasi.
Bagikan

DI Al-QUR’AN hanya terdapat dua ayat yang menyebutkan istilah kaya sebagai predikat bagi manusia, yaitu ayat ke-135 surah An-Nisa’ dan ayat ke-7 surah Al-Hasyr. Kedua ayat tersebut memberi penerangan kepada manusia Muslim untuk mewaspadai keberadaannya. Bunyi ayat tersebut yaitu:

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian manusia yang benar-benar menegakkan keadilan (hakim), menjadi saksi karena Allah, biar pun terhadap diri kalian sendiri, atau ibu bapak, dan kaum kerabat kalian. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Oleh itu, janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kalian memutarbalikkan (kata-kat ), atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui segala apa yang kalian kerjakan.” (QS. An-Nisa’: 135).

Dilihat dari bentuknya, penjelasan ayat tersebut pada mulanya berupa ayat perintah, yaitu supaya manusia Muslim berlaku adil kepada siapa pun, walau terhadap dirinya sendiri. Jika memang bernilai keliru atau bertindak salah, tetapkanlah untuk menilainya sebagai hal yang keliru atau suatu kesalahan. Begitu pula dengan sebaliknya, jika memang bernilai kebenaran (dimaksud berada di pihak lawan sebagai saingannya).

Namun, setelah adanya kata ‘kaya‘, ayat tersebut berubah menjadi bentuk peringatan (ultimatum), yaitu, ‘janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran’. Hal ini dapat dipelajari bahwa fenomena orang kaya itu merupakan kelompok orang yang berkesempatan melakukan jalan kelicikan ketika hendak memperoleh nilai kemenangan dalam sistem peradilan. Yakni, bisa memainkan kekuatan hartanya dengan melakukan penyuapan atau kolusi terhadap badan penilai atau hakim, untuk menutupi atau menghilangkan kejelekannya yang ada pada dirinya. Maka dari ayat ini manusia Muslim diperintahkan supaya berhati-hati apabila berurusan dengan orang kaya; jika ia adalah penentu kebijakan dalam kehidupan bersama (bermasyarakat).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

“Apa saja (dari) harta rampasan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya, yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah (itu) untuk Allah, untuk Rasulullah, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Supaya harta itu jangan hanya beredar di kalangan orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr: 7).

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa apabila manusia Muslim memperoleh harta rampasan perang, yang makna luasnya adalah “segala harta halal yang telah diberikan oleh Allah kepada umat Islam di bumi Allah ini”, maka hendaklah ada pembagian untuk Allah, yaitu untuk membiayai kegiatan ibadah haji misalnya. Dan untuk Rasulullah, yaitu membiayai pelaksanaan dakwah Islamiyah, serta untuk menghidupi orang-orang yang lemah seperti kaum fakir, miskin, musafir (di jalan Allah) yang kehabisan bekal, supaya hidupnya lebih bisa sejahtera.

Itu artinya, supaya harta tersebut jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja. Sebab, sifat manusia itu cenderung suka terhadap kuda tunggangan (kendaraan mewah), wanita cantik, memanjakan anak atau memenuhi segala keperluannya. Yang intinya, ingin mempunyai harta yang lebih. Dan yang pertama kali berkesempatan untuk jatuh pada sifat berlebihan (tamak) semacam ini adalah orang kaya. Yaitu, dengan tindakan memonopoli perekonomian masyarakat untuk mendapatkan keuntungan materi sebanyak-banyaknya, seperti menguasai mulai dari bahan baku produksi sampai pada purna jual produksinya, guna mendapatkan keuntungan besar bagi pemenuhan gaya hidupnya.

Jadi, dari kedua keterangan ayat Al-Qur’an tersebut dapat diambil suatu pendefinisian tentang persoalan orang kaya; yaitu orang yang dalam menyelesaikan persoalan hidup lebih tampak bertumpu pada kekuatan nilai harta atau uang yang dimilikinya.*/Sudirman STAIL

Sumber buku: Mendidik Akal untuk Berpikir Islami. Penulis: ‘Abdul Muis.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bersikap adilorang kayaperedaran harta
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Politisi Jerman dari Partai Rasis AfD Arthur Wagner Masuk Islam
Tulisan selanjutnya Pemerintah Mesir Menangkap Jenderal ‘Penantang’ Presiden Al-Sisi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Berita
2 Juni 2026 19:00
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?