Hidayatullah.com– Seorang Muslim adalah seorang yang selalu istiqamah dengan petunjuk Allah, baik dalam ucapan maupun tingkah laku dan orang yang selalu mengambil hikmah yang Islami.
Prinsip Islam dalam meraih kehormatan adalah dengan membersihkan diri dari fitnah wanita, yaitu dengan mengarahkan diri sepenuhnya kepada Sang Khalik dan bukan kepada makhluk, sehingga tidak dihanyutkan oleh keindahan wanita cantik, apalagi sampai dapat merenggut hati dan akalnya.
Sementara para pecinta suci (platonic love) tidak lepas dari hal-hal yang dilarang. Mereka benar-benar telah terfitnah dan terpikat dengan perempuan serta telah hanyut seluruhnya kepada makhluk, bukan kepada Sang Khalik. Mereka dikendalikan di belakang kecantikan dan keayuan. Wanita benar-benar telah merenggut akal dan hatinya.
Baca: Merawat Amanah Cinta
Mereka kasmaran dengan kekasih-kekasihnya tanpa rasa malu dan rikuh sedikit pun. Mereka berdua-duaan dengan wanita yang bukan muhrimnya tanpa tameng dari agama atau peredam yang berupa ketakwaan.
Memang benar kalau dikatakan bahwa dari para pencinta sejati ada yang dapat menjaga diri mereka dari kenistaan dengan tameng keimanan dan terhindar dari keharaman karena sekat ketakwaan. Mereka benar-benar berwatak shiddiq dan ikhlas yang selalu mendekatkan diri kepada Allah, baik dalam keadaan sunyi maupun ketika di muka umum, serta senantiasa khawatir akan masalah hati yang senantiasa bergejolak dan niat buruk yang kadang terpendam dalam hati. Hal-hal seperti inilah yang merupakan hal paling mulia yang dapat meningkatkan derajat mereka pada tingkat yang paling suci dan mulia.
Seorang Muslim yang benar-benar Muslim adalah seorang yang selalu istiqamah dengan petunjuk Allah, baik dalam ucapan maupun tingkah laku dan orang yang selalu mengambil hikmah yang Islami; baik secara global maupun terperinci. Juga orang yang berjalan sesuai dengan syariah Islam; baik secara metodologis maupun hukum, teori dan juga praktik.
Sama halnya apakah seorang Mukmin itu berprofesi sebagai pekerja, pegawai, sastrawan, pengacara, atau hakim; baik yang kampungan maupun yang berbudaya, mereka semua adalah orang yang paling bertakwa selama dia tetap dalam petunjuk Allah dan di jalan yang benar.
Sedang para pengikut cinta platonis yang ceritanya banyak tersebar dalam berbagai kumpulan syair dan novel sastra; seperti kisah Qais dan Laila, Jamil dan Butsainah, Kutsayyir dan Izzah, serta yang lainnya, mereka semua dalam pandangan saya telah terjerumus –entah mereka sengaja atau tidak– dalam berbagai larangan syariah, khususnya pada cara mereka berhubungan dengan kekasihnya dan pada cara mereka berhubungan dengan wanita lain sebagaimana telah disinggung sebelumnya.
Dari mereka telah diterbitkan karya-karya yang muncul dari kelainan perasaan (sense) dan hilangnya keseimbangan dalam diri mereka. Mereka semua telah menderita penyakit kurus. Mereka telah mengambil jalan melawan kematian dan berbagai ancaman siksa dan penganiayaan.
Baca: Kehormatan Jangan Dijatuhkan, Kesalahan Jangan Dicari-cari
Mereka telah melepas kesatriaan dan kehormatannya sebagai anak Adam. Mereka telah berpaling dari cinta luhur yang tercermin dalam cinta kepada Allah, Rasul, dan jihad, untuk menuju kepada cinta murahan yang tercermin dalam kecantikan wanita yang tidak halal baginya.
Mereka telah mencampakkan potensi kemanusiaannya sehingga tidak mungkin sama sekali bagi mereka untuk merambah jalan menuju kehormatan yang berharga, keunggulan yang kokoh, dan peradaban yang gilang gemilang. Saat mereka berada dalam keadaan seperti ini syaraf-syarafnya kendur, jiwanya terserang penyakit, dan keberadaan dirinya menguap.
Padahal sesungguhnya Islam adalah agama yang realistis dan merupakan syariah kehidupan (way of life) sampai Allah mengguncangkan bumi dan seisinya (kiamat).
Termasuk contoh dari kerealistisan Islam adalah bahwa Islam tidak memposisikan masalah perasaan suka terhadap lawan jenis pada posisi pandangan yang serba menekan atau memusuhi. Bahkan disyariatkannya pernikahan bertujuan untuk merespons watak tersebut dan agar dapat sejalan dengan kecenderungan hasrat biologis yang telah dibentuk oleh Allah dalam diri manusia.
Untuk hal ini telah disampaikan beberapa hadits, di antaranya Al Baihaqi telah meriwayatkan Hadits dari Sa’ad bin Abi Waqash Radiyallahu Anhu bahwa Rasulullah berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengganti kita kerahiban dengan kerahiban yang halus dan toleran.”
Demikian juga Ath-Thabari dan Al Baihaqi meriwayatkan Hadits dari Rasulullah, sabdanya, “Barangsiapa yang menjadi kaya karena agar bisa menikah, kemudian (setelah kaya) tidak mau menikah, maka dia bukan termasuk golonganku.”
Rasulullah juga berkata kepada tiga orang yang datang bertanya tentang bagaimana ibadah Rasulullah, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Kalian semua yang telah bilang begini…dan begitu. Sungguh demi Allah, aku adalah orang yang paling takut terhadap Allah dan paling bertakwa kepada-Nya, meskipun begitu aku berpuasa dan juga makan (berbuka), aku shalat juga tidur dan menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku (perbuatanku), ia bukanlah golonganku.”*/ Muhammad Ibrahim Mabrouk, dalam bukunya Cinta dalam Perspektif Islam