Indramayu, 2 Februari 2016; Seorang pemuda asal Desa Cikedung Lor, Indramayu, ditangkap petugas satuan narkoba Polres Indramayu.
Pemuda itu diduga memiliki narkoba jenis sabu-sabu yang disimpan di kosannya.
Hasil keterangan sementara, pelaku menggunakan tempat kosannya untuk penyimpanan narkoba dan transaksi jual beli kepada pelanggannya.
Akibatnya, tersangka terancam hukuman penjara 5 tahun hingga 12 tahun penjara sesuai Pasal 114 ayat (1) UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.
Lain halnya terjadi di Tasikmalaya. Siswa kelas XI sebuah sekolah tingkat atas di Tasikmalaya nekat membobol rumah di Kamung Sindangwangi.
Ironis, sebab aksi itu dilakukan di sela bolos sekolah. Usai dipergok warga, siswa itu mengaku sudah dua pekan membolos.
Dari rumahnya, ia berseragam dan pamit menuntut ilmu. Namun selama itupula ia tak kunjung tiba di sekolah.
Dua beberan di atas hanyalah secuil fakta dari ratusan tindak kriminal yang dilakukan oleh pemuda atau remaja bangsa.
Tindak kejahatan yang melanda negeri ini, semakin meningkat dan seolah belum menemukan solusi.
Realitas tersebut makin menambah deretan keprihatinan dan kecemasan dari segenap lapisan masyarakat.
Sebagian masyarakat bahkan mungkin memicingkan mata terhadap sosok pemuda. Mereka hanya dianggap sebagai pembuat onar yang meresahkan masyarakat.
Sejatinya, berbicara tentang pemuda menjadi sesuatu yang menggairahkan. Ialah sosok ideal dengan segudang mimpi dan punya semangat berkobar.
Pemuda disebut berpotensi tumbuh dengan sempurna. Padanya terdapat ketegasan dan keberanian, mampu menyingkirkan segala yang merintangi tekadnya.
Ilmu yang dimiliki dikatakan mampu menentukan masa depan sebagaimana kreativitasnya melahirkan berbagai prestasi dan apresiasi.
“Nikmati saja hidup ini mumpung masih muda.” Terkadang kalimat yang tercetus dari mulut seseorang.
Tak sedikit manusia lalu membenarkan ucapan itu. Mereka berpikir, mengapa harus susah payah bersekolah dan kuliah, jatah hidupkan juga masih lama.
Buat apa susah memikirkan pelajaran, nikmati saja masa muda. Jika tua belum tentu bisa sebebas dan sebahagia ini.
Asumsi di atas tentu tak baik ditiru bagi pemuda Muslim. Sebab hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) yang tahu kapan ajal manusia tiba.
Bagi seorang Muslim, masa muda adalah masa memperbanyak amalan dan menanam benih kebaikan.
Mengukir prestasi sebanyak-banyaknya dengan cara memanfaatkan peluang sebaik-baiknya.
Syeikh Musthafa al-Galayani mengungkapkan dalam kitab Idha-atun Nasyi’in, pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.
Ungkapan tersebut merupakan sugesti istimewa yang patut disandarkan pada sosok pemuda Muslim. Perannya sebagai khalifah di muka bumi menjadi bukti daripada potensi besar itu.
Sejarah mencatat, kemajuan dan kemenangan agama Islam tak lain diawaki oleh semangat jihad sahabat yang notabene adalah pemuda-pemuda di belakang komando Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (Saw).
Disebutkan, jiwa muda para sahabat ketika itu menyatu dalam gelora jihad menjemput janji-janji Allah.
Ada sederet nama pemuda yang bisa disebut dalam sejarah peradaban Islam. Sebut misalnya, Ali ibn Abi Thalib, Abdullah ibn Abbas, Abdullah ibn Umar, Usamah ibn Zaid dan lain sebagainya.
Juga ada Umar ibn Abdul Aziz, gubernur muda Hijaz, Ibn Sina, dokter Muslim yang disebut menguasai berbagai cabang ilmu saat usianya baru menginjak 18 tahun, dan tentunya ada Muhammad al-Fatih, pemuda 21 tahun yang berhasil mewujudkan bisyarah (kabar gembira) Rasulullah dengan menaklukkan Konstantinopel saat itu.
Sebagai panduan hidup umat Islam, al-Qur’an mengumpulkan kisah sekaligus profil dan kriteria karakter seorang pemuda Muslim.
Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
Pertama: Memiliki keimanan yang teguh
نحن نقص عليك نبأهم بالحق إنهم فتية آمنوا بربهم وزدناهم هدى
“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.” (QS. Al-Kahfi [18]:13).
Sayyid Quthb berkata, mereka adalah remaja gagah dan pemilik badan kuat perkasa. Hati mereka teguh dengan iman tulus membaja, berpendidikan, dan bersikap tegas dalam menghadapi kemunkaran kaum mereka.
Senada, Aidh al-Qarni dalam “La Tahzan” menegaskan, tak ada sesuatu yang membahagiakan jiwa, membersihkannya, menyucikannya, membuatnya bahagia, dan mengusir kegundahan darinya, selain keimanan yang benar kepada Allah, Rabb semesta alam. Kehidupan akan terasa hambar tanpa iman.
Kedua: Melawan hawa nafsu
وراودته التي هو في بيتها عن نفسه وغلقت الأبواب وقالت هيت لك قال معاذ الله إنه ربي أحسن مثواي إنه لا يفلح الظالمون
“Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata: Marilah mendekat kepadaku. Yusuf berkata: Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukanku dengan baik.’ Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung.” (QS. Yusuf [12]: 23).
Kisah Nabi Yusuf selayaknya menjadi panutan bagi pemuda Muslim.
Yusuf memberi pelajaran bahwa melawan hawa nafsu dan menjaga kehormatan itu dilakukan dengan cara meminta perlindungan kepada Allah dan bersikap baik terhadap orang lain.
Perang melawan hawa nafsu adalah jihad yang berat. Di antara cara mengusir hawa nafsu adalah dengan selalu melakukan kegiatan yang bersifat positif.
Rasa malas atau keinginan yang batil sudah seharusnya terenyahkan dari sosok pemuda Muslim.* Arsyis Musyahadah, lulusan STIS Hidayatullah Balikpapan