Oleh: Dr. Adian Husaini
RASULULLAH Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Hampir tiba suatu masa dimana berbagai kaum mengepung kalian, bagaikan orang-orang yang lapar mengerumuni hidangan mereka.” Maka seorang sahabat Nabi bertanya: “Apakah karena jumlah kami yang sedikit pada hari itu?” Nabi menjawab: “Bahkan, pada hari itu jumlah kamu banyak, tetapi kamu (laksana) buih dari air yang mengalir; dan Allah Subhanahu Wata’ala akan mencabut rasa takut terhadap kalian dari hati musuh-musuh kalian; dan Allah Subhanahu Wata’ala akan menancapkan ke dalam hati kalian penyakit al-wahnu.” Seorang sahabat bertanya: “Apakah al wahnu itu Ya RasulAllah ?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Daud)
Di zaman seperti sekarang, kita, umat Islam, patut benar-benar merenungkan makna hadits Nabi Muhammad tersebut. Bahwa, ada satu zaman dimana kondisi umat Islam laksana buih. Jumlahnya banyak, tetapi tidak berharga; tidak disegani oleh musuh-musuh Islam. Ketika itu umat Islam ada dalam kondisi dikeroyok oleh berbagai kaum. Mereka yang mengepung umat Islam itu adalah manusia-manusia lapar yang meleleh air liurnya, sedang siap menerkam hidangan lezat. Mereka siap menerkam dan mencabik-cabik, melumat, dan menelan hidangan lezat di hadapannya.
Gambaran Nabi tentang kondisi umat Islam seperti itu mengejutkan para sahabat beliau yang mulia. Maka, seorang diantara mereka bertanya, apa sebab-musababnya, sehingga umat Islam menjadi makhluk lemah tak berdaya dan super-hina seperti itu? Apakah karena mereka berjumlah sedikit? Nabi pun menjawab, bahwa jumlah umat Islam itu banyak. Tetapi, mereka adalah “buih” air yang mengalir. Buih adalah benda tidak berharga; tidak bernilai, tidak diperhitungkan; mengikut saja kemana arus air mengalir.
Ketika itulah umat Islam menjadi bulan-bulanan berbagai kaum; menjadi ajang permainan; tidak berdaya dihadapan musuh-musuh yang sudah lama menunggu kesempatan mencabik-cabik mereka. Rasa takut, rasa segan, apalagi rasa hormat terhadap umat Islam tiada lagi. Lalu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menjelaskan akar masalah atau sumber penyakit umat Islam, yakni mereka terjangkit penyakit ganas bernama “al-wahnu”, yaitu penyakit cinta dunia dan takut mati. Ibarat virus HIV, penyakit al-wahnu kemudian menggerogoti daya tahan tubuh manusia. Berbagai virus atau bakteri penyakit – bahkan yang daya virulensinya lemah sekalipun – dengan leluasa merusak sel-sel dan jaringan tubuhnya.
Mari kita renungkan dengan pikiran jernih dan perasaan yang lapang! Apakah kondisi kita dan umat Islam sekarang ini seperti telah digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam ? Jumlah kita di Indonesia sekarang lebih dari 200 juta jiwa. Itu jumlah yang sangat besar. Jumlah kaum Yahudi di dunia saat ini saja tidak sampai 15 juta orang. Tetapi, dunia paham, bagaimana kedudukan dan kemampuan kaum Yahudi dalam menguasai berbagai bangsa, termasuk umat Islam. (Lihat: www.davidduke.com).
Kaum yang kecil ini masih terus menjajah, menista, dan membunuhi orang-orang Palestina. Bangsa Palestina yang berjuang untuk merebut kemerdekaan justru sering diposisikan sebagai pihak yang salah; diberikan julukan militan, radikal, dan teroris. Sementara negara Israel masih nyaman dengan aneka perilaku kejahatannya. Tak ada sanksi internasional yang diterimanya.
Israel masih saja menikmati dukungan dari negara AS dan khususnya kaum Kristen fundamentalis (Kristen-Zionis) yang mempercayai kejayaan negara Yahudi Israel sebagai prasayarat kedatangan Yesus kedua kalinya (the second coming of Christ). Meskipun membunuh ribuan warga jajahan Palestina, media-media massa internasional tidak menjuluki Benyamin Netanyahu sebagai seorang militan atau teroris Yahudi. Itu sangat berbeda dengan pelaku serangan 11 September 2001 dan Serangan Paris belum lama ini – siapa pun mereka. Para pemimpin dunia langsung meneriakkan para pelakunya sebagai teroris.
Di Indonesia, umat Islam bisa memahami dan merasakan, bagaimana dahsyatnya serbuan kaum Kristen GIDI di Papua terhadap masjid dan kios-kios umat Islam di sana. Serangan itu dilakukan ketika umat Islam sedang menjalankan shalat Idul Fithri. Pemerintah tahu itu. Umat Islam pun paham, bagaimana kemudian proses penanganan terhadap para pelaku. Mereka tidak disebut sebagai teroris atau diberikan label teroris Kristen. Entah sudah berapa puluh tentara dan polisi yang meninggal dibunuh di Papua. Hingga kini, pelakunya tidak disebut sebagai teroris. Mereka hanya disebut kelompok bersenjata.
Umat Islam merasakan ada sesuatu yang tidak adil; tetapi suara mereka seperti tersekat. Dari berbagai berita dan informasi yang beredar terus-menerus secara beruntun melalui media sosial dan media komunikasi umat – khutbah, majlis taklim, dan sebagainya – terbentuk pemahaman yang sama, bahwa umat Islam merasa diperlakukan tidak adil. Perasaan itu bisa terus terakumulasi, tertimbun dalam hati, seperti api dalam sekam. Semua kekacauan dunia ini ditimpakan kesalahannya kepada ISIS dan kelompok sejenis. Dulu, kesalahan itu ditimpakan kepada al-Qaeda (Al Qaidah). AS dan kawan-kawannya tidak pernah salah. Might is right. Yang kuat adalah yang benar.
Digelontorkan opini global, bahwa yang salah adalah kaum radikal. Liberal tidak salah. Umat Islam lalu dipaksa berpikir liberal, meskipun dengan kemasan baru. Dibuatlah opini, seolah-olah ada yang namanya “Islam Nusantara”, yang katanya berbeda dengan “Islam Arab”. Katanya, Islam Nusantara itu hebat sekali, karena bersifat damai dan toleran.
Sejumlah survei menggambarkan bahwa umat Islam Indonesia tidak toleran, karena tidak bisa menerima paham-paham dan aliran sesat. Umat Islam disuruh menerima paham dan apa saja, sehingga umat Islam layak menerima julukan “terhormat” sebagai umat yang toleran, berwawasan pluralisme dan multikulturalisme. Pokoknya telan saja!
Pada saat yang sama, umat Islam dan bangsa Indonesia dipaksa menerima aneka jenis hiburan yang “melenakan” jiwa bangsa.
Berbagai perilaku amoral, mengumbar aurat, melecehkan norma dan akal sehat, terus-menerus diberikan tempat terhormat di layar kaca. Semua atas nama kebebasan. Paham liberalisme ekstrim yang membongkar nilai-nilai moral agama dan kesopanan pun bebas dijejalkan kepada masyarakat. Lalu, disela-sela tontonan yang memanjakan syahwat, diselipkan iklan perlunya bangsa Indonesua melakukan revolusi mental. Apa definisinya? Telan saja dulu.
Dari berbagai pertanyaan yang muncul dalam forum-forum kajian dan perkuliahan, saya memahami adanya keresahan umat Islam di Indonesia terhadap diri dan bangsa mereka. Sebagai mayoritas, umat Islam seperti merasakan adanya kekuatan dahsyat yang mengeroyok diri dan keimanan mereka. Ironisnya, umat Islam merasa tidak berdaya, karena mereka berhasil dipecah belah dan diadu-domba. Devide et impera! Artinya, pecah belah dan adu domba! Sebagian tokoh dan kalangan umat Islam diangkat, diberikan tempat terhormat, untuk digunakan menyerang kelompok lain. Ratusan tahun kekuatan penjajah – yang kecil jumlahnya – berhasil memecah belah bangsa Indonesia dan kemudian dengan leluasa mengeruk kekayaan alam negeri kita.
Sepatutnya, umat Islam mau belajar dari sejarah.
Lihatlah saat ini, kondisi bangsa kita sendiri! Para politisi yang semua mengaku sebagai patriot dan cinta bangsa, terlibat tindakan saling jegal, saling caci-maki, dan saling hujat, untuk mengangkat diri dan kelompoknya dengan menjatuhkan politisi lain. Rakyat diajari para elite bangsa untuk terus-menerus terlibat dalam pelestarian dendam dan kebencian. Rasa kasih sayang pada sesama perlahan-lahan sirna bersamaan dengan meruyaknya kebebasan saling caci di media sosial.
Mungkin, kondisi umat Islam saat ini bisa diumpamakan laksana seorang musafir yang dirampas harta bendnya dan dilucuti pakaiannya. Yang tersisa tinggal celana kolor, jiwa, pemikiran, dan keimanannya. Si musafir masih bersyukur, ada yang tersisa. Tapi, si perampas masih tidak puas. Pikiran dan jiwanya pun hendak dilucuti pula. Ia tidak boleh lagi berpikir dan meyakini bahwa agamanya sendiri yang benar. Dengan mudahnya ia mendapat julukan garis keras, fundamentalis, radikal, intoleran, dan sebagainya. Bagi kaum kafir, iman dianggap tidak penting.* (BERSAMBUNG)
Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com