Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Ramai-Ramai Mengeroyok Umat Islam [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Desember 2015 17:35 5:35 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Desember 2015 13:01
Bagikan
Kartun karya Glen Le Lievre
Bagikan

Bersambung artikel PERTAMA

Oleh: Dr. Adian Husaini

Bahkan, ada yang menyebut, keyakinan beragama sebagai sumber konflik umat beragama. Disebarkanlah paham pluralisme yang meminta umat Islam mengakui kebenaran semua agama; atau minimal ‘pluralisme kewargaan’ yang mengajak umat Islam memiliki pandangan dan sikap bahwa keimanan, kesesatan, dan kekufuran harus diperlakukan sama di ruang publik; diberikan perlakuan dan anggaran yang sama. Katanya, itu demi HAM dan kebebasan beragama; Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) mereka pandang lebih suci dan lebih tinggi martabatnya dibandingkan dengan al-Quran. Dengan alasan, negara Indonesia bukan negara Islam. Mereka tidak ridho jika umat Islam punya iman yang kokoh, karena dianggap membahayakan eksistensi dan kenyamanan kekufuran.

Semoga kita masih berakal sehat. Jika seorang yang mengaku muslim menyatakan, bahwa iman dan kufur, tauhid dan syirik adalah sama saja, lalu apa artinya keimanan bagi dirinya? Jika ada polisi mengatakan, bahwa korupsi dan tidak korupsi sama saja, maka apa artinya ia jadi polisi? Maka, sungguh aneh jika para para ulama dan pejabat yang muslim berdiam diri ketika ada seorang kepala daerah dengan sengaja dan terang-terangan mengembangkan paham kemusyrikan, dengan alasan mengembangkan kebudayaan atau kebijakan lokal (local wisdom).

Padahal, setiap hari, seorang muslim senantiasa memanjatkan doa untuk Nabi Muhammad   dan Nabi Ibrahim a.s. dalam shalatnya.  Ketangguhan dan kegigihan Nabi Ibrahim a.s. dalam melawan kemusyrikan sungguh luar biasa.  Beliau harus berhadapan dengan raja, masyarakat, dan bahkan orang tuanya sendiri. Nabi Muhammad   pun memberikan keteladanan bagaimana membersihkan patung-patung di dalam Ka’bah. Apa yang akan dikatakan sang kepala daerah dan  pejabat yang mengaku muslim kepada Allah Subhanahu Wata’ala   di akhirat nanti jika mereka ditanya tentang maraknya pembuatan dan penyembahan patung-patung? Belum lagi pertanggungjawaban penggunaan anggaran negara yang seharusnya memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok, seperti pendidikan, pekerjaan, pangan, sandang, papan, dan seterusnya.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Nativisasi

Dalam buku Percakapan Antar Generasi: Pesan Perjuangan Seorang Bapak, Mohammad Natsir menyebutkan, ada tiga tantangan dakwah yang dihadapi umat Islam Indonesia saat ini, yaitu (1) Pemurtadan, (2) Gerakan sekularisasi dan (3) gerakan nativisasi.  Dalam nasehat yang disampaikan kepada M. Amien Rais dan kawan-kawan, Pak Natsir mengingatkan perlunya umat Islam mencermati dengan serius gerakan nativisasi yang dirancang secara terorganisir, yang biasanya melakukan koalisi dengan kelompok lain yang juga tidak senang pada Islam, apakah golongan Kristen maupun golongan sekularis sendiri.

Nativisasi adalah usaha untuk mengecilkan peran Islam dalam sejarah dan pembangunan bangsa. Digambarkan seolah-olah Islam adalah biang keladi kehancuran kejayaan bangsa yang disimbolkan dengan kejayaan Majapahit. Gara-gara perkembangan dakwah Islam – yang dilakukan terutama oleh Wali Songo – Majapahit hancur. Maka, secara diam-diam dan terus-menerus, dirancang strategi untuk merusak keimanan umat Islam dengan cara mengembangkan paham syirik dengan aneka rupa istilah indah-indah, sejenis ”local wisdom” dan sebagainya. Islam diletakkan sebagai ”virus asing” yang bertentangan dengan budaya lokal. Uniknya, pengembangan tradisi syirik di tengah kaum muslim, tak jarang mendapat sokongan pejabat dan pihak asing.

Sebagian kalangan Hindu, bahkan bernafsu ingin mengambalikan orang Jawa agar memeluk kembali agama Hindu. Majalah Media Hindu (Oktober, 2011) menulis: “Kembali menjadi Hindu adalah mutlak perlu bagi bangsa Indonesia apabila ingin menjadi Negara Adidaya ke depan, karena hanya Hindu satu-satunya agama yang dapat memelihara & mengembangkan Jatidiri bangsa sebagai modal dasar untuk menjadi negara maju.”

Salah satu proyek nativisasi yang terkenal adalah diterbitkannya kitab Darmogandul yang sangat melecehkan Islam. Dalam Tesis masternya di Program Magister Pemikiran Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, Susiyanto menunjukkan beberapa paragraf dalam Kitab Darmogandul,  yang secara tersurat mencita-citakan kekristenan orang-orang Jawa: “Serat ‘Arab djaman wektu niki,sampun mboten kanggo,resah sija adil lan kukume, ingkang kangge mutusi prakawis, Serate Djeng Nabi, Isa Rahu’llahu. Artinya,  Serat Arab jaman waktu ini sudah tidak terpakai, hukumnya meresahkan dan tidak adil, yang digunakan untuk memutusi perkara Serat Kanjeng Nabi Isa Rahullah. ”Wong Djawa ganti agama,  akeh tinggal agama Islam bendjing,  aganti agama kawruh, …. Yang artinya, “Orang Jawa berganti agama, besok banyak yang meninggalkan Islam, berganti (menganut) agama kawruh (agama budi)”.

Kitab Darmogandul yang tidak diketahui penulisnya hingga kini, adalah kitab yang ditujukan untuk melecehkan Islam, dan mengagungkan budaya lokal. Para Wali Songo digambarkan sebagai manusia-manusia yang tidak tahu balas budi yang mengkhianati Raja Majapahit. Prof. HM Rasjidi, Menteri Agama Pertama RI,   pernah menulis dan menerjemahkan Darmogandul yang banyak memuat pelecehan terhadap Islam. Dalam salah satu bait Pangkur-nya serat ini menulis:

“Akan tetapi bangsa Islam, jika diperlakukan dengan baik, mereka membalas jahat. Ini adalah sesuai dengan zikir mereka. Mereka menyebut nama Allah Subhanahu Wata’ala, memang Ala (jahat) hati orang Islam. Mereka halus dalam lahirnya saja, dalam hakekatnya mereka itu terasa pahit dan masin.”

Ada lagi ungkapan dalam serat ini: “Adapun orang yang menyebut nama Muhammad,  Rasulullah Shallallahu  ‘Alaihi Wa Sallam, nabi terakhir. Ia sesungguhnya melakukan zikir salah. Muhammad artinya Makam atau kubur. Ra-su-lu-lah, artinya rasa yang salah. Oleh karena itu ia itu orang gila, pagi sore berteriak-teriak, dadanya ditekan dengan tangannya, berbisik-bisik, kepala ditaruh di tanah berkali-kali.”

 “… Saya mengira, hal yang menyebabkan santri sangat benci kepada anjing, tidak sudi memegang badannya atau memakan dagingnya, adalah karena ia suka bersetubuh dengan anjing di waktu malam. Baginya ini adalah halal walaupun dengan tidak pakai nikah. Inilah sebabnya mereka tidak mau makan dagingnya.”

Menyimak berbagai peristiwa yang menimpa umat Islam di Indonesia dan berbagai dunia, patutlah kita merenung, apakah kondisi kita saat ini seperti yang sudah dinubuatkan oleh Nabi Muhammad  ? Jika benar, kita patut melakukan diagnosa yang menyeluruh, untuk menemukan sumber penyakitnya, dan kemudian kita lakukan terapi kausalis dan simptomatis sekaligus! Tujuannya, agar penyakit itu tidak kambuh lagi di masa depan. Allahu A’lam.*/Depok, 4 Desember 2015

Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:baratDevide et imperaislamNativikasiyahudi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Solusi Cerdas Atasi HIV/AIDS
Tulisan selanjutnya Presiden Turki Buka Pameran Buku Doha International ke 26

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bom di terowongan tewaskan tentara Israel
Berita

Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Berita
1 Juni 2026 15:00
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?