Oleh: Abdullah Sholeh Hadrami
SEMENJAK di pesantren saya bercita-cita untuk melanjutkan belajar ke Timur Tengah. Beberapa kali ikut tes masuk di Universitas Islam Madinah KSA tapi tidak pernah lulus, padahal sempat rangking satu dalam tes tersebut yang saat itu dipimpin Syeikh Prof Dr Muhammad Khalifah At-Tamimi hafidhahullah.. Ternyata Allah mempunyai rencana lain, saya mendapat beasiswa melalui Yayasan Al-Sofwa Jakarta untuk mulazamah [berguru intensif] kepada Syeikh Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah di Unaizah Al-Qasim KSA, sebuah kesempatan emas yang tidak mudah untuk diraih, Alhamdulillah, puji syukur hanya untuk Allah kemudian terima kasih kepada semua pihak yang terkait.
Allah berikan kesempatan kepada saya untuk bermulazamah kepada Syeikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah selama empat tahun, mulai 1997 sampai 2001 M atau akhir 1417 H sampai Beliau wafat 1421 dan kami pulang ke Indonesia akhir 1421 H.
Banyak pelajaran yang kami dapat selama kami bermulazamah di Unaizah Al-Qasim KSA diantaranya berhubungan dengan Az-Zahrowain.
Pada suatu hari saya dan sahabat sekaligus Guru saya, Syeikh Abul Hasan Ali bin Salim bin Ya’qub Bawazir rahimahullah diundang sarapan di rumah Syeikh Prof Dr AbdurRahman Ad-Dahsy hafidhahullah, murid senior Syeikhuna Syeikh Al-Imam Al-‘Allamah Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin rahimahullah dan salah satu dari tiga pengganti di majlis Beliau sepeninggal Beliau.
Suasana pada saat sarapan di rumah Syeikh Prof Dr AbdurRahman Ad-Dahsy hafidhahullah cukup hangat, akrab dan indah sekali, kami merasa senang dan bahagia dekat dengan para ulama.
Syeikh Prof Dr AbdurRahman Ad-Dahsy hafidhahullah orangnya ramah, penuh kasih sayang dan lembut hatinya selembut wajahnya yang teduh dan memancarkan ketenangan dan kedamaian.
Ketika sedang beramah tamah tiba-tiba saya dikagetkan bak disambar petir oleh pertanyaan Beliau yang langsung masuk ke lubuk hati terdalam..
Beliau bertanya kepada saya:
حفظت القرآن؟ حفظت الزهراوين؟
“Apakah kamu sudah hafal Al-Qur’an? Apakah kamu sudah hafal Az-Zahrowain?”
Pertanyaan Beliau ini menjadi cambuk bagi saya pada saat itu untuk lebih serius lagi menghafal Al-Qur’an terutama Az-Zahrowain dan alhamdulillah hasilnya adalah diantara hafalan saya yang paling mutqin (mantap dan kuat) pada saat itu adalah Az-Zahrowain karena disamping menghafalnya juga selalu di-muraja’ah dengan membacanya dalam setiap shalat malam.
Ketika di Unaizah kami juga berguru kepada Fadhilatusy Syeikh Prof Dr AbdurRahman Ad-Dahsy hafidhahullah berbagai bidang ilmu diantaranya kitab “Mukhtashar Shahih Muslim” karya Al-Imam Zakiyyuddin Abu Muhammad Abdul ‘Adhim bin Abdul Qowiy Al-Mundziri rahimahullah yang merupakan ringkasan “Shahih Muslim” karya Al-Imam Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi rahimahullah.
Diantara hari-hari terindah dalam hidup saya adalah empat tahun ketika di Unaizah Al-Qasim KSA, hidup bersama para ulama dan para penuntut ilmu yang sangat mendalam ilmunya dan sangat mulia akhlaknya.. Ooh betapa rindunya..
Berikut ini penjelasan seputar Az-Zahrowain
Az-Zahrowain adalah sebutan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam untuk surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan melalui jalan Sahabat Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda:
(اقرؤوا القرآن؛ فإنّه يأتي يومَ القِيامِة شفيعاً لأصحابهِ؛ اقرؤوا الزّهراوينِ: البقرةَ وسورةَ آلِ عمرانَ؛ فإنّهما تأتيانِ يومَ القِيامِة كأنّهما غمامتانِ، أو كأنّهما غيايتانِ، أو كأنّهما فِرقان من طيرٍ صوَافّ، تحاجَّانِ عن أصحابِهما؛ اقرؤوا سورةَ البقرِة؛ فإنّ أخذها برَكةٌ، وتركها حسرةٌ، ولا يستطيعها البَطَلةُ).
Artinya:
“Bacalah Al-Qur`an, karena Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat nanti memberi syafa’at kepada para sahabatnya (Sahabat Al-Qur’an). Bacalah Az-Zahrowain, yaitu Al-Baqarah dan Ali ‘Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat nanti, seperti dua tumpuk awan yang menaungi para sahabat keduanya (Sahabat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran), atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang berbaris membela para sahabat keduanya (Sahabat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran). Bacalah surah Al-Baqarah, karena mengambilnya (membaca, mempelajari dan mengamalkannya) adalah berkah dan meninggalkannya adalah penyesalan. Dan para penyihir tidak akan dapat menghafalkannya (atau tidak mampu mengganggu para pembacanya).”(HR. Imam Muslim dalam shahihnya, Imam Ahmad, dll)
Berkata Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim ketika menjelaskan makna Az-Zahrowain: “Keduanya (Al-Baqarah dan Ali ‘Imran) dinamakan Az-Zahrowain karena cahaya keduanya dan petunjuk keduanya serta besarnya pahala keduanya”.
Berkata Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah dalam “Ikmalul Mu’allim”:
“Makna Az-Zahrowain adalah dua cahaya yang bersinar karena keduanya (Al-Baqarah dan Ali ‘Imran) memberikan hidayah petunjuk kepada pembacanya atau karena pahala keduanya menyebabkan pembacanya mendapat cahaya pada hari kiamat nanti”.
Berkata Al-Hafidh Zainuddin AbdurRauf Al-Munawi rahimahullah dalam “As-Sirajul Munir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir”:
“Makna Az-Zahrowain adalah dua cahaya yang bersinar. Keduanya (Al-Baqarah dan Ali ‘Imran) dinamakan dengan nama tersebut karena banyaknya cahaya hukum-hukum syari’at dan nama-nama Allah dalam keduanya atau karena keduanya memberikan hidayah petunjuk kepada pembacanya”.
Diantara keutamaan keduanya pula disebutkan oleh Sahabat Anas Ridhiyallahu ‘Anhu:
من فضلهما أن قال فيهما أنس رضي الله عنه:
“كان الرجل إذا قرأ البقرة وآل عمران جد فينا _ يعني عظم _ ”
رواه الإمام أحمد في المسند (12236), وقال شيخ الإسلام ابن تيمية في الصارم المسلول (123):”هذا إسناد صحيح.
“Dahulu orang yang membaca (hafal dan faham) surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran adalah dianggap agung (mulia) diantara kami”. (Riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad. Berkata Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah dalam Ash-Shorimul Maslul: Ini sanadnya shahih).
Surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran adalah dua surat agung lagi mulia yang di dalamnya penuh berisi hukum-hukum, adab-adab, kisah-kisah dan nasehat-nasehat.
Semoga tulisan singkat ini bisa menjadi sumber informasi, motivasi dan inspirasi untuk lebih cinta Al-Qur’an sehingga kita masuk dalam golongan “Ahlul Qur’an” [Keluarga Al-Qur’an] dan “Shohibul Qur’an” [Sahabat Al-Qur’an], yang “Hidup Di Naungan Al-Qur’an”, selalu membaca, memahami dan mengamalkannya sehingga kita menjadi sukses, bahagia dan selamat dunia akhirat, aamiin.*
Jum’at 22 April 2016/14 Rajab 1437 H. Ditulis di Pondok Pesantren Al-Irsyad Tengaran Salatiga ketika mengunjungi anak pertama Abdul Qowiy bin Abdullah Hadrami hafidhahumallah dan disempurnakan di Hotel Masjid Jogokariyan Yogyakarta DIY
twitter: @AbdullahHadrami