Hidayatullah.com– Islam merupakan agama yang mencerahkan bagi kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan universal. Pencerahan merupakan nilai keutamaan yang tertanam dalam segenap kebaikan jiwa, pikiran, sikap, dan tindakan yang maslahat, berkeadaban, dan berkemajuan.
Dengan berislam yang mencerahkan, setiap Muslim senantiasa menyebarkan akhlak mulia yang menebar ihsan yang melampaui sekaligus rahmat bagi semesta alam.
Demikian rangkuman pokok pikiran yang disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr Haedar Nashir, dalam pidato pembukaan Pengkajian Ramadhan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang diselenggarakan pada 12 Mei sampai 14 Mei, bertempat di Institute Teknologi Bisnis Ahmad Dahlan, ITB-AD, Ciputat, Jakarta, Ramadhan 1440H.
Baca: Ketika Ulama Dizalimi
Disebutkan, sebaliknya Islam melarang umatnya menyebarkan akhlak yang tercela (al akhlaq al-madzmumah) yang membawa kerusakan di muka bumi (fasad fil-ardl ). Jika Islam dihayati secara murni, maka setiap Muslim menjadi cerah hati, pikiran, sikap, dan tindakannya.
Tema ini, menurut Haedar, diangkat sebagai tindaklanjut dari tanwir. Agar pemikiran tanwir tidak hanya jadi teks yang indah tapi menjadi komitmen dan dilaksanakan dalam persyarikatan Muhammadiyah dan peran kebangsaan dan peran global.
“Kita sudah lama memperkenalkan istilah pencerahan. Ini sudah menjadi gugusan pemikiran, dan menjadi perspektif pemikiran Muhammadiyah, bahkan jadi tema muktamar di Malang 2005 dan 2010 jadi penguatan gerakan Muhammadiyah abad ke-2. Jadi kata pencerahaan ini menjadi mata rantai dari berkemajuannya gerakan Muhammadiyah dari abad pertama,” jelas Haedar.
Dalam rentang satu abad Muhammadiyah bergelut dengan isu kemajuan, yang merupakan asli pemikiran Ahmad Dahlan. Kata ini terus menggelinding, tahun 38 dilanjutkan oleh KH Mas Mansur, kemudian terkandung dalam 12 langkah Muhammadiyah.
Pemikiran-pemikiran Muhammadiyah ini disebut sangat sistematis. Ada juga 5 pemikiran Muhammadiyah tahun 54-55, tahun 68 lahir MKCH, tahun 78 lahir khittah. Kemudian lahir pedoman hidup Muhammadiyah. Tahun 2010 lahir pernyataan abad kedua, kemudian yang terbaru ialah pemikiran Darul ahdi Wasyahadah.
Pikiran-pemikiran Muhammadiyah tercatat dalam neberapa risalah. Ada pidato resmi Ahmad Dahlan tentang Tali Pengikat Hidup. Ada juga 17 pokok ajaran Ahmad Dahlan. Ada juga pokok ajaran al-Qur’an, ada juga ajaran al Asr sekitar 7 bulan. Ada juga ajaran tentang akal pikiran murni. Di sana jg ada pemikiran kemajuan dan pemimpin kemajuan. Ini pemikiran-pemikiran fundamental dalam gerakan Muhammadiyah, sebutnya.
Hasanah ini sangat jarang terungkap. Akhir-akhir ini kemudian digali lagi dan disistematisasi. Pada zaman Syafii Maarif maka digelindingkan kata Pencerahan. Ini adalah khazanah Muhammadiyah yaitu tentang Tanwir yang dikodifikasi tahun 1935 yang dimulai sidang tanwir tahun 1935 di Banjarmasin. Ini pikiran asli Muhammadiyah, katanya.
Dijelaskan, kata tanwir diambil dari kata noor, yaitu cahaya (memantulkan cahaya). Makna naaro mengeluarkan terang dan enerji. Makna arro’yu yaitu akal pikiran. Dimensi cahaya cahaya yang otentik dan menghidupi juga akal yang membuat kehidupan yang remang-remang menjadi terang benderang. “Inilah yang kita ambil menjadi kata pencerahan,” lanjut Haedar.*