Hidayatullah.com–Lebih berat mana, dites di hadapan juri lomba hafiz tingkat internasional atau di depan para kiai dan ratusan santri?
Nah, yang bisa menjawab itu Deden Muhammad Makhyaruddin (32). Ia pernah mewakili Indonesia dalam Musabaqah Tahfiz, Tajwid, dan Tafsir Al-Quran (MTQ) Internasional di Maroko pada 2011. Diikuti 62 negara, Deden berhasil keluar sebagai juara pertama untuk kategori tahfiz dan tafsir.
Suatu ketika Deden dibawa Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) untuk menghadiri wisuda 30 juz Ma’had Tahfiz Al Qur`an Pesantren Al Amin Madura. UBN minta Deden tampil ke depan. Di situlah ayah dua anak kelahiran Cianjur, Juli 1986 ini “dikerjain” UBN.
Di hadapan para kiai, wali santri dan ratusan santri, ia dites hafalannya. Awalnya menolak, namun UBN berhasil membuat kandidat doktor Perguruan Tinggi Ilmu Al Qur`an Jakarta ini tak berkutik. “Wah, sudah sering saya dikerjain Ustadz Bachtiar,” kata Deden.
UBN minta seorang kiai membacakan ayat, tugas Deden meneruskan. Berhasil. Deden sukses menyambungkan ayatnya. Tes kedua, seorang ibu minta dibacakan lima ayat terakhir dari Surat Az-Zumar sekaligus tafsirnya. Kali ini senyumnya Deden mengembang lebar. Benar, ia lancar menjawab.
Setelah turun panggung, pria murah senyum ini menjadi bintang. Ia dikerubuti para kiai dan wali santri. Deden memang brilian. Prestasinya dalam menghafal al-Qur’an lengkap. Mulai dari tingkat kecamatan, kebupaten, provinsi, nasional dan internasional. Semua juara satu.
Lebih istimewa lagi, kemampuannya dalam menghafal. Sangat cepat. Dalam waktu 19 hari ia sudah berhasil menghafalkan 30 juz.
Lalu, bagaimana dengan pertanyaan di atas?
“Wah, lebih berat di tes di hadapan santri he..he..,” katanya ditemui di komplek Pesantren Hafiz Al Mutaqimiyyah, Bogor, beberapa waktu lalu.
Lantas, bagaimana bisa menghafal demikian cepat? Apa dampaknya menghafal al-Qur’an pada masa depan?
Cepatnya saya menghafal al-Qur`an 30 juz bagi saya itu kelemahan. Bukan kelebihan. Lho?
Saya yakin, begitu Allah memberi hafalan yang cepat, secepat itu pula Allah bisa mengambilnya. Sehingga setelah khatam, saya buru-buru memuroja’ah (mengulang hafalan) sampai khatam lagi. Muroja’ah itu terus saya lakukan tiap hari 10 juz selama 3 tahun. Bahkan seringkali lebih.
Setelah 3 tahun, target minimal Muroja’ah saya kurangi menimal 5 juz sehari. Alhamdulillah, itu berlangsung mulai tahun 2002 hingga sekarang.
Bukankah Muroja’ah lebih banyak lebih baik?
Muroja’ah itu ada tahapannya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam khatam 30 juz dalam 10 hari. Berarti sehari beliau Muroja’ah 3 juz. Inilah yang terbaik. Selain lebih tartil dan khusyuk, juga tadabburnya akan lebih dalam. Saya belum berani sehari 3 juz. Kalau tradisinya para Sahabat, seminggu khatam.
Bagaimana metodenya sehingga Anda bisa cepat?
Pertama, saya menghafal dalam keadaan puasa sehingga lebih banyak waktu.
Kedua, saya menghafal itu sebagai puncak dari rangkaian pencarian ilmu saya di pesantren. Sebelumnya, saya sudah menguasai nahwu, balaghah dan sorof. Saya juga belajar mantiq, ushul fiqh, tafsir dan hadits.
Ketiga, saya sama sekali tidak ada keinginan menghafal dengan cepat. Saya hanya ingin hari-hari saya berayat atau berqur’an. Jadi apapun saya, apakah ustadz, petani atau kuli, jika sudah punya ayat di hati, yakin saya bakal bahagia. Bahkan andaikan saya jadi kuli bangunan, saya ingin jadi kuli yang hafal al-Qur’an. Kuli yang setiap hari baca al-Qur’an.
Apa yang mendorong Anda menghafal al-Qur’an. Mungkin di suruh orangtua?
Tidak ada yang menyuruh. Tidak disuruh kiai, juga bukan disuruh orangtua. Waktu itu saya merasa hidup saya tidak aman. Orangtua tidak punya. Kalau dibilang ada, tidak jelas keberadaannya di mana.
Sejak bayi Deden diasuh kakeknya, KH Muhammad Maghfur, pemangku Pesantren Raudlatul Mutoallimin, Cianjur. Kedua orangtuanya bercerai dan masing-masing menikah lagi.
Kedua, tidak punya apa-apa. Anak lain ada yang membiayai, yaitu orangtua. Saya tidak. Saya hidup sendiri. Tak mungkin saya minta kepada paman-paman. Di sisi lain, apa yang saya peroleh di pesantren belum bisa membuka jalan hidup menuju masa depan yang lebih baik. Dalam pikiran saya, mencari duit ya harus dengan bekerja.
Bukankah Anda mengajar di pesantren?
Mengajar di pesantren tradisional tidak ada gajinya. Saya justru numpang makan pada nenek. Dan nenek juga tidak ada pemasukan.
Jadi saya tak punya bayangan mau jadi apa. Yang terbayang, saya akan jadi seperti anak-anak seusia saya di kampung itu. Jadi pekerja keras, apapun pekerjaannya. Yang peting bisa untuk makan hari itu.
Karena sudah mendapat ilmu, mestinya pikiran berkembang…
Memang kemudian saya berfikir, jika dunia tidak dapat, minimal saya dapat akhirat. Maka saya kuatkan untuk mengejar akhirat. Namun, akhirat itu juga tidak akan dapat, kecuali saya hidup bersama al-Qur’an. Jadi, awalnya tak berfikir untuk menghafal. Yang terpikirkan, di mana dan kapan pun bisa pegang al-Qur’an dan selalu ada waktu untuk membacanya.
Jika kemudian terdorong untuk menghafal, karena saya berfikir, pasti suatu saat nanti ada waktu dimana saya tak sempat membaca al-Qur’an, bahkan sekedar untuk memegang. Itu berarti saya harus hafal. Maka sejak itu saya bertekad bulat menghafal al-Qur’an. Ilmu-ilmu yang sebelumnya saya pelajari di pesantren saya abaikan. Sebab ilmu-ilmu itu belum terasa konek dengan kehidupan. Padahal saya sudah banyak mengkhatamkan kitab. Tapi semua itu belum bisa menjadi solusi masa depan saya.* (BERSAMBUNG)