Hidayatullah.com–Menghabiskan bulan suci Ramadhan di Maroko berbeda dari tempat lain. Selain ritual keagamaan dilakukan selama bulan ini, kebiasaan sosial tertentu di dunia Islam berbeda dari satu negara ke negara lain. Praktek Ramadhan dalam kontek Maroko adalah pengalaman yang sangat menyenangkan di mana disana dapat ditemui tradisi khas, masakan lezat, dan semangat solidaritas yang tinggi.
Setiap bulan ramadhan Maroko mempunyai tradisi unik yang tidak di temukan di negara-negara lain, di antaranya adalah “pengajian raja” yang disebut dengan durus hasaniyyah hingga saat ini masih tetap eksis. Pengajian tersebut di adakan oleh Raja Maroko yang dilaksanakan seminggu sekali selama bulan ramadhan, kali ini ada dua perwakilan dari Indonesia yang menghadiri acara ini. Pertama Dr. KH. Hamdan Rasyid, MA (ketua MUI DKI Jakarta) dan Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, MA (Purek UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).
Tradisi unik lainnya yang melibatkan semua lapisan masyarakat Maroko adalah tatkala menyambut datangnnya malam Lailatul Qadar, jutaan orang Maroko mencurahkan sebagian besar waktu mereka untuk meperbanyak doa dan membaca Al-Quran selama Lailatul Qadar (Malam Seribu Bulan) yang diperingati setiap malam ke 27.
Belum jelas juga, dari mana dalil yang di jadikan landasan bahwa datangnya malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke 27, yang jelas acara ini sudah menjadi tradisi dan terus mengakar hingga sekarang.
Umumnya, para orangtua menyuruh anak-anaknya yang msih berumur 5 sampai 10 tahun untuk memakai pakain tradisional dan pergi ke negafa. Negafa adalah wanita yang mepersiapkan baju pengantin untuk pernikahan. Dia memiliki semua pakaian jenis tradisional, pakaian lokal dan internasional serta aksesoris untuk menghias pengantin wanita. Setelah di dandani layaknya pasangan penganten kemudian di lanjutkan dengan foto keluarga dan sanak keluarga.
Saat ini, banyak keluarga cenderung pergi ke studio foto yang sudah menyediakan pakaian tradisional dengan komplit agar tidak mengeluarkan banyak biaya.
Kegiatan semacam ini untuk mengekspresikan kebahagiaan mereka dengan di lanjutkan mendatangi tempat kerumunan orang banyak dan tempat-tempat umum lainnya seperti taman-taman yang berada di samping jalan raya sehingga mengakibatkan jalammya arus lalu lintas menjadi macet.
Acara ini berlangsung sampai adzan maghrib tiba, setelah buka bersama warga kembali berduyun-duyun mendatangi masjid untuk melaksanakan shalat isya dan tarawih berjamaah. Mulai shaf paling depan hingga kebelakang taka da satupun yang kosong , banyaknya jamaah malam itu menjadikan pelataran masjid di penuhi oleh jamaah tarawih, bahkan tidak sedikt yang emnjadikan taman-taman di sekitar masjid di jadikan sebagai tempat untuk shalat.
Setelah selesai shalat tarawih ereka tidak langsung pulang, hanya anak-anak kecil yang disuruh pulang kerumah, sementara orang tuannya beri’tikaf di masjid sampai jam 02.00 malam. Inilah tradisi orang Maroko saat menyambut malam Lailatul Qadar.*/Penulis Kusnadi El Ghezwa adalah mahasiswa s1 Imam Nafie Tangeir, Maroko