Hidayatullah.com– Saya seorang Muslimah yang menikah dengan seorang dokter Muslim kebangsaan Australia. Saya menetap di Bankstown, Sidney, selama 17 tahun. Sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga, dengan 4 anak serta 7 kelinci kesayangan keluarga kami.
Selain mengurus keluarga, saya juga sambil belajar menuntut ilmu syari di sini, beberapa kali dalam sepekan. Sisa waktu lainnya saya mengajar umahat dari Indonesia yang bekerja dan menetap di Sidney.
Di kota ini, dari statistik tahun 2011, terdapat sekitar 4,9 juta penduduk, 4,7 persennya Muslim. Sebanyak 1,5 juta jiwa penduduknya lahir di luar Sidney. Di Bankstown sendiri jumlah penduduknya sekitar 182.352 jiwa, 19 persennya Muslim (sumber: Google).
Alhamdulillah, saya bisa berpuasa dengan baik, tanpa halangan ataupun gangguan dari pihak non-Muslim. Sehingga saya dan saudara-saudara Muslim lain bisa beribadah dengan khusyuk dan tenang.
Pemerintah Sidney mempersilakan kepada para Muslimin untuk bebas melaksanakan kegiatan Ramadhannya. Pemerintah tidak pernah melarang segala sesuatu yang berbau agama. Mereka menghormati setiap pemeluk agama. Sehingga, berbagai keyakinan tumbuh subur di sini.
Terbukti dengan bermunculan berbagai masjid dan sekolah Islam. Di daerah rumah saya saja, untuk mencapai masjid cuma membutuhkan waktu 10 menit dengan mengendarai mobil. Begitu juga dengan beberapa daerah lainnya.
Meskipun Muslim minoritas di sini, tetapi tidak pernah sekalipun disusahkan dengan peraturan-peraturan. Bahkan beberapa hari yang lalu, Perdana Menteri Australia ikut hadir dalam acara buka puasa bersama dengan beberapa tokoh penting Muslim di Sidney.
Tarawih yang Berbeda
Suasa shalat tarawih di sini sangat berkesan dan mengesankan. Berbeda dengan waktu saya di Indonesia, shalat tarawihnya terasa cepat karena bacaan imamnya juga cepat.
Sedang di Sidney, selain setiap masjid atau mushalla memiliki imam sendiri, beberapa imam didatangkan dari Timur Tengah. Mereka mengimami kami dengan suaranya yang merdu dan bacaan yang panjang.
Di beberapa masjid, setiap malam Ramadhan para imam ada yang membaca 1-2 juz bahkan lebih. Kita tinggal memilih mau pergi ke masjid yang mana, agar bisa shalat tarawih dengan khusyuk dan tenang.
Selain di Sidney, pada masjid-masjid di kota yang lain seperti Canberra, Perth, dan Brisbane, shalat tarawih juga dilaksanakan dengan kenyamanan serupa.
Selain itu, berbuka puasa juga dimeriahkan oleh para anak muda yang melaksanakan Iftar Project di beberapa tempat.
Iftar Project adalah program dimana para anak muda mengumpulkan dana untuk berbuka dan dikirimkan ke beberapa tempat di luar negeri yang membutuhkan. Hal ini yang membuat suasana Ramadhan terasa begitu spesial.* (Bersambung) Ummu Raihanah, sebagaimana diceritakan kepada Febryan Wardana untuk hidayatullah.com