BERIBADAH umrah itu istimewa. Umrah saat Ramadhan, itu lebih istimewa. Umrah di bulan Ramadhan, shalat berjamaah diimami syeikh kabir wal masyhur yang diidolakan, ini betul-betul istimewa.
Itulah yang dirasakan oleh mahasiswa beruntung satu ini.
Fadhlul Mujahid, warga negara Indonesia yang juga mahasiswa Universitas Islam Madinah (UIM), atas kehendak Allah, berkesempatan menunaikan ibadah umrah di awal Ramadhan 1439 H.
Hari itu, Kamis (17/06/2018), Mujahid berangkat dari kota Madinatul Munawwarah menuju kota Makkah Al-Mukarramah bersama 6 orang teman seangkatannya di UIM. Semua asal Indonesia.
Secara finansial, ada keberuntungan tersendiri. Sebab mereka cukup membayar 100 riyal Saudi per orang untuk umrah. Dengan biaya segitu yang dinilainya cukup murah, mereka sudah mendapatkan kamar hotel untuk menginap.
Baca: Resmikan Masjid di Cilodong, Syeikh As-Sudais; Terima Kasih Indonesia
Tapi ada yang jauh lebih berkesan daripada itu pada ibadah umrahnya di bulan penuh rahmat kali ini -selain memang ini pertama kalinya dia sebagai mahasiswa UIM merasakan Ramadhan di tanah suci.
Mujahid, asal Balikpapan, Kalimantan Timur ini, beribadah umrah selama dua hari. Bersama kawan-kawannya, ia menunaikan rangkaian ibadah umrah di Masjidil Haram termasuk tawaf pada Jumat (17/06/2018).
Sebenarnya, awalnya mereka ingin tawaf pada hari Kamis, mengingat hari itu ada jadwal Syeikh Abdurrahman as-Sudais jadi imam shalat di Masjidil Haram, Makkah.
Mereka memang rindu untuk bisa diimami -dan mendengar langsung suara- Syeikh As-Sudais.
Namun, karena satu dan lain hal, mereka akhirnya baru bisa tawaf pada hari Jumat. Ya sudah, tak apalah tak sempat diimami oleh syeikh yang diidolakan Mujahid tersebut, bisa lain waktu, begitu batinnya kira-kira.
Tentu Allah mendengar harapan tersebut. Jumat itu, masih bersama kawan-kawannya, Mujahid shalat maghrib di lantai dua Masjidil Haram. Posisi mereka cukup jauh dari tempat dimana imam berada, bahkan sang imam tak terlihat.
Baca: Syeikh As-Sudais Terjebak Macet, Wawali Kota Depok Senang Dikunjungi
Singkat cerita, shalat berjamaah sebentar lagi dimulai. Terdengarlah suara sang imam, sebagaimana biasa, menyerukan jamaah untuk merapatkan dan meluruskan shaf.
Suara imam yang mereka dengar ini sepertinya sudah begitu akrab di telinga Mujahid. “Ini suara Syeikh As-Sudais,” ia berfirasat.
Betul saja, begitu sang imam memulai membaca Surat Al-Fatihah pada rakaat pertama, Mujahid memastikan bahwa pemilik suara tersebut adalah syeikh idolanya.
“Alhamdulillahi rabbil ‘alamin…” lantunan Al-Fatihah dengan nada merdu khas sang syeikh.
Mujahid pun teringat murottal al-Qur’an bacaan Syeikh As-Sudais yang sering didengarnya melalui berbagai perangkat. Dan kali ini ia mendengarnya langsung, di tanah suci, di bulan suci.
Subhanallah!
Suasana hatinya pun laksana orang puasa yang menahan haus dan lapar seharian lalu menyantap hidangan berbuka; betapa bahagianya.
Ibadah shalat yang sejatinya memang harus dilaksanakan penuh semangat oleh setiap Muslim, kali ini semangat itu bertambah-tambah bagi Mujahid. Kerinduannya menjadi makmum Syeikh As-Sudais kini terobati sudah.
“Ini rezeki,” ungkapnya saat ditemui hidayatullah.com selepas shalat zuhur di sebuah masjid di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (11/06/2018) siang. Ia memang pulang ke tanah air mengisi masa liburan kampus.
Selepas shalat maghrib di Masjidil Haram itu pun, Mujahid berbagi perasaan dengan teman-teman yang membersamainya kala itu. Rupanya mereka punya kebahagiaan dan perasaan gembira yang sama karena bisa diimami shalat oleh Syeikh As-Sudais. Tanpa diketahui dan diduga sebelumnya. Ini surprise, kejutan!
Bagi Mujahid, ada keistimewaan tersendiri saat diimami Syeikh As-Sudais. Tentu imam-imam, para masyaikh lainnya, juga punya keistimewaan masing-masing dan bisa saja berbeda-beda di hati para jamaah atau pengagumnya.
“Rata-rata ketika bulan puasa yang imami Syeikh As-Sudais, ramai sekali (jamaahnya di Masjidil Haram) dibanding imam yang lain,” sebutnya.
Baca: Masyarakat Dunia Takjub Lihat Indahnya 27 Ramadhan di Masjidil Haram
Mujahid pun mengaku merasakan kesan tersendiri menyimak lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an dari bibir Syeikh As-Sudais. “Nadanya (para) imam, kan, beda-beda,” jelasnya.
Begitu pula saat sang syeikh memanjaatkan doa, ada “getaran” tersendiri yang dirasakan Mujahid. “Masya Allah bikin nangis,” ungkap lajang yang sedang menghafalkan al-Qur’an ini.
“Ane sering dengar suara (bacaan al-Qur’an) Syeikh Sudais,” tuturnya menambahkan.*