Hidayatullah.com–Siang hari bulan Ramadhan. Kota Prizreni tampak beraktivitas sebagaimana mestinya. Kehidupan pun berjalan normal. Namun, sepanjang bulan Ramadhan, kesan relijius dan khidmat terasa demikian sangat kental di setiap sudut kota tua wisata itu.
Ketika kita berjalan-jalan menyusuri jalanan Shadarvan di tengah kota bersejarah Prizreni, di selatan Kosovo, yang juga dikenal dengan kota menara karena banyaknya menara berarsitektur Islami dan masjid-masjid yang bertebaran di kota itu, kita akan mendapati kafe-kafe yang banyak berderet di sepanjang jalanan tutup sepanjang siang hari Ramadhan. Kafe-kafe itu baru akan buka selepas shalat tarawih.
Meski pun ada beberapa kafe yang buka, namun kafe itu hampir tidak memberikan layanan makanan dan minuman. Bukan saja karena para pengunjung kafe itu yang berpuasa, tetapi juga para pemiliknya yang bershaum dan hendak mendukung gerakan pemuliaan Ramadhan di negeri Balkan itu. Uniknya, layanan serupa juga sama diberlakukan kepada para pekerja dan staf asing non-Muslim yang tengah bertugas di Kosovo.
Di kafe-kafe yang buka itu, para pengunjung memang hanya duduk-duduk santai, berniat istirahat barang sejenak, membuka note-book sambil menikmati fasilitas hot-spot yang memang tertebar di kafe-kafe, sambil bercakap-cakap dengan sesama kawan.
Penulis Kosovo Eyni Sinani yang juga tinggal di kota Prizreni, dalam wawancaranya dengan situs Islamonline (27/8) mengatakan, fenomena ditutupnya kafe-kafe sepanjang siang hari bulan Ramadhan tampak terus meningkat dari tahun ke tahun.
“Dari tahun ke tahun, fenomena ini kian menjadi tradisi di kota-kota di Kosovo,” terang Sinani.
Hal di atas menunjukkan, meskipun Kosovo menjadi bagian dari Eropa, namun relijiusitas masyarakatnya yang mayoritas Muslim tak pudar: yang yang kontras dengan fenomena di beberapa negara Muslim lainnya, termasuk Indonesia.
Sinani menyebutkan, ada beberapa alasan mengapa kafe-kafe itu ditutup. “Pertama, karena mayoritas penduduk kota menjalankan ibadah puasa. Mereka pun tidak akan pergi ke kafe di siang hari (yang sudah menjadi tradisi). Kedua, para pemilik kafe-kafe itu juga berpuasa.”
Prizreni tercatat sebagai salah satu kota yang memiliki nilai sejarah penting di Kosovo. Prizreni adalah ibu kota pertama negara itu selama lebih dari 5 abad, tercatat semenjak masa kekuasaan dinasti Turki Utsmani (Ottoman) atas wilayah itu, dan wilayah-wilayah Balkan lainnya.
Ibu kota Kosovo kemudian dipindah ke Skopje (sekarang menjadi ibu kota Macedonia, tetangga Kosovo yang juga berpenduduk mayoritas Muslim) pada tahun 1860 M.
Setelah memisahkan diri dari Serbia dan menjadi negara independen pada Februari 2008 silam, Kosovo beribukota Pristina.
99% dari penduduk Kosovo (yang berjumlah sekitar 2,2 juta jiwa) beragama Islam. Hal ini menjadikan Kosovo sebagai negara Balkan (Eropa Tenggara) berpenduduk Muslim terbesar. [atj/iol/hidayatullah.com]