Hidayatullah.com – Zionis Israel terus melakukan penjajahan terhadap rakyat Palestina. Berbagai cara dilakukan agar mereka dapat menguasai Palestina seutuhnya, mulai dari teror, penyiksaan, penangkapan, blokade, hingga pembunuhan melalui penyerangan membabi buta.
Demikian salah satu kajian kondisi terkini Palestina di masjid Aqshal Madina Ponpes Hidayatullah Surabaya, Jum’at (26/06) kemarin yang diisi Syeikh Nidhal Khalil Abu Dyab, salah seorang Imam kelahiran Palestina.
“Setelah kekalahan Israel tahun lalu, kini mereka (Zionis-Israel, red) tidak lagi menyerang kami lewat perang besar. Tetapi melalui upaya-upaya teror yang bertujuan untuk mengusir rakyat Palestina secara perlahan,” demikian ujar Syeikh Nidhal menceritakan berbagai upaya penjajah Israel dalam melakukan penjajahan untuk menguasai Palestina yang ia lihat sendiri.
Setelah serangan besar-besaran penjajah Israel pada tahun lalu dan berhujung pada permintaan damai oleh Israel. Kini Zionis cenderung “lebih halus” dalam menjajah Palestina dan Masjid Al-Aqsha.
Satu yang pasti, hingga kini, penjajah berupaya terus melarang kaum Muslim memasuki masjid mereka di Al-Quds. Termasuk menerapkan aturan-aturan tidak masuk akal.
“Terkadang yang dibolehkan masuk hanya pada waktu-waktu tertentu, atau pada usia-usia tertentu, mereka seenaknya melarang dan membolehkan kaum Muslimin untuk memasuki masjid al-Aqsha.
Dan di sana hanya diperbolehkan untuk shalat, selebihnya dilarang,” terang pria yang rumahnya tak jauh dari Masjidil Aqsha ini.
Menurut pria kelahiran Desa Silwan, 1 kilometer dari Masjid Al-Aqsha ini mengungkapkan, teror lain yang dilakukan Zionis untuk mengusir rakyat Palestina yang tinggal di wilayah al-Quds adalah soal aturan mendirikan bangunan.
“Kalau ingin mendirikan bangunan, kita diwajibkan membayar izin sebesar seratus ribu dollar. Dan itu hanya izinnya saja, saat membangun pun akan dipersulit. Dan dengan pajak yang mahal itu akhirnya banyak warga yang membangun rumah tanpa izin, dan kemudian jika ketahuan maka akan dihancurkan oleh Zionis, dan dilarang membangunnya kembali,” jelasnya.
Akhirnya tidak sedikit rakyat Palestina disekitaran masjid al-Aqsha yang keluar dari wilayah itu karena tidak sanggup dengan berbagai macam tekanan tentara Zionis Israel.
“Namun masih banyak saudara-saudara kita yang memilih untuk tetap bertahan di sana, dan memperjuangkan kemerdakaan Masjid al-Aqsha. Doakan agar kemenangan ini (memerdekakan masjid al-Aqsha, red) segera datang” ujarnya menutup.*
Sebagaimana diketahui, sejumlah imam Palestina datang dalam program Silraturahim Ramadhan Bersama Imam-imam Palestina (SiramanManis) yang diselenggarakan oleh Sahabat Al Aqsha (SA).
Para imam tersebut disebar ke beberapa kota di Indonesia selama Ramadhan seperti wilayah Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta dan Jawa Tengah, Surabaya, Madura, Malang, Balikpapan, Makassar, dan Batam.*/Yahya G. Nasrullah