Hidayatullah.com–Bertepatan dengan tanggal 25 Juni 2016 atau bertepatan, 20 Ramadhan 1437, SOA (Spirit of Aqsa) menghelat kegiatan “Tastqif Akbar Ramadhan with Gaza & Aleppo” dengan mengambil tema besar “Masuk Surga Bersama Keluarga Syuhada”.
Acara ini diselenggarakan di aula AQL Islamic Center, Tebet Utara, Jakarta Selatan.
Di antara tokoh yang didapuk menjadi pembicara pada acara ini adalah Ustad Bachtiar Nasir (Selaku Ketua Umum SOA), Taufiq Ismail (Sastrawan), Arifin Nugroho (Khazanah & Poros Surga Trans7), dan Umar Makka (Sekjen SOA).
Pada pukul 13.15, acara dimulai oleh moderator acara, Ridwan. Setelah memaparkan beberapa susunan acara, momen untuk membaca al-Qur`an diserahkan kepada Achmad Shiddiq Yusuf yang saat itu membaca Surah Al-Isra ayat 1-7, kemudian disambung dengan sambutan dari Darmawan.
Selepas sambutan Darmawan, waktu dipersilahkan kepada Sekjen SOA, Umar Makka. Dosen Lipia ini mengucapkan terimakasih banyak atas terselenggaranya acara ini. Ia berharap, momen pembebasan Al-Aqsa yang dilakukan oleh pahlawan bersejarah muslim, Umar bin Khatab dan Shalahuddin al-Ayyubi bisa diteruskan oleh SOA.
“Kita optimis bahwa tidak menutup kemungkinan pembebas-pembebas al-Aqsha nantinya adalah kaum muslimin dari Indonesia. Insyaallah.” Menyitir salah satu riwayat, beliau menambahkan, “Barangsiapa yang tidak peduli dengan urusan muslimin, maka bukan termasuk golonganku (Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam),” demikian ujarnya.
Acara menjadi semakin hangat ketika Ustad Bachtiar Nasir atau kerap dibanggil UBN dipersilahkan menuju panggung.
Pada momen ini, kepada peserta yang berjumlah seratus orang, beliau yang akrab dipanggil UBN ini menuturkan dari sisi human interest, tentang alasan kita harus memelihara semangat ini dan menjadi bagian dari pembebasan al-Aqsha yang tiada henti.
Pertama, semangat kemanusiaan. Bahwa di sana ada penistaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Kedua, jika semangat ini dipelihara, maka akan menajamkan kepekaan seseorang terhadap penjajahan. Ketiga, bagaimanapun juga sebagai muslim kita berkewajiban membela Palestina.
“Seandainya saya tidak melihat apa yang terjadi di Palestina, rasanya saya tidak sadar kalau di Indonesia sedang ada yang tidak berdaulat,” ujar Ketua Alumni Mahasiswa Indonesia ini.
Menurutnya, jika rakyat Indonesia –khususnya Jakarta- tidak peka terhadap permasalahan ini, maka tidak menutup kemungkinan kedaulatan sebagai bangsa secara perlahan, tapi pasti, akan terenggut. Sebagai contoh kecil, 70 persen kekayaan di Jakarta, dikuasai oleh 2% penduduk, yang masih belum diketahui integritasnya kepada Republik Indonesia.
Lebih dari itu, tanah Indonesia ini, 40 persennya sudah dikuasai oleh etnis bukan dari pribumi. Kalau dilihat gejalanya, sangat mirip dengan apa yang dilakukan Israel kepada rakyat Palestina. Modus-modus oprasi yang digunakan di antaranya adalah jual tanah. Ironisnya, cara-cara yang digunakan –sejauh ini- sudah memakai jalur pembuatan undang-undang, sehingga apa saja yang dilakukan nanti akan legal meskipun sejatinya tak ramah terhadap kepentingan rakyat.
Dari sudut pandang itu, Pimpinan AQL Islamic Center ini, memandang bahwa semangat Al-Aqsa ini menginspirasi agar kita senantiasa sadar akan bahayanya penjajahan serta menajamkan kepekaan kita terhadap persoalan kemanusiaan. Intinya, semangat untuk pembebasan al-Aqsa, harus tetap digelorakan agar kita tidak menjadi orang yang dijajah. Di sisi lain, sangat dimungkinkan kita akan mengalami nasib yang sama jika tidak hati-hati.
Setelah pemaparan singkat UBN, tiba giliran sastrawan kawakan Indonesia, Taufiq Ismail membacakan sebuah puisi.
Sebelum membacakannya, beliau mengingatkan kembali bahwa kemerdekaan Indonesia yang diplokamirkan pada tahun 1945 itu begitu mengejutkan. Dunia dibuat terperangah. Nah, yang perlu dicamkan ialah negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia pada waktu itu adalah Mesir dan Palestina. Karena itu, solidaritas kita sebagai warga Indonesia juga ada akar sejarahnya.
Melihat SOA, penyair kondang yang membangun rumah puisi di kampung halamannya ini, mengingat bahwa puisi yang dibuat pertama kali tentang solidaritas Palestina, sudah ditulis sejak 69 tahun yang lalu pada tahun 1947 oleh Ali Azmi.
“Ini menunjukkan,” kata beliau, “spirit untuk membebaskan al-Aqsha itu sudah berjalan sejak lama dan berkesinambungan hingga sekarang.
Setelah menyampaikan prakatanya, baru kemudian Taufik Ismail mendeklamasikan puisi yang ditulis pada tahun 1989 (27 tahun yang lalu) berjudul: “Palestina Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu.”
Pembacaan puisi ini begitu menarik lantaran diiringi terjemahan Arab dari Umar Makka.
Acara yang diselenggarakan oleh SOA ini bukan hanya sekadar pemberian dan penguatan wawasan, pada momen ini juga diadakan penggalangan dana untuk Palestina sebanyak 60 juta rupiah.
Perinciannya didapat dari 10 buku puisi Taufiq Ismail yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab mengenai Palestina, menghasilkan dana sebanyak 50 juta rupiah. Ditambah lagi dengan gambar tentang masjid Palestina dari tim UBN yang laku 10 juta rupiah.
Acara ini sangat menarik. Ia bukan sekadar wahana untuk memberikan pencerahan bagi umat, tapi juga mengadakan buka bersama sekaligus shalat tarwih berjamaah bersama Imam dari Palestina, Syekh Abdurrahman Jaber, di masjid AQL.
Dengan adanya spirit ini, tentu saja besar harapannya agar penjajahan di bumi Palestina dan negara-negara lain segera bisa dihapuskan. Menjelang Maghrib, acara dipungkasi dengan doa dari Ustadz Arifin Nugroho lam.*/kiriman Mahmud B Setiawan