Hidayatullah.com–Shalat Tarawih mungkin menjadi salah satu ciri khas bulan suci Ramadhan. Tradisi ibadah shalat Tarawih ini tentu tidak hanya ada di Indonesia saja, melainkan di seluruh negera Muslim. Shalat Tarawih menjadi ibadah sunnah yang dikhususkan dan mendapat tempat tersendiri di tengah umat Islam. Hal ini juga terjadi di Mesir. Di Negeri Piramid ini, shalat ini mungkin lebih dikenal dengan Qiyamul Lail.
Pantauan hidayatullah.com, sebagian besar, umat Islam dalam menjalankan shalat tarawih terbagi menjadi dua bagian.
Pertama, ada yang menjalankannya sebanyak delapan rakaat, ada juga yang dua puluh rakaat. Selain itu, ada yang imam shalat tarawih menghabiskan satu juz ayat al-Quran setiap malamnya, ada yang membaca potongan-potongan ayat pilihan, tapi ada juga yang membaca juz 30 saja.
Di Mesir, sebagian besar tradisi shalat tarawih menjalankan yang delapan rakaat, dan dalam satu malam imam shalat tarawih menghabiskan satu juz ayat al-Quran.
Tapi bukan berarti tidak ada masjid yang memilih shalat dua puluh rakaat atau yang imamnya memilih membaca potongan-potongan ayat pilihan saja. Di Mesir juga ada warna dan keragamannya.
Meski delepan rakaat, bukan berarti selesainya cepat. Sebab bisa dibilang, shalat seperti ini justru membutuhkan waktu lebih lama untuk berdiri karena harus menghabiskan 1 juz. Untuk orang-orang yang tua, biasanya disediakan kursi atau tempat duduk ketika shalat di shaf bagian belakang.
Namun beberapa masjid besar juga ada yang melaksanakan shalat tarawih delapan rakaat, tapi tidak menghabiskan satu juz ayat al-Quran. Imam hanya membaca ayat-ayat pilihan saja. Jadi, shalat tarawih di masjid-masjid seperti ini lebih cepat selesai.
Di antara contoh masjid-masjid seperti ini adalah Masjid Rabiah al-Adawiyah, Masjid Husein, dan Masjid Nuri Khattab. Selain itu, masjid-masjid kecil juga biasanya melakukan hal yang sama.
Berbeda dengan kebanyakan masjid di Mesir, Masjid al-Azhar misalnya, memilih untuk melakukan shalat tarawih dengan dua puluh rakaat.
Setiap malamnya, imam shalat tarawih di Masjid al-Azhar mengkhatamkan satu juz ayat al-Quran. Bukan hanya itu, di masjid legendaris yang menjadi cikal-bakal Universitas al-Azhar ini juga mentradisikan membaca Qiraat (gaya bacaan al-Quran) yang berbeda-beda, tidak hanya Qiraat Hafz.
Selain ragam di atas, masjid-masjid juga ada menyelingi shalat tarawih dengan ceramah agama atau siraman rohani. Biasanya diadakan di tengah-tengah shalat Tarawih, setelah empat rakaat pertama. Tidak butuh banyak waktu yang dihabiskan dalam ceramah. Biasanya hanya sekitar 5-7 menitan saja. Namun ada juga masjid yang tidak menyelingi shalat tarawih dengan ceramah.
Begitulah ragam-ragam shalat tarawih di Negeri Para Nabi. Keragaman ini menjadikan Ramadhan semakin berwarna. Bagi jamaah, tinggal memilih saja, mau shalat cepat ada, mau yang lama juga ada. Dan menariknya, tak pernah terjadi polemik soal rakaat ini.*
Keterangan gambar: Ceramah keagamaan di sela shalat tarawih
Rep: Ahmad Sadzali