Sambungan artikel KEDUA
El Aroud akhirnya diadili bersama dengan 22 orang lain di Belgia karena keterlibatannya dalam pembunuhan Massoud. Sebagai janda yang sedang berduka memakai jilbab hitam, dia membujuk pengadilan bahwa dia telah melakukan pekerjaan kemanusiaan dan tidak tahu apa-apa tentang rencana suaminya. Dia dibebaskan karena kurang adanya bukti.
Kematian suaminya, walaupun mendorong dirinya ke dalam kehidupan baru. “Janda dari seorang martir sangat penting bagi umat Muslim,” ujarnya.
Dia menggunakan statusnya yang berpengaruh untuk bertemu “saudara-saudara” barunya dalam jaringan internet. Salah satunya adalah Moez Garsalloui, seorang Tunisia beberapa tahun lebih muda darinya yang telah memiliki status pengungsi politik di Swiss.
Mereka kemudian menikah dan berpindah ke sebuah desa kecil di Swiss. Di tempat baru ini, mereka mengoperasikan beberapa situs pro-Qaeda dan forum-forum internet yang dipantau oleh pihak berwenang Swiss sebagai bagian dari kasus kriminal negara yang pertama terkait internet.
Setelah polisi menggeledah rumah mereka dan menangkap mereka saat fajar pada bulan April 2005, El Aroud menjelaskan secara luas apa yang disebut sebagai pelecehan terhadap mereka.
“Lihatlah bagaimana negara ini menyebut kita netral sehingga telah membuat kami menderita,” tulisnya, mengklaim bahwa polisi Swiss memukul dan menutup mata suaminya dan menyeret dirinya saat dia sedang tidur tanpa jilbab.
El Aroud dihukum Juni lalu dengan tuduhan membantu kekerasan dan mendukung organisasi kriminal, dia menerima hukuman penahanan enam bulan; Garsalloui, yang dihukum karena tuduhan yang lebih serius, dibebaskan setelah 23 hari. Suaminya, diancam lebih berat. Aparat menuduh suaminya mengerahkan massa untuk melakukan serangan Desember lalu dan ia memiliki koneksi ke kelompok-kelompok teroris yang beroperasi di wilayah etnis Pakistan.
Namun pihak berwenang mengatakan mereka kehilangan jejak setelah dia dibebaskan dari penjara tahun lalu di Swiss.
“Dia berada di perjalanan,” ujar El Aroud penuh rahasia ketika ditanya tentang keberadaan suaminya. “Dalam perjalanan.”
“Pejuang Suci”
Sementara itu, status kehormatannya telah meningkat lebih tinggi dengan klaimnya menjadi korbankan Negara Swiss. Sebuah situs jaringan Suara Kaum Tertindas (The Voice of the Oppressed) menggambarkan dirinya sebagai “pejuang suci wanita kami abad ke-21.”
Kasus hukum terbaru yang membelitnya membawa petunjuk yang lebih dalam tentang adanya keterlibatan para wanita dalam kegiatan perang melawan Barat. Ketika dia ditahan Desember lalu sehubungan dengan rencana rahasia yang diduga untuk membebaskan Nizar Trabelsi, seorang terpidana teroris dan seorang pemain sepak bola profesional, serta untuk menyerang target di Brussel, El Aroud adalah satu dari tiga wanita yang ikut dibawa untuk diinterogasi.
Baca: Israel Kewalahan Hadapi “Cyber Jihad” Pejuang Palestina
Meskipun identitas mereka yang ditahan tidak dirilis, pihak berwenang Belgia dan lainnya yang familier dengan kasus tersebut mengatakan bahwa di antara mereka yang ditangkap adalah istri dari Trabelsi dan Fatima Aberkan (47 tahun), seorang teman dari El Aroud dan ibu dari tujuh anak.
“Malika adalah sumber inspirasi bagi kaum wanita karena ia memberitahu para wanita untuk berhenti tidur dan membuka mata mereka,” ujar Nn. Aberkan.
El Aroud bekerja dari apartemennya yang memiliki tiga kamar terletak di atas sebuah toko pakaian di lingkungan berkelas pekerja di Brussel di mana dia menghabiskan waktunya berkomunikasi dengan para pendukungnya, terutama di forumnya sendiri, MinbarSOS.
Meskipun El Aroud menegaskan bahwa dia tidak melanggar hukum, dia tahu bahwa polisi terus mengawasi. Dan jika pihak berwenang menemukan cara untuk menempatkan dia di penjara, dia berkata:
“Itu bahkan bagus sekali. Mereka akan menjadikan saya martir hidup,” ujarnya.*/Ummu Qudsy dari berbagai sumber