Sebagian masjid, selesai shalat Isya’ kadang langsung ditutup rapat, bahkan ada yang pintunya dikunci. Tetapi tidak untuk masjid yang ramah musafir ini
Hidayatullah.com–Kajian di Masjid Raya al-Falah baru saja selesai, ketika hujan deras mengguyur wilayah Sragen, Jawa Tengah. Saat itu, jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam.
Beberapa jamaah yang membawa payung, langsung pulang ke rumah masing-masing. Tapi bagi jamaah yang tidak membaya payung, mereka lebih memilih menunggu sampai hujan reda. Sementara jamaah musafir lebih memilih untuk tinggal di masjid.
Tenang saja, bermalam dan menginap di masjid yang beralamat di Jalan Raya Sukowati, Kuwungsari, Sragen, Jawa Tengah ini tidak dilarang. Apalagi sampai diusir. Yang ada jutru siapa saja yang ingin menginap akan disediakan fasilitas kasur dan bantal.
“Silakan siapa saja yang ingin melepas lelah ketika dalam perjalanan, istirahat dulu di Masjid al-Falah. Dan bila perlu ditanya, besok mau sarapan apa? Karena yang datang ke masjid adalah tamu Allah, maka pelayanannya juga harus lebih baik,” terang Kusnadi Ikhwani, ketua takmir masjid yang dikenal ramah musafir itu.
Itulah salah satu cara takmir dalam melayani jamaahnya dan masih ada banyak lagi program-program unik lainnya. Sehingga, tak heran jika jamaah yang hadir baik untuk menunaikan shalat berjamaah atau mengikuti kegiatan keagamaan selalu ramai. Jumlahnya pun bisa mencapai 1.000 hingga 2.000 orang.
Kas Nol Rupiah
Dalam beberapa tahun terakhir, takmir Masjid Raya al-Falah Sragen membuat terobosan pelayanan secara maksimal. Mereka berusaha agar kas masjid selalu nol rupiah demi meningkatkan kualitas pelayanan kepada jamaah.
Kepada Suara Hidayatullah, Direktur Badan Usaha Milik Masjid (BUMM) al-Falah Sragen, Annas Sayyidina, mengungkapkan hal itu sesuai dengan cita-cita awal kepengurusan takmir.
“Kami ingin kas masjid itu nol dengan harapan infaq dan sedekah segera kami wujudkan dalam bentuk program dan pelayanan kepada jamaah,” ungkapnya.
Ia menyebut, dana yang dibutuhkan setiap bulannya untuk pelayanan kepada jamaah mencapai sekitar 100 juta rupiah, termasuk untuk menggaji karyawan. Sedang pemasukan dari kotak infaq dan donatur saat ini di atas 100 juta rupiah per bulan. Padahal, tahun-tahun sebelumnya pemasukannya hanya kisaran 12 sampai 16 juta rupiah per bulan.
“Prinsip kami kas masjid bukan ada di bendahara atau rekening masjid, tetapi ada di kantong jamah. Takmir memfasilitasi program dan pelayanan yang baik dan pendanaannya dari jamaah,” ucapnya.
Annas menjelaskan, pihaknya juga membuat dapur untuk mendukung program Warung Makan Rakyat. Dalam program ini, setiap harinya disediakan 100 porsi makan gratis untuk jamaah. Khusus Senin serta Kamis, makan gratis disediakan menjelang Maghrib.
Sedangkan hari lainnya setelah Zhuhur. Khusus Ahad, makan gratis disediakan dua kali yakni ba’da Shubuh dan Zhuhur. Menu yang disediakan berganti setiap harinya antara lain, sop, soto, sayur bening, dan sayur asem.
Program Merakyat
Selain program itu, setiap hari terdapat kegiatan rutin di masjid kecuali Sabtu. Setiap Senin sampai Jumat digelar kajian, mulai jam delapan hingga sembilan malam.
Ada juga Taman Pendidikan al-Qur’an yang diselenggarakan setiap Senin, Rabu dan Jumat. Bimbingan belajar dilaksanakan setiap Selasa dan Kamis. Kemudian, untuk Ahad ada kajian ba’da Shubuh dan dilanjutkan pengajian umum dengan jamaah mencapai 1.500 sampai 2.000 orang sebelum pandemi Covid-19.
Setelah pandemi, jumlah peserta pengajian umum agak berkurang, tapi masih sekitar seribu orang. Pada awal pandemi, takmir masjid menghentikan seluruh kegiatan selama tiga bulan (Maret sampai Mei). Setelah itu, kegiatan rutin pun dilaksanakan kembali pada bulan Juni.
“Jamaah yang rutin ke sini dari sekitar Sragen, tetapi kalau yang menginap ada dari Yogyakarta, Surabaya dan Ngawi. Respon mereka Alhamdulillah selama ini merasa senang, karena mungkin beberapa masjid ada yang jika malam ditutup, sehingga sekadar ke kamar mandi atau istirahat sejenak itu mereka kesulitan,” jelas Annas.
Ke depan, takmir Masjid al-Falah Sragen bakal merealisasikan klinik sukarela, yang ditargetkan terlaksana sekitar tiga bulan setelah tulisan ini terbit. Takmir rencananya akan menggunakan kontainer untuk mendirikan klinik tersebut.
Selain itu, program merakyat lainnya yang ditawarkan oleh takmir di antaranya memberangkatkan umrah jamaah shalat tarawih yang paling rajin, lalu Layanan Brigade Bersih Masjid, menggaji seluruh karyawan masjid (Abdi Dalem Masjid), memberikan hadiah sepeda motor bagi jamaah shalat Shubuh paling rajin, lalu ATM beras untuk kaum Dhuafa, mengganti barang yang hilang di dalam masjid, pemberdayaan PKL sekitar masjid, dan lainnya.
Ikut Lomba
Annas mengatakan, Masjid Raya al-Falah pertama kali didirikan di atas lahan pemberian dari PG Mojo Sragen pada tahun 1956. Takmir masjid yang ditunjuk saat itu adalah para aktivis Muhammadiyah Sragen.
Tahun 1960-an, takmir mengajukan permohonan kepada pemerintah setempat Kabupaten Sragen agar diizinkan serta didukung mengikuti lomba manajemen masjid tingkat provinsi. Dari peristiwa itu akhirnya menyebabkan perpindahan kepemilikan lahan masjid menjadi milik Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen.
Tahun 2000 lewat Surat Keputusan (SK) Bupati H.R Bawono diputuskan, bahwa penanggung jawab pemakmuran Masjid Raya al-Falah ini diamanahkan kepada Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Sragen. Selain itu, juga penunjukan Drs. H. Sauman sebagai ketua takmir waktu itu.
Pada Tahun 2015, terjadi pembaharuan SK Takmir Masjid Raya al-Falah Sragen. Kepemimpinan sebagai ketua takmir dari Sauman diserahkan kepada Kusnadi Ikhwani. Langkah tersebut didukung oleh tokoh-tokoh muda Muhammadiyah yang mencintai masjid.
Kini, luas tanah masjid dengan motto “Dari Masjid Kita Bangkit” ini mencapai 5.150 m2 serta luas bangunan 1.100 m2 dengan daya tampung jamaah 2.000 orang.
“Harapan kami tentu bisa lebih maksimal lagi dalam melayani jamaah dengan program-program kemakmuran. Semoga juga hal ini bisa menginspirasi takmir-takmir masjid lainnya,” pungkasnya
Tonton video Gereja Gandeng Masjid, Indahnya Toleransi di Kupang di sini