Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Dinar dan Dirham, Mata Uang Islam di Masa Kekhalifahan Fatimiyah

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 18 Juni 2021 10:32 10:32 am
Nashirul Haq
Dipublikasikan 18 Juni 2021 10:32
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Dinar dan Dirham untuk mata uang juga dicetak oleh tiga khalifah pertama Fatimiyah, kekhalifahan Syiah, dari kota yang menjadi pusat pemerintahan mereka. Mereka mencetak koin emas dan perak yang membawa kalimat Sunni. Dinar awal al-Mahdi mengikuti model Aghlabid dalam ukuran dan desain, dan hanya menambahkan nama percetakan Quayrawan di dalamnya.

Pada tahun 912, dinar dengan ukuran lebih besar dan tulifan Kufi yang khas diperkenalkan. Kemudian pada tahun 922, percetakan uang logam tersebut dipindahkan ke al-Mahdiya dan kemudian ke al-Mansuriya. Dinar-dinar tanpa nama mulai diterbitkan di Sijilmasa, Fez, atau pangkalan militer bersama.

Nama percetakan logam dan tanggal dihilangkan dari denominasi seperempat dinar. Pada tahun 934, al-Qa’im menjadi khalifah pertama yang benar-benar mengubaih desain dan mengadopsi tulisan Kufi yang monumental (gambar 1). Seperempat dinar juga dicetak di Sisilia, mungkin di Palermo, dan koin Awal Fatimiyah yang memuat nama percetakan ‘Siqilliya'(909-53) jauh lebih langka daripada koin dari periode selanjutnya.

Gambar 1

Baca Juga

Tak Sekedar Larang Azan, ‘Israel’ Sedang Menjalankan Proyek Yudaisasi Masjid Ibrahimi
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”

Berbeda dengan dinar untuk mata uang dari tiga khalifah Fatimiyah pertama, koin dari khalifah selanjutnya lebih menampakkan identitas Syi’ah mereka. Dengan menyatakan ikatan mereka dengan Ali.

Pada tahun 53, Khalifah al-Mu’izz menerbitkan uang dinar dengan pesan yang jelas dan desain baru: sebaris kalimat pendek dilingkari oleh tiga kelimat melingkar konsentris yang dibaca dari bagian dalam ke bagian luar. Kalimat yang berbunyi “Dan Ali bin Abi Thalib adalah Penerus Nabi dan Utusan Yang Paling Unggul dan Suami dari Yang Maha Suci [yaitu, Fatimah, putri Nabi],” mengungkapkan esensi dari doktrin Ismailiyah; tetapi karena menyinggung Sunni, itu harus ditinggalkan (gambar 2). Jenis koin kedua dan lebih tahan lama menghilangkan prasasti lapangan sepenuhnya dan memoderasi kekuatan idiom Ismailiyah. Koin yang dikeluarkan di bawah khalifah kemudian bervariasi antara tiga dan dua kalimat melingkar dan garis marginal tunggal dan ganda. Antara 1014 dan 1020, nama pewaris khalifah ditambahkan ke dinar.

Setelah al-Mu’izz, Khalifah al-Mustansir adalah orang pertama yang mengubah desain uang logamnya. Dinarnya mirip dengan milik al-Zahir, tetapi dengan rumus satuan dan tanggal diletakkan di sisi terbalik. Antara 1048 dan 1077, ia mengadopsi tipe tiga lingkaran yang pertama kali digunakan oleh al-Mu’izz. Ketiganya adalah cetakan yang sangat mirip sehingga sulit untuk membedakan satu dari yang lain. Setelah 1078 standar pembentukan koin menjadi lebih buruk dan tetap begitu sampai 1094.

Pada periode ketiga dinasti Fatimiyah (1094-1171) sebuah dinar percobaan dicetak. Dinar ini masih mengikuti desain koin terakhir al-Mustansir. Meskipun kalimat utama koin itu masih dengan tulisan Kufi, kalimat di tepi koin mulai menggunakan tulisan Naskhi.

Ini adalah pertama kalinya di Mesir tulisan Naskhi panjang muncul pada sebuah koin, dan itu tidak muncul kembali sampai tahun 1227. Pada tahun 1096 al-Musta’li (1094-1101) memperkenalkan gaya yang akan digunakan hingga 120 ke depan: adaptasi indah dari tipe dua lingkarang al-Aziz dengan tulisan singkat di tengahnya. Di bagian depan, kata “ali ghaya” ditempatkan untuk menunjukkan kualitas ‘sangat tinggi’ koin tersebut.

Di baliknya adalah tercetak gelar khalifah dan nama yang diberikan bersama dengan gelar kehormatan lainnya. Menjelang akhir periode Fatimiyah, ketika khalifah anak-anak menggantikan satu sama lain dan wazir menjadi penguasa yang sebenarnya, sebuah koin dicetak pada tahun 1130 dan 1132 atas nama pangeran Fatimiyah yang tidak ada. Pada tahun 1133, sebuah koin dicetak atas nama imam yang telah lama ditunggu-tunggu, al-Mahdi, yang menurut keyakinan Syiah akan muncul pada tanggal yang tidak disebutkan di masa depan.

Gambar 2

Koin emas Fatimiyah memiliki kualitas yang sangat tinggi dan sangat melimpah sehingga menjadi koin perdagangan yang paling tersebar luas di dunia Mediterania. Ketika Tentara Salib merebut Palestina, mereka menyalin koin Fatimiyah kontemporer alih-alih mencetak milik mereka sendiri. Koin-koin Tentara Salib berkisar dari tiruan yang sangat baik dari yang asli hingga potongan-potongan yang diukir dengan kasar dan dipukul dengan sembarangan yang hanya memiliki desain keseluruhan dengan prototipe Islam mereka.*

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dinar dan dirhamDinasti Fatimiyahmata uang islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hamas Palestina Palestina: Jajak Pendapat Menunjukkan Dukungan yang Signifikan untuk Hamas setelah Serangan ‘Israel’ Baru-baru Ini
Tulisan selanjutnya internet seluruh indonesia MUI Wapres Ma'ruf Amin Wapres Ma’ruf Optimis tahun 2023 Internet Sudah Terjangkau di Seluruh Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Zionis Sebut Belanda Sarang Anti-Semit usai Suporter ‘Israel’ Dilarang Tandang

Berita
13 Oktober 2026 17:01
PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak
Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
Wakaf Al-Qur’an: Menghadirkan Cahaya Qur’an bagi Santri di Tolitoli
Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Ragam

Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

28 Agustus 2025 11:00
buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?