KITA sering mendengar pengajian atau khutbah yang isinya untuk berlaku seimbang dalam dua hal, yakni takut terhadap siksaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mengharap pada rahmat-Nya. Namun khatib-khatib di masjid hanya menguraikan macam-macam siksaan Allah yang akan dialami oleh orang-orang yang durhaka. Siksa dan murka Allah sangat pedih pada mereka.
Umumnya para penceramah dan khatib lupa pada anjuran mengharapkan rahmat Allah Yang Maha Luas. Dan sesungguhnya, Allah akan menerima taubat seseorang selama dia masih hidup dan belum sampai pada sakratul maut. Bukankah Allah Maha Pengasih, Maha Pemurah, dan Maha Pengampun pada hamba yang menjalankan dosa dan noda. Tentu saja Allah pun menyiapkan siksa yang amat pedih.
Apabila pelajaran yang menganjurkan menanti dan mengharapkan rahmat Allah itu dihentikan, tentu akan membuat masyarakat berputus asa. Lebih-lebih bagi mereka yang bergelimang dosa. Bahkan, bagi mereka yang mengerti bahwa akhir hayatnya adalah kenistaan, bukan tidak mungkin mereka akan berbuat lebih nista lagi. Padahal seharusnya kembali menjadi orang yang baik di kalangan orang-orang yang baik agar bertambah baik. Tapi, bagi mereka yang sering berbuat dosa atau yang sudah terlanjur melakukan kejahatan, menjadi enggan bertobat. Mereka berputus asa.
Adalah tugas juru dakwah untuk mengkaji masalah tersebut di atas. Dengan cara yang demikian akan dapat memperbaiki sistem yang telah lampau. Orang-orang yang ingin tampil di medan dakwah, hendaknya memberikan pelajaran kepada masyarakat dengan pelajaran Islam yang lengkap. Jangan hanya mengemukakan satu sisi saja.
Bila ingin menyampaikan pengenalan umat tentang ketuhanan, maka harus disampaikan secara lengkap. Tidak setengah-setengah. Diperkenalkan bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Menerima Tobat, tetapi juga menyediakan siksaan yang pedih. Dialah Tuhan yang menerima tobat hamba-Nya dan mengampuni segala kesalahan. Dia tidak akan mengampuni dosa-dosa selain itu.
Rahmat Allah meliputi segala sesuatu dan akan diberikan kepada orang yang mau bertakwa. Dialah Tuhan yang akan mengganti segala macam keburukan dengan kebaikan. Dialah yang akan membuka pintu rahmat-Nya di waktu sepertiga malam. Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Apabila ada orang yang mau tobat lalu Aku mengampuninya.”
Orang-orang yang selalu membuat orang lain menjadi enggan bertobat karena telah terlanjur berbuat kedurhakaan dan berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya orang tersebut sudah menyalahi tuntunan Al-Qur’an dalam mendidik umat manusia. Bukankah Allah telah berfirman:
“Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53).
Dengan mengambil pengertian ayat tersebut, maka tidak dapat dibenarkan bila kita berkata kepada orang yang durhaka, “Mustahil bila Allah mengampuni dosa-dosamu.”
Ada sebuah hadits yang menyatakan tentang keterangan di atas, yakni hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah, sebagaimana berikut:
“Sesungguhnya Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam pernah bercerita tentang seorang lelaki yang berkata, ‘Demi Allah, Fulan tidak akan diampuni oleh Allah,’ Dan sesungguhnya Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang bersumpah pada-Ku, bahwa Aku tidak mengampuni pada si Fulan, maka sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan menghapuskan amal perbuatanmu’.”
Memang masih terdapat perselisihan pendapat mengenai amal perbuatan orang yang bersumpah, ”Demi Allah SWT, Fulan tidak diampuni oleh Allah,” itu akan terhapus amal perbuatannya ataukah hanya sekedar pahalanya saja. Menurut pendapat Mu’tazilah, orang tersebut akan dihapus amal perbuatannya. Jadi segala amal perbuatannya sudah dinyatakan batal.
Namun menurut pendapat Ahlu Sunnah, yang gugur hanyalah amal perbuatannya saja. Yang jelas, membuat orang berputus asa dari rahmat Allah swt sama sekali tidak diperkenankan.*/Sudirman STAIL (sumber buku Rambu-Rambu Aqidah, penulis Abdul Qodir Atha)