Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Bolehkah Kita Merasa Benar?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 November 2021 20:03 8:03 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 November 2021 14:00
Bagikan
merasa benar
Bagikan

Menyimak beberapa video Buya, saya yakin dan keyakinan saya pasti benar, bahwa Buya tersebut adalah seorang manusia, bukan tuyul

Oleh: Dr. Adian Husaini

Hidayatullah.com | DALAM beberapa hari ini beredar luas di group WhatsApps, pernyataan seorang yang dipanggil Buya. Diantara isi ceramahnya, ia antara lain menyatakan: “Orang yang bener itu, orang yang tidak pernah merasa bener. Kalau orang sudah merasa bener, itu berarti sudah tidak bener.”  Ternyata, pernyataan tersebut sudah disampaikan beberapa kali dalam ceramahnya di Youtube.

Pernyataan Buya tersebut perlu diklarifikasi. Apakah hal itu berlaku mutlak untuk semua hal atau berlaku untuk hal-hal tertentu? Sebagai muslim, tentu kita yakin, bahwa kita merasa benar dengan keyakinan kita, bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah nabi yang sebenarnya. Maknanya, jika ada yang menyatakan, bahwa Nabi Muhammad ﷺ bukan nabi, pasti pernyataan itu salah. Tentu saya merasa benar dengan pendapat saya. Pada saat yang sama, saya juga akan menyalahkan pendapat yang bertentangan dengan pendapat saya tersebut.

Menyimak beberapa video Buya tersebut, saya yakin dan keyakinan saya pasti benar, bahwa Buya tersebut adalah seorang manusia, bukan tuyul. Saya akan menyalahkan siapa pun yang menyatakan, bahwa Buya tersebut adalah tuyul.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Sebenarnya, pemikiran yang disampaikan Buya tersebut adalah hal yang dikenal sebagai paham “relativisme kebenaran”.  Jika seseorang sudah meyakini bahwa dia tidak akan pernah paham akan suatu kebenaran, maka dia tidak dapat diharapkan akan melaksakan dakwah.

Sebab, bagaimana mungkin dia akan mengajak manusia kepada kebenaran, jika dia sendiri tidak meyakini kebenaran itu sendiri? Dia juga tidak dapat diharapkan untuk melaksanakan nahi munkar, karena di kepala dia tidak ada konsep “munkar”. Semuanya adalah benar, menurut pemikiran masing-masing. Begitu pendapat kaum relativis ini.

Di sejumlah perkuliahan fenomena seperti ini juga terjadi. Sejumlah mahasiswa yang sudah belajar agama Islam ternyata juga memiliki pemahaman yang serupa.

Bahwa, manusia adalah makhluk relatif, hanya Allah saja Yang Mutlak, sehingga manusia mana pun tidak boleh memutlakkan pendapatnya. Hanya Allah yang tahu mana yang benar dan mana yang salah. Jangan menjadi hakim bagi orang lain. Jangan menyatakan yang lain sesat atau kafir. Yang tahu siapa yang sesat dan siapa yang kafir adalah Allah saja. Pemahaman semacam ini bukan monopoli kampus berlabel Islam saja, tetapi juga menyebar ke berbagai kampus umum.

Padahal, orang-orang yang mengaku pengikut paham relativisme ini pun sebenarnya juga tidak konsisten. Pada suatu sesi kuliah, seorang mahasiswa laki-laki bertahan dengan pendapatnya bahwa produk pemikiran manusia memang senantiasa bersifat relatif. Maksudnya, tidak ada yang boleh dianggap tetap. Semuanya bisa saja berubah.

Kepada si mahasiswa saya tanya: “Menurut Anda, apakah kelelakian Anda itu mutlak atau relatif?”  Ternyata, si mahasiswa tidak berani menjawab “Relatif.”  Tapi, dia jawab, “Mutlak!”  Kebetulan memang ada beberapa mahasiswi di sampingnya. Ya, coba bayangkan, jika seorang calon mertua bertanya kepada calon menantu laki-lakinya, “Menurut Anda apakah Anda laki-laki?” Lalu, si calon menantu itu menjawab, dengan mantap: “Relatif, Pak!”  Apa yang kira-kira akan terjadi ?

Relativisme memang telah menjadi virus global. Paus Benediktus XVI sendiri mengingatkan, bahwa Eropa saat ini sedang dalam bahaya besar, karena paham relativisme iman yang mendalam. (Lihat, Libertus Jehani, Paus Benediktus XVI, Palang Pintu Iman Katolik, (Jakarta: Sinondang Media, 2005), hal. 32.).

Jauh sebelumnya, penyair besar Pakistan, Moh. Iqbal, sudah mengingatkan, bahaya pendidikan modern ala Barat yang juga menancapkan keraguan dan menghilangkan keyakinan dalam beragama. Hilangnya keyakinan dalam diri seseorang, kata Iqbal, lebih buruk dari perbudakan. Itulah yang diingatkan Iqbal, berpuluh tahun lalu: “Conviction enabled Abraham to wade into the fire; conviction is an intoxicant which makes men self-sacrificing; Know you, oh victims of modern civilization! Lack of  conviction is worse than slavery.”

Sebuah buku karya Douglas Groothuis berjudul Pudarnya Kebenaran: Membela Kekristenan terhadap Tantangan Postmodernisme (aslinya berjudul Truth Decay) terbitan Momentum Christian Literature (2000), memberikan catatan tentang tantangan postmodernisme terhadap kebenaran menurut Kristen: “Apa yang sedang dipertaruhkan bukanlah hal yang remeh atau tidak berharga. Harta berharga yang sedang dipertaruhkan itu tidak lain daripada kebenaran itu sendiri. Bukan sekedar mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi apakah kebenaran itu memang ada atau tidak!”

Banyak jargon-jargon indah yang disebarkan untuk mengemas paham relativisme kebenaran, sehingga tampak logis dan menarik, seperti ungkapan  “bedakan antara agama dan keberagamaan”, “jangan mensucikan pemikiran keagamaan”, “agama adalah mutlak, sedangkan pemikiran keagamaan adalah relatif”, “manusia adalah relatif, karena itu semua pemikiran produk akal manusia adalah relatif juga”, “tafsir adalah produk akal manusia, sehingga tidak bisa mutlak semutlak seperti wahyu itu sendiri”, “selama manusia masih berstatus manusia maka hasil pemikirannya tetap parsial, kontekstual, dan bisa saja keliru”, dan sebagainya.

Jadi, paham relativisme kebenaran memang sangat destruktif terhadap pemikiran Islam dan bahkan terhadap pemikirannya sendiri. Berangkat dari paham relativisme ini, maka tidak ada lagi satu kebenaran yang bisa diterima semua pihak.

Harusnya dibedakan antara hal yang qath’iy (pasti) dan yang dhanniy (relatif). Artinya, ada yang memang harus diyakini sebagai satu kebenaran, tetapi ada juga pemikiran yang tidak perlu diyakini kebenarannya, sehingga memberi peluang kebenaran pada pendapat orang lain.

Jika orang tidak boleh meyakini bahwa dirinya bener, maka orang yang mengucapkan itu pun tidak boleh merasa benar dengan ucapannya sendiri. Jika dia saja tidak merasa benar dengan ucapannya sendiri, lalu untuk apa ucapannya dipercaya! Wallahu A’lam bish-shawab.*/Depok, 2 November 2021

Penulis buku “Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Hegemoni Sekuler-Liberal” (2005). www.adianhusaini.id

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Buya Syakurpemikiranrelativisme
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya netral karbon Menteri LHK Targetkan Netral Karbon di 2060 atau Lebih Cepat
Tulisan selanjutnya Permendag no 20 Permendag No. 20 Tahun 2021 Longgarkan Masuknya Minol, Ketua MUI Serukan Revisi: ‘Rugikan Moral Bangsa dan Pendapatan Negara’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Menko PM Luncurkan Program 10 Ribu MCK untuk Pondok Pesantren Seluruh Indonesia

Berita
5 Agustus 2026 11:20
Presiden Suriah: Tergulingnya Rezim Assad Diperlukan Bagi Timur Tengah
Suhu Udara Panas Menyulut Kebakaran di Pangkalan Militer Iraq
Perang dengan Iran Kuras Persediaan Rudal Amerika Serikat
Pasukan Keamanan Nigeria Selamatkan 308 Korban Penculikan dari Taman Nasional Danau Kainji

Terbaru

  • Inilah Lima Poin Utama Pakta Pertahanan Mekkah antara Turki-Arab Saudi dan Pakistan
  • Liga Arab Sambut Pakta Pertahanan Makkah untuk Dunia Islam
  • Turki, Arab Saudi, dan Pakistan Bentuk Pakta Pertahanan Makkah: “Serang Satu, Hadapi Bertiga” 
  • Peringatan Arbain, Pro-Rezim Iran Bentrok dengan Pendukung Sadiq al-Shirazi
  • Pasukan Keamanan Nigeria Selamatkan 308 Korban Penculikan dari Taman Nasional Danau Kainji
  • Seminar Hidayatullah Bahas Isu LGSP dari Perspektif Psikologi, Keluarga dan Hukum
  • Militer Uganda Beri Penghormatan Abang Benyamin Netanyahu dengan Patung Memorial di Entebbe
  • MUI Tegaskan Pria Berbusana Wanita dalam Karnaval Kemerdekaan Hukumnya Haram
  • Jutaan Senjata Api di Tangan Warga Sipil, Thailand akan Perketat Izin Kepemilikan Usai Penembakan di Sekolah
  • Pelajar Pelaku Penembakan di Sekolah Bergengsi Thailand Pendiam dan Kerap Main Game Kekerasan

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?