Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir PekanKolom

Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 September 2023 13:58 1:58 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 September 2023 19:45
Bagikan
Gurindam Dua Belas pasal pertama dan kedua, ditatahkan pada marmer di dinding makam Engku Puteri Hamidah di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau.
Bagikan

Kitab Gurindam 12 membawa pesan penanaman nilai-nilai tauhid, akhlak, cinta ilmu, adab dalam kehidupan pribadi, rumah tangga, dan negara. Ia adalah warisan peradaban melayu yang agung

Oleh: Dr. Adian Husaini

Hidayatullah.com | DALAM beberapa kali mengisi kajian dan seminar di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau, saya membahas keagungan isi Kitab Gurindam 12 karya Raja Ali Haji. Karya ini begitu populer di kedua provinsi itu.

Kitab Gurindam 12 – yang aslinya ditulis dalam huruf Arab berbahasa Melayu/Jawi – mengandung konsep-konsep penting dalam pendidikan dan kebangkitan diri, masyarakat, dan bangsa.

Pasal 1 Gurindam 12 memuat ajaran-ajaran penting pembentukan pandangan hidup Islam (worldview of Islam). Pasal ini dibuka dengan kalimat tegas tentang pandangan dan sikap seseorang terhadap agama: “Barangsiapa tiada memegang agama, maka sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.”

Baca Juga

Membangun Peradaban dari Rumah: Ketahanan Keluarga sebagai Jalan Kebangkitan Umat
Iman, Ilmu, dan Amal: Tiga Pilar Kebangkitan Umat
Waspada Akhir Zaman: Merebaknya Ulama Sū’
Fenomena Salju Akhir Zaman di Jazirah Arab dan Kedatangan Imam Mahdi
Burung ‘Al-Bukht’: Pasukan yang Diutus Allah untuk Membersihkan Bangkai Ya’juj dan Ma’juj

Baris-baris berikutnya, diberikan rumus untuk menjadi orang yang ma’rifat dan bertaqwa: “Barangsiapa mengenal Allah, maka suruh dan tegah-Nya tiada ia menyalah. Barangsiapa mengenal diri, sungguh ia telah mengenal Tuhan yang bahri. Barangsiapa mengenal dunia, tahulah ia barang yang terperdaya. Barangsiapa mengenal akhirat, tahulah ia dunia itu mudharat!”

Sekedar contoh, silakan simak pasal 3 Gurindam 12: “Apabila terpelihara mata, sedikitlah cita-cita. Apabila terpelihara kuping, khabar yang jahat tiadalah damping. Apabila terpelihara lidah, niscaya dapat daripadanya paedah.   Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,    daripada segala berat dan ringan. Apabila perut terlalu penuh, keluarlah fi’il yang tiada senunuh. Anggota tengah hendaklah ingat, di situlah banyak orang yang hilang semangat. Hendaklah peliharakan kaki, daripada berjalan yang membawa rugi.”

Renungkanlah!  Betapa agungnya makna yang terkandung dalam untaian kata-kata indah dari seorang sastrawan, ulama, dan Pahlawan Nasional dari Pulau Penyengat Kepulauan Riau itu.

Jika kata-kata indah dalam Kitab Gurindam 12 itu dipahami dan diamalkan, maka insyaAllah, bangsa Melayu menjadi bangsa yang hebat dan tak terkalahkan.

Saat berkunjung ke Provinsi Kepri, 31 Oktober 2022, saya melihat Gurindam 12 itu ditulis di Pintu Keluar Bandara Raja Haji Fisabilillah. Nama ini  tak lain adalah kakek dari Raja Ali Haji.

Memasuki kota Tanjung Pinang, ada Taman Gurindam. Di Auditorium Universitas Maritim Raja Ali Haji, Gurindam 12 itu juga ditulis melingkar di atapnya.

Tapi, apakah pesan-pesan penting dalam Kitab Gurindam 12 itu benar-benar dipahami dan diamalkan oleh para ulama, guru, penguasa dan rakyat di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau? Allah Maha Tahu. 

Yang jelas, Gurindam 12 membawa pesan penanaman nilai-nilai Tauhid, akhlak mulia, cinta ilmu, serta adab dalam kehidupan pribadi, rumah tangga, dan negara.

Di Pesantren At-Taqwa Depok, Kitab Gurindam 12 wajib dikhatamkan oleh para santri tingkat SMP. Begitu juga kitab karya Raja Ali Haji lainnya. Di sini juga ada asrama santri bernama: Gedung Raja Ali Haji. Bahkan, ada satu spanduk besar kutipan Gurindam 12 pasal 5: “Di antara tanda orang berilmu, bertanya dan belajar tiadalah jemu!”

***

Ketika menjalani kuliah S3 di ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization) tahun 2003-2005, saya mengambil satu mata kuliah: “Reading in Malay Metaphysical Literature” (Membaca Teks Metafisika Melayu). Diantara kitab yang dikaji adalah “Hujjatus Shadiq li-Daf’i al-Zindiq” karya Syeikh Nuruddin al-Raniri.

Kitab ini juga ditulis dalam huruf Arab-Melayu. Ada beberapa mahasiswa asal Turki dan Malaysia yang mengambil mata kuliah tersebut. Ketika itulah saya bersyukur, bahwa sejak duduk di bangku sekolah dasar di kampung, saya sudah belajar huruf Arab Melayu di Madrasah Diniyah.

Penguasaan khazanah Arab-Melayu (huruf Arab Pegon) semakin saya dalami di          Pesantren ar-Rosyid, Bojonegoro, saat duduk di bangku SMA. 

Penguasaan huruf Arab-Melayu ini menjadi pintu masuk untuk memasuki khazanah keilmuan Islam di wilayah Nusantara. Sebab, ribuan kitab para ulama ditulis dalam huruf Arab-Melayu. Jika huruf ini tidak dikuasai lagi oleh generasi muda muslim, maka akibatnya, terputuslah mereka dari sejarahnya.

Bahasa dan huruf  Arab-Melayu inilah yang dulu dipakai oleh seluruh Muslim di kawasan Nusantara. Bahasa inilah yang menyatukan mereka, ke dalam satu agama dan satu peradaban. 

Karena itulah, di pendidikan tingkat SD Pesantren At-Taqwa Depok, para santri sudah diwajibkan membaca Kitab Arab Melayu, berjudul Adabul Insan dan Risalah Dua Ilmu, karya Ulama Betawi Habib Utsman bi Yahya.

Jika khazanah intelektual Melayu itu tidak dipahami oleh generasi muda Muslim Melayu, maka akan terjadi “kematian peradaban Islam-Melayu”. Inilah yang dikatakan cendekiawan Muslim Muhammad Asad: bahwa suatu peradaban tidak akan bangkit jika peradaban itu kehilangan kebanggaannya atau terputus dari sejarahnya.

Jika generasi muda muslim terputus dari masa lalunya sendiri dan kehilangan kebanggaan terhadap peradabannya, maka mereka akan berpaling kepada peradaban lain. Dalam hal ini, peradaban Barat yang dibawa oleh penjajah akhirnya dijadikan alternatif jalan kebangkitan.

Mitos yang dibangun dan ditanamkan kepada generasi muda Melayu adalah bahwa peradaban Barat memiliki keunggulan rasionalitas dan cara berpikir ilmiah. Dengan mengikuti rasionalitas Barat itulah, kaum muslimin akan meraih kemajuan, sebagaimana bangsa Eropa.

Tentu saja mitos itu tidak benar. Kedatangan Islam di wilayah Melayu-Nusantara terbukti membawa kebangkitan rasionalitas di alam ini. Ribuan karya para ulama di Nusantara membuktikan hal itu. Ribuan ulama di Alam Melayu telah menulis kitab-kitab yang bernilai tinggi. 

Kita berharap, Kasus Rempang yang telah memicu reaksi hebat di seluruh Indonesia, bisa menjadi pelajaran berharga. Bangsa Melayu, khususnya anak-anak mudanya, patut mengkaji dan mengamalkan khazanah intelektual ulama-ulama Melayu yang agung.

Dan kita juga berharap, pemerintah pun berkenan melindungi dan mengembangkan pemikiran para ulama Melayu yang begitu bernilai dan sangat bermanfaat untuk membangun jiwa dan raga bangsa Indonesia agar menjadi bangsa yang unggul dan bahagia hidupnya.

Semoga Allah Tuhan Yang Maha Esa melindungi bangsa Melayu,  peradaban Melayu, dan bangsa Indonesia pada umumnya. Aamiin. (Solo, 16 September 2023).

Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia

Yuk bergabung dengan Gerakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar  media Hidayatullah BCA 1280720000 a.n. Yayasan Baitul Maal Hidayatullah (BMH)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:adapakhlakHeadlineilmuKitab Gurindam 12nilai tauhidperadaban melayu
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kota Derna Berjuang Menangani Ribuan Jenazah yang Muncul Setelah Banjir Bandang 
Tulisan selanjutnya Sukamta: China Susun Peta Baru, Kok Kita Anteng?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ketua Umum MUI Dorong Pemerintah Tiru Rusia Tetapkan Gerakan LGBT Teroris

Berita
30 Juni 2026 16:35
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Membangun Peradaban dari Rumah: Ketahanan Keluarga sebagai Jalan Kebangkitan Umat
Dua Anggota Garda Revolusi Iran Ditembak Mati dekat Kurdistan
Zionis ‘Israel’ Habiskan Hampir Rp3.673 Triliun untuk Perang sejak 7 Oktober

Terbaru

  • Rusia Sempat Dituduh, Pipa Gas Nord Stream Ternyata Disabotase Tentara Ukraina
  • Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang
  • Membangun Peradaban dari Rumah: Ketahanan Keluarga sebagai Jalan Kebangkitan Umat
  • Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
  • MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji
  • Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
  • Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
  • Dua Anggota Garda Revolusi Iran Ditembak Mati dekat Kurdistan
  • Ngaku Bisa Terbang, Pendeta Hindu di India Tewas Usai Terjatuh dari Bukit
  • Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam

Mungkin Anda Juga Suka

Akhir ZamanKolom

Kendaraan Dajjal di Akhir Zaman

25 Maret 2026 20:00
Akhir ZamanKolom

70.000 Pengikut Dajjal dari Iran? Baca Hadits Berikut!

9 Maret 2026 22:00
Analisa Dunia IslamArtikel

Betulkah Gabung Board of Peace merupakan Tindakan Realistis?

4 Februari 2026 11:43
Analisa Dunia Islam

Masjid Dikepung, Ulama Dipenjara: Jejak Panjang Diskriminasi di Tajikistan

22 Juli 2025 08:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?