Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Tentara Prancis Mendarat di Yaman, Mengincar Gas Alam Cair

Ahmad
Terakhir diupdate: 24 Agustus 2022 12:00 12:00 pm
Ahmad
Dipublikasikan 24 Agustus 2022 13:39
Bagikan
Foto (The Cradle)
Bagikan

Hidayatullah.com—Ini mungkin terdengar seperti film petualangan yang buruk, bagaimana tentara Prancis telah mendarat di Yaman yang diduga sedang ‘mengincar’ gas alam dengan alasan mencoba menstabilkan daerah itu.  Pemerintah Keselamanatan Yaman (National Salvation Government/NSG) menyatakan keprihatinan atas apa yang disebutnya aktivitas “mencurigakan” pasukan AS dan Prancis di selatan negara yang dilanda perang itu, lapor laman The Cradle.

Diskusi tersebut berlangsung selama sesi parlemen yang diadakan oleh pejabat NSG pada 17 Agustus lalu.  Aktivitas mencurigakan yang dikutip oleh NSG mengacu pada klaim yang dibuat oleh mantan Menteri Luar Negeri Yaman, Abu Bakr al-Qirbi, yang mengatakan bahwa Legiun Asing Prancis, pasukan militer Prancis yang terdiri dari warga negara asing, tiba di provinsi Shabwah Yaman untuk mengamankan kendali atas fasilitas gas alam Balhaf.

Menurut al-Qirbi, pasukan dari Legiun Asing Prancis telah mendarat di pelabuhan Balhaf di Provinsi Shabwa selatan, sekitar 230 mil timur Aden. Tujuan tentara Prancis ini, kata dia, untuk mengamankan fasilitas ekspor penting gas alam cair (LNG) di sana.

Al-Qirbi mengatakan bahwa ada “persiapan yang dilakukan Prancis untuk mengekspor gas dari fasilitas Balhaf … mengingat kenaikan harga gas internasional,” dan dalam upaya untuk mengurangi ketergantungan Eropa pada bahan bakar Rusia di tengah krisis energi global yang diperburuk oleh konflik di Ukraina.

Al-Qirbi juga menyarankan bahwa langkah Prancis “bisa menjadi alasan untuk peristiwa di Shabwah,” mengacu pada bentrokan baru-baru ini antara kelompok tentara bayaran yang didukung UEA dan pasukan Partai Islah yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin dan Dewan Kepemimpinan Presiden (PLC) yang didukung Saudi.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Al-Qirbi pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Yaman dari tahun 2001 hingga revolusi yang dipimpin Syiah al-Houthi pada tahun 2014. Meskipun mengklaim pemberontak Houthi didukung oleh Iran, al-Qirbi bergabung dengan Pemerintah Keselamatan Nasional secara singkat pada tahun 2016 untuk mengulangi perannya sebagai kepala diplomat.

Fasilitas LNG Yaman di Balhaf selesai pada 2006 dan dimatikan pada April 2015, sebulan setelah serangan koalisi pimpinan Saudi di negara itu, dan tetap tidak aktif. Sejak itu, Balhaf menjadi basis operasi utama bagi pasukan Emirat di Yaman, meskipun hampir semua pasukan Emirat telah ditarik dari negara tersebut.

Gubernur Shabwa pada saat itu, Mohammed Saleh bin Adyo, menuduh UEA merebut kota itu karena kilang LNG, dan mencoba menggunakannya untuk memicu “pemberontakan” untuk tujuan mereka sendiri. Daerah di sekitar Balhaf telah lama dianggap sebagai benteng Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) selama perang saudara, dan UEA dituduh membantu mempersenjatai mereka.

Investigasi oleh Amnesty International dan CNN pada awal 2019 mengungkapkan bahwa senjata Barat yang dijual ke UEA kemudian muncul di tangan kelompok pemberontak di seluruh Yaman, termasuk AQAP. Senjata Prancis sangat menonjol dalam konflik tersebut.

Pada April 2019, sebuah laporan yang sangat rahasia dari tahun sebelumnya bocor ke pers, yang mengungkapkan bahwa pemerintah Prancis berbohong ketika mengatakan tidak mengetahui senjata buatan Prancis digunakan terhadap warga sipil di Yaman, atau memang, digunakan di Yaman.

Dua tahun kemudian, Presiden Prancis Emmanuel Macron dikritik secara luas karena terbang ke Abu Dhabi untuk menutup kesepakatan senilai $19 miliar untuk menjual 80 jet tempur Rafale emirat dan 12 helikopter Caracal. Bulan lalu, Macron dan Putra Mahkota Emirat Mohammed bin Zayed menandatangani kesepakatan baru tentang eksploitasi bersama sumber daya LNG.

Perang di Yaman dimulai pada Maret 2015, ketika Presiden Abdullah Mansyur Hadi melarikan diri ke Riyadh setelah istana diduduki pemberontak Syiah al-Houthi yang didukung Iran. Saudi kemudian mengumpulkan koalisi negara-negara Sunni, termasuk UEA, Maroko, dan Sudan, dengan dukungan Amerika Serikat, untuk menghancurkan Houthi dan mengembalikan Hadi ke tampuk kekuasaan.

Akibat perang ini, PBB mengatakan, sekitar 377.000 orang tewas, sebagian besar karena penyebab non-tempur, seperti penyakit, kelaparan, dan kekurangan obat-obatan atau air bersih. Terlepas dari serangan itu, Houthi terus memperluas wilayah mereka, mendorong ke selatan menuju Aden dan timur ke Provinsi Ma’rib dan Shabwa, di mana simpanan minyak dan gas negara itu berada.

Mereka juga telah memasang serangan drone dan rudal terhadap instalasi Saudi dan Emirat di dalam negara-negara tersebut, mengubah perang menjadi pertempuran gesekan.

Menurut laman anti-perang, news-antiwar.com, Legiun Asing Prancis adalah korps Angkatan Darat warga negara asing, yang secara historis digunakan dalam petualangan Prancis di luar negeri. Mereka adalah tentara yang telah digunakan dalam beberapa dekade sejak akhir penjajahan Afrika.

Juni lalu, tiga LSM yang bergerak di bidang HAM melayangkan gugatan kepada tiga produsen senjata asal Prancis karena diduga telah terlibat dalam kejahatan perang di Yaman. Produsen senjata tersebut diketahui menjual senjata ke Arab Saudi dan UEA.

Ketiga LSM yang mengajukan gugatan adalah European Centre for Constitutional and Human Rights (ECCHR), Mwatana for Human Rights, dan Sherpa International. Sementara itu, ketiga produsen senjata Prancis yang menjadi tergugat adalah Dassault Aviation, Thales, dan MBDA France.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Legiun Asing PrancisNSGTentara PrancisYaman Gas Alam Cair
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Presiden Otoritas Palestina Tiba di Turki atas Undangan Erdogan
Tulisan selanjutnya Flu Burung, Ratusan Nasar Hitam Mati di Suaka Margasatwa di Georgia AS

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Berita
4 Juni 2026 11:00
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?