Khutbah Jumat kali ini membahas ketegasan Qatar mempertahanpan prinsip dan syariah Islam ini di ajang Piala Dunia 2022 meski banyak mengalami kecaman dari Barat
Oleh: Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil
Hidayatullah.com | MELALUI even Piala Dunia, Qatar memberi contoh kita semua bahwa kapan saja kita bisa menyampaikan kepada dunia bahwa Islam adalah rahmat untuk semua makhluk. Inilah naskah khutbah Jumat secara lengkapnya;
Khutbah Jumat pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Kaum Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Qatar menjadi sorotan seantero dunia lewat perhelatan akbar sepak bola. Qatar yang merupakan negara kaya minyak dan gas alamnya, menjadi negara muslim pertama yang menyelenggarakan gelaran besar ini. Hampir tiga ribu triliun rupiah digelontorkan untuk menyiapkan segala sesuatunya.
Kita sebagai sesama umat Islam patut bangga dan ikut berbahagia atas kemampuan salah satu negeri muslim ini. Salah satu ciri persaudaraan dalam Islam adalah senang dengan apa yang menjadi kebahagiaan saudaranya dan ikut sedih atas kesedihan yang dirasakan oleh saudaranya.
Dari penyelenggaraan Piala Dunia 2022 di Qatar ini ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dan kita jadikan sebagai pegangan sebagai seorang Muslim.
Pertama, dakwah itu memiliki medan juang yang luas. Seperti kita ketahui bersama Piala Dunia 2022 dimanfaatkan sebagai sarana dakwah, yang diisi dengan menyampaikan pesan-pesan kedamaian, persatuan, dan keindahan dalam ajaran Islam.
Dalam pembukaan piala dunia diawali dengan pembacaan ayat Al-Quran. Saat itu, seseorang bertanya kepada Miftah Al-Ghanim, seorang penyandang disabilitas, tentang bagaimana cara menyatukan umat manusia yang berbeda-beda, yang terkadang terbelah dan berjalan sendiri-sendiri.
Bagaimana caranya agar umat manusia yang berbeda suku, bangsa, bahasa, dan budaya, bisa bersatu? Dijawab dengan ayat suci Al-Quran surah Al-Hujurat ayat 13 :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu…”
Dijelaskan lebih lanjut oleh Miftah Al-Ghanim, “Kami diajarkan untuk meyakini bahwa kita (umat manusia) disebar di muka bumi dalam keadaan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kita bisa saling belajar dan menemukan keindahan dalam perbedaan di antara kita. Dengan sikap saling hormat dan toleransi kita bisa hidup bersama di bumi.”
Subhanallah, kita bisa melihat bahwa sarana apa pun bisa menjadi medan dakwah dalam menyisipkan pesan rahmatan Lil a’lamin dari Islam, termasuk lewat perhelatan piala dunia kali ini.
Kita bisa belajar bahwa sarana dakwah kita sangat banyak. Kita manfaatkan sarana yang ada untuk mengajak umat manusia mengenal Islam, menanamkan nilai-nilainya, dan mengamalkannya. Insya Allah semuanya dicatat sebagai amal saleh di sisi Allah ﷻ.
Kaum Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Kedua, sikap tegas dalam melarang berbagai bentuk kemunkaran di sepanjang event piala dunia. Sikap tegas ini bisa kita lihat dari sejumlah larangan yang diberlakukan :
Pertama, melarang hubungan tanpa ikatan pernikahan. Hal ini jelas termasuk dari perbuatan zina yang memang sangat dilarang dalam ajaran Islam. Jangankan sampai melakukannya, bahkan mendekatinya saja, sudah dilarang apalagi sampai melaksanakannya.
Perbuatan zina adalah salah satu dosa besar. Levelnya berada pada urutan ketiga setelah dosa syirik dan membunuh seseorang. Hubungan di luar pernikahan memang menjadi salah satu masalah sosial yang marak terjadi akhir-akhir ini.
Seolah zina sudah menjadi hal biasa asal dilakukan suka sama suka, tanpa paksaan dari salah satu pihak. Bahkan tidak sedikit sejumlah pihak yang baru sebatas lamaran atau memberi cincin sudah tinggal satu atap.
Ketahuilah, bahwa hukuman zina di akhirat kelak lebih berat dari apa yang terjadi di dunia. Cukup sebagai cambuk peringatan bagi kita semua bahwa berbuat zina sekali saja akan merontokkan pahala ibadah seseorang yang ahli ibadah selama enam puluh tahun. Demikianlah yang ditulis oleh Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam bukunya Nidzamul Usrah fil Islam.
Lalu, bagaimana dengan yang bukan ahli ibadah, bekal apa yang akan ia bawa mati jika tidak tersisa sedikit pun dari amal kebaikannya? Rasul ﷺ bersabda :
إن الإيمان سربال يسربله الله من يشاء، فإذا زنى العبد نزع منه سربال الإيمان، فإذا تاب رد عليه
“Iman itu laksana gamis/baju yang Allah kenakan pada hamba-Nya yang dikehendaki, bila seorang berzina lepaslah pakaian tersebut, bila dia bertobat dikembalikan lagi pakaiannya.” (HR: Baihaqi).
Kedua, sikap tegas juga tampak dari larangan menunggak minuman keras. Minuman keras adalah induk segala kejahatan. Dari minuman keras seseorang bisa mengeluarkan kata-kata kufur, menceraikan pasangannya, melakukan pembunuhan, tawuran, dan dampak-dampak buruk yang merusak otak dan kesehatan peminumnya.
Sayidina Abdullah bin Mas’ud berkata, “Dalam masalah minuman keras ada sepuluh pihak yang mendapatkan kutukan, yaitu : Orang yang memerasnya, orang yang minta diperaskan, orang yang me minumnya, orang yang memberikan minuman, orang yang mem.bawanya, orang yang dibawakannya, orang yang berdagang minuman, orang yang menyediakan tempat untuk berdagang, orang yang menjualkannya, orang yang membelinya, dan orang yang menanamnya.”
Diriwayatkan bahwa pernah Sayidina Utsman bin Affan, memberikan khutbah, “Wahai segenap manusia, jauhilah minuman keras karena sesungguhnya minuman keras itu adalah induk dari segala perbuatan keji. Demi Allah, sungguh iman dan minuman keras itu tidak akan bisa berada dalam hati seseorang, melainkan salah satu di antara keduanya itu akan mendesak untuk menghilangkan yang lain.”
Ketiga, dan hal ini yang paling menjadi sorotan negara-negara Barat dan aktivis HAM tentang larangan memakai segala bentuk dan simbol LGBT. Kita ketahui bahwa kelompok LGBT benar-benar geram dengan langkah Qatar yang sangat tegas melarang segala bentuk kampanye LGBT termasuk bagi Timnas mana saja yang tampil di Piala Dunia.
Kaum Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah
Ketegasan Qatar ini perlu ditiru oleh negara-negara muslim demi menyelamatkan moral seluruh anak bangsa dari cengkraman LGBT yang menggeliat dalam satu dekade ini. Karena kita tahu bahwa perilaku LGBT ini adalah perilaku yang menyimpang dari fitrah manusia, perbuatan amoral yang justru menginjak hak asasi manusia, ia adalah penyakit yang seharusnya diobati bukan malah dikembangbiakkan.
Rasul ﷺ bersabda :
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ
“Allah mengutuk seseorang yang melakukan perbuatan kaum Luth, Allah mengutuk seseorang yang melakukan perbuatan kaum Luth, Allah mengutuk seseorang yang melakukan perbuatan kaum Luth (3x diulang oleh beliau).”
Inilah dua hal yang perlu kita jadikan bahan pelajaran dari penyelenggaraan piala dunia pertama di negara muslim. Kita belajar tentang bagaimana mengartikulasikan makna rahmatan Lil a’lamin dengan baik dan benar, tanpa menghilangkan sikap tegas terhadap segala bentuk kemunkaran serta kemaksiatan. Melalui even piala dunia di Qatar, kita bisa menyampaikan kepada dunia bahwa Islam adalah rahmat untuk semua makhluk.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Jumat Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. اَمَّا بَعْدُ :
فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ تَعَالىَ وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ وَمَا بَطَنْ، وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ.
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ،
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ وَالجُنُونِ والجُذَامِ وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا, اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى والتُّقَى والعَفَافَ والغِنَى، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Khutbah Jumat: ini dikeluarkan Rabithah Alawiyah Kota Malang dan www.hidayatullah.com. Arsip lain terkait Khutbah Jumat bisa diklik di SINI