Syeikh Abdulah al-Manüfi memandang dunia seperti jasad, sehingga ia tak mengambilnya kecuali sekadar amat ia perlukan
Hidayatullah.com | Syeikh Abdulah al-Manüfi dikenal ahi ilmu dan amal, seorang ahli ibadah dan zahid. Al-Manif adalah nisbah pada asal kotanya, Manuf di Delta Mesir.
Imam al-Munawi melukiskan “Abdulah al-Manüfi beliau memandang dunia seperti jasad (mayat sehingga ia tak mengambilnya kecuali sekadar yang amat ia perlukan.” la sangat warak dalam ucapan, perbuatan, minum, makan, dan berpakaian.
la hanya mengenakan baju hasil tenunan saudara perempuannya, karena ia sangat percaya terhadap kewarakan saudara perempuannya. la mencukupkan diri dengan baju lusuh dan kasar, dan surban yang kurang dari sepuluh hasta.
la biasa duduk di atas lap keset atau alas pengemis. la biasa mengenakan mantel yang harganya kurang dan empat dirham.
la pernah ditawari mengepalai sejumlah sekolah tapi ia menolak. la juga menolak bertemu dengan raja la tidak melirik dan tidak hirau pada ahli dunia.
Baginya. sama saja antara raja dan seorang fakir, antara pujan dan celaan. la juga ditawari banyak ja- batan, tapi ia menolak.
la pergi meninggalkan dunia, sebagaimana ia datang pertama kali ke dunia, dalam keadaan tangannya hampa dari dunia. la biasa sedikit tidur, sedikit bicara, berhari-han tidak makan dan minum.
Setiap waktunya makmur oleh ibadah, mengajar, dan mengerahkan upaya kebaikan untuk manusia. la sosok ayat tentang tawadhu dan menghinakan nafsu.
Hari itu Syeikh al-Manúfi diundang menghadiri sebuah jamuan. Ia bersama murid-murid dipersilahkan tuan rumah duduk di tempat menyimpan sandal.
“Jangan makan dulu sebelum orang-orang selesai makan,” begitu pesannya.
Beberapa saat kemudian, ia bersama muridnya disuguhi sisa-sisa makanan para budak dan anak kecil. Syeikh dengan senang menyendok bejana itu dan berkata, “Ambillah berkah (sisa-sisa makanan) orang-orang yang sudah makan. Dan belajarlah untuk berbaik berbaik sangka kepada mereka. Sebab, seandainya mereka tidak berbaik sangka kepada kita dan tidak memandang kita termasuk orang-orang saleh yang telah mati nafsunya, tentu mereka tidak akan mendudukkan kita di belakang sandal ini, dan tidak akan menjamu kita dengan sisa makanan ini!”
la biasa menyapu (membersihkan) kamar mandi dengan tangannya, mengisi bak mandi dengan air yang ia angkut dari tangki air (atau kolam) untuk janda-janda dan orang jompo. Ketika ia duduk mengajar, ia tak pernah memandang dirinya ahli membaca, dan ia biasa berkata kepada murid-muridnya: “Kita ini tak lain adalah saudara yang saling mengingatkan.”
la biasa pergi jauh berjalan kaki di bawah terik matahari ke daerah-daerah. Ketika putranya, Muhammad, berkata kepadanya: “Kami sediakan keledai untukmu.” Syekh lalu berkata, “Keledai tak sepatutnya menunggang keledai.”
Ketika beliau menjelang ajal, dikatakan kepadanya: “Kami akan memakamkanmu di pemakaman Qiráfah karena keberkahan dan banyaknya orang salen (yang dimakamkan di sana). Ia lalu menolak dan berkata, “Tidak, kecuali orang-orang tidak keberatan membawa bangkaiku ke sana,” ujarnya.*(Raf’ A’lam an-Nashr bi-Dzikri Auliya’ Mishr, karya Khalid Muhammad Tsabit, dari buku Qisasul Auliya’)