Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Silatnas LPBKI-MUI Ingatkan Peran Penting Media dan Literasi Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 November 2022 20:30 8:30 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 November 2022 20:30
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman Majelis Ulama Indonesia (LPBKI-MUI) menyelenggarakan Silaturahmi Nasional (Silatnas) ke-IV dengan tema Sinergi Pengembangan Literasi Islam Wasathiyah di Hotel Redtop Jakarta, Rabu (30/11/2022).

Ketua LPBKI-MUI, Endang Soetari, dalam sambutannya mengatakan bahwa di antara tugas LPBKI-MUI adalah pentashihah dan penerbitan buku dan konten keislaman, dan perwakawaf Al-Qur’an dan buku-buku, pengelolaan perpustakaan, sosialisasi, pelatihan, dan bimbingan. Selain itu, LPBKI juga melakukan tashih alat peraga pendidikan dan fesyen Islam.

“Silatnas ini menjadi forum diskusi antara LPBKI dan pemangku kepentingan. Kita menjalin MoU dengan kampus, pegiat Islamic fashion (IRD dan UIK). Islamic fashion menjadi bagian penting dalam pengembangan Islam Wasathiyah,” jelasnya.

Ketua MUI, Utang Ranuwijaya, berharap acara silatnas menjadi program tahunan LPBKI sehingga diskusi dengan para pemangku kepentingan bisa dilakukan secara intens. Dikatakannya, LPBKI dan para pemangku kepentingan perlu saling menjalin kerja untuk pengembangan literasi keislaman.

Selain itu, LPBKI juga bisa bersinergi dengan pihak-pihak lainnya sehingga Silatnas bisa semakin menarik dan semarak. “Silatnas perlu dikemas dengan lebih menarik dan lebih semarak lagi. Kita bisa bersinergi dengan hartawan dan pejabat dan menampilkan pameran-pameran,” katanya.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Ia mengingatkan bahwa LPBKI punya program wakaf. Banyak masyarakat di pelosok yang membutuhkan Al-Qur’an.

“Ibu dan bapak bisa mewakafkan Al-Qur’an melalui LBKI dan LPBKI akan menyalurkannya ke mereka yang membutuhkan,” lanjutnya.

Wakil Ketua Umum MUI, Marsudi Syuhud, menjelaskan, Allah menciptakan Muslim sebagai umat yang wasatha (tengah, adil, seimbang). Menurutnya, umat wasatha mencakup semua nilai kehidupan, termasuk politik kebangsaan. Ulama-ulama dulu sebelum kemerdekaan berdiskusi tentang bentuk negeri ini.

Mereka sepakat, urusan negara dan kepemimpinan dilakukan dengan cara musyawaran dan rida.  “Ada satu pertanyaan yang harus dijawab, yaitu ‘Apakah saya berbangsa dan bernegara di NKRI yang menjadikan UUD 1945 dan Pancasila sudah sesuai dengan ajaran agama saya?’ Pertanyaan itu akan muncul terus di generasi kita dan selanjutnya,” tegasnya.

Disebutkannya, ada banyak konsep dan model berbangsa dan bernegara. Ada yang ekstrem kanan (sosialis) dan ada ekstrem kiri (kapitalis). Ulama dan pendiri bangsa zaman dulu memilih titik tengah.

Mereka menyatukan nilai-nilai yang tetap dan yang berubah dengan al-tathawwur sehingga menjadi sebuah negara bangsa. Para ulama dan para pendiri bangsa sepakat negara Indonesia berdasarkan syura dan rida. Maka dibentuklah DPR, MPR, DPD, dan lainnya.

“Banyak negara Islam yang mengalami perang. Indonesia bisa menjadi contoh perdamaian. Banyak negara yang iri dengan Indonesia. Indonesia punya budaya kumpul-kumpul dan itu tidak dimiliki mereka. Mereka ingin belajar kepada Indonesia. Kita harus merawat negara dan bangsa ini. Apa yang kurang baik perlu diperbaiki dan yang sudah baik perlu ditingkatkan lagi,” ucapnya.

Pada diskusi sesi pertama, Nur Rahmawati dari Subdit Kepustakaan Islam Kemenag menyebut bahwa Kemenag dan LPBKI sudah lumayan lama melakukan sinergitas. Menurutnya, produk atau konten literasi Islam semakin dinamis.

Namun tidak semua penulis punya perspektif tentang keragaman Indonesia dan otoritas keilmuan. “Kita perlu meningkatkan daya saring masyarakat agar tidak terjebak dengan konten atau buku yang menyesatkan,” ucapnya.

Sementara Wasekjen MUI, Arif Fahrudin, menguraikan lima langkah untuk membangun ekosistem tashih konten keislaman. Pertama, konsolidasi penulis konten keislaman kebangsaan.

Media dinilai punya peran sangat penting untuk menyebarkan informasi atau kegiatan yang kita buat sehingga apa yang ingin disampaikan bisa diketahui oleh khalayak umum. Kedua, kedaulatan sistem informasi, apalagi sekarang semua orang bisa memproduksi konten dan informasi.

“Kita berada dalam era tsunami informasi. Semua platform media sosial dimiliki oleh negara-negara Barat. Dunia Islam hanya menjadi ladang konsumen saja,” jelasnya.

Ketiga, penguatan sinergi jejaring intelektual pondok pesantren dan perguruan tinggi. Menurutnya, perlu ada pertemuan intelektual pesantren dan perguruan tinggi yang intensif sehingga mereka membuat konten dan kontennya bisa dipertanggungjawabkan.

Keempat, penguatan literasi konten keislaman dan kebangsaan. Keislaman dan kebangsaan adalah dua hal yang saling melengkapi dan jangan dibentur-benturkan. Kelima, capacity building SDM pentashih konten keislaman.

“Kita perlu melakukan pelatihan-pelatihan—level dasar, menengah, dan lanjut- untuk meningkatkan kapasitas masyarakat,” katanya.

Pada diskusi sesi kedua, Direktur Aplikasi Alat Peraga Pendidikan Islam dan Dosen Unisma, Yayat Suharyat menceritakan awal mula ia membuat alat peraga pendidikan agama Islam. Ia menuturkan, pada saat itu ada alat peraga matematika, olahraga, dan pelajaran lainnya, sementara alat peraga pendidikan agama Islam belum ada.

Ia semula ditawari pimpinan perusahaan untuk membuat alat peraga pendidikan Islam.  “Saya kemudian minta mahasiswa untuk mem-breakdown kurikulum SD. Kita kemudian membuat alat peraga PAI untuk SD, SMP berdasarkan kurikulum yang ada. Kita memilah keunikan yang ada dalam kurikulum tersebut,” jelasnya.

Disebutkannya, alat peraga yang dibuatkan tidak mengandung unsur penistaan agama kita sendiri atau agama orang lain dan tidak bias gender. Menurutnya, alat peraga mempermudah guru dan siswa, namun itu harus dengan standar syar’i.

“LPBKI MUI punya peran penting untuk mentashih alat peraga kita sehingga alat peraga kita tidak membuat gaduh, mengingat ada banyak mazhab dan aliran di Indonesia,” tegasnya.

Narasumber terakhir, Wesnina, Dosen Prodi Pendidikan Vokasional Desain Fesyen UNJ, menguraikan tiga fungsi busana. Pertama, aspek biologis, yaitu melindungi tubuh dari cuaca, serangga, dan lainnya.

Kedua, aspek psikologis. Yaitu meningkatkan rasa percaya diri, membuat nyaman. Ketiga, aspek sosial. Yaitu menutup aurat, identitas kelembagaan, memenuhi syarat kesusilaan.

“Busana Muslim adalah berbagai jenis busana yang dipakai oleh perempuan Muslimah sesuai dengan ketentuan syariah Islam untuk menutupi bagian-bagian yang tidak pantas diperlihatkan kepada publik. Kaidah busana Muslimah adalah pakaian perempuan yang tidak ketat atau longgar serta menutupi seluruh tubuh perempuan, kecuali muka dan telapak tangan,” pungkasnya.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Literasi IslammediaSilatnas LPBKI-MUI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Semua Biksu Pakai Narkoba Kuil di Thailand Ini Kosong
Tulisan selanjutnya Laznas BMH Terima 4 Penghargaan di “Indonesia Fundraising Award 2022”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?