Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Taliban Ubah Pangkalan Militer Asing di Afghanistan Jadi Zona Ekonomi Bisnis

Ama Farah
Terakhir diupdate: 20 Februari 2023 13:49 1:49 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 20 Februari 2023 13:47
Bagikan
Polisi dan tentara Afghanistan berjaga-jaga di luar Bagram.
Bagikan

Hidayatullah.com– Taliban yang saat ini menguasai pemerintahan Afghanistan mengatakan akan mengubah sebagian pangkalan militer asing yang ada di negaranya menjadi zona ekonomi untuk kegiatan bisnis.

Hal itu diumumkan hari Ahad (19/2/2023) oleh Mullah Abdul Ghani Baradar yang bertindak sebagai deputi perdana menteri urusan perekonomian.

“Diputuskan bahwa Kementerian Perindustrian dan Perdagangan harus secara bertahap mengambil kendali atas pangkalan-pangkalan militer yang tersisa dari pasukan asing dengan tujuan mengubahnya menjadi zona khusus,” kata Mullah Baradar seperti dikutip BBC.

Dia menambahkan bahwa proyek itu akan dimulai dengan pangkalan yang berada di ibu kota Kabul dan di Provinsi Balkh di utara, tetapi dia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Pasukan militer negara-negara asing bercokol di Afghanistan selama dua dekade. Pada Agustus 2021 penerbangan militer Amerika Serikat yang terakhir bertolak meninggalkan bandara Kabul, menandai berakhirnya 20 tahun kehadiran serdadu AS di Afghanistan, peperangan terpanjang yang pernah dilakoni pasukan negara itu di luar negeri.

Baca Juga

SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza

Konflik bersenjata di Afghanistan telah merenggut puluhan ribu nyawa manusia dan menyebabkan jutaan lainnya terpaksa kehilangan tempat tinggal, banyak di antaranya bahkan mengungsi ke luar negeri.

Sejak penarikan pasukan militer asing dan pengalihan kekuasaan ke Taliban, keuangan negara Afghanistan dilanda sejumlah masalah besar. Sanksi dikenakan terhadap anggota-anggota pemerintah, aset luar negeri bank sentral dibekukan, dan sebagian besar bantuan luar negeri – yang sebelumnya mendukung perekonomiannya – ditangguhkan.

“Taliban sangat perlu segera mengisi pundi-pundinya jika ingin memerintah dengan lebih baik dan mendapatkan legitimasi di dalam negeri,” kata Muhammad Faizal Bin Abdul Rahman dari S Rajaratnam School of International Studies di Singapura kepada BBC.

“Lebih penting lagi, Taliban perlu membuktikan komitmennya terhadap perencanaan ekonomi. Ini termasuk membangun zona aman di dekat ibu kota dan perbatasan untuk calon investor asing seperti China… dan untuk menghidupkan kembali perdagangan regional dengan negara tetangga,” imbuhnya.

Afghanistan diperkirakan memiliki sumber daya alam – termasuk gas alam, tembaga, dan tanah jarang – bernilai lebih dari $1 triliun (£831,5 miliar).

Namun, banyak dari kekayaan alam itu belum dimanfaatkan karena konflik berkepanjangan selama beberapa dekade di negara itu.

Awal tahun ini, Taliban mengatakan berencana untuk menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan China guna mengebor minyak di Afghanistan bagian utara. Kesepakatan 25 tahun menggarisbawahi keterlibatan ekonomi China di wilayah tersebut.

Beijing belum secara resmi mengakui pemerintahan Taliban Afghanistan, tetapi mereka sudah menampakkan ketertarikan untuk berbisnis di negara itu, yang posisinya berada di tengah kawasan yang penting bagi China yang ingin mewujudkan Belt and Road Initiative, jalur perekonomian modern yang mengikuti jalur perdagangan masa lampau yang berjaya yang dikenal sebagai Silk Road (Jalur Sutra).

Diluncurkan oleh Xi Jinping pada tahun 2013, inisiatif ini menyediakan pembiayaan alias utang bagi negara-negara berkembang untuk membangun infrastruktur seperti pelabuhan, jalan, dan jembatan.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AfghanistanchinaPangkalan MiliterTaliban
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ditemukan Gunung Bawah Laut di Perairan Pacitan, Satu Lagi Bukti Ilmiah Al-Quran
Tulisan selanjutnya Setidaknya 41.020 Meninggal Akibat Gempa Bumi di Turki  

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Berita
18 Juli 2026 10:26
Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

18 Juli 2026 11:26
Berita

Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

18 Juli 2026 10:48
Berita

China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

18 Juli 2026 10:12
Berita

Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

18 Juli 2026 09:49
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?