Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Kemampuan Baca Anak SD di Jerman Lebih Rendah dari Uni Eropa

Ahmad
Terakhir diupdate: 20 Mei 2023 14:54 2:54 pm
Ahmad
Dipublikasikan 20 Mei 2023 14:53
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Status sosial dan kebiasaan menggunakan bahasa Jerman di rumah cenderung menjadi dua faktor utama mengapa keterampilan membaca anak-anak sekolah dasar kelas empat Jerman lebih buruk daripada rata-rata Eropa, kutip Deutsche Welle.

Sebuah studi internasional lima tahunan yang diterbitkan pada hari Selasa (16/05) menunjukkan bahwa keterampilan membaca anak-anak sekolah Jerman di akhir kelas empat (ketika anak-anak dalam sistem pendidikan Jerman berusia 10 tahun) telah memburuk dalam 20 tahun terakhir dan lebih rendah daripada anak-anak lainnya di Uni Eropa.

Menurut hasil Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) tahun 2021 dalam studi membaca (dikenal di Jerman dengan akronim berbeda, IGLU), 25% anak-anak Jerman tidak mencapai apa yang dianggap sebagai standar minimum untuk memenuhi tantangan akademik yang akan dihadapi nantinya di sekolah.

Menteri Pendidikan dan Penelitian Jerman Bettina Stark-Watzinger menyebut rasio 1 banding 4 ini “mengkhawatirkan”. Saat studi pertama kali dilakukan pada tahun 2001, angkanya 17% atau kurang dari 1 banding 5.

Penulis laporan mengatakan bahwa setiap anak yang tidak memenuhi standar minimum akan mengalami “kesulitan yang cukup besar di hampir semua mata pelajaran sekolah” di tahun-tahun berikutnya, kecuali mereka berhasil menutupi kekurangan tersebut.

Baca Juga

Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Adapun skor membaca rata-rata anak-anak Jerman hanya 529 poin, bandingkan dengan rata-rata 539 poin pada tahun 2001 dan 537 poin selama studi tahun 2016.

Perbandingan dengan anak-anak di negara UE lainnya

Sebagai perbandingan, di luar kawasan Uni Eropa skor rata-rata di Singapura adalah 587, disusul Hong Kong dengan skor 573. Lebih dari 60 negara, sebagian besar negara yang lebih kaya dan lebih berkembang, berpartisipasi dalam PIRLS secara keseluruhan.

Sementara rata-rata anak sekolah Finlandia mendapat skor 549, begitu pula Polandia dan Swedia di skor 544. Sebagian besar negara-negara yang lebih kaya idealnya mendapat skor lebih dari 500, meskipun salah satu yang berkinerja terburuk di Eropa adalah wilayah dwibahasa Belgia yang sebagian besar berbahasa Prancis di selatan negara itu, dengan skor 494.

Hanya tiga negara di Afrika yang berpartisipasi dalam studi tersebut, yang menunjukkan bahwa delapan dari 10 anak sekolah di Afrika Selatan kesulitan membaca dengan baik pada usia 10 tahun. Maroko dan Mesir juga ikut serta dalam studi ini.

Faktor yang berkontribusi dalam penelitian

McElvany mengidentifikasi empat faktor utama yang menurutnya tampak terlihat dari studi mereka tentang data kinerja murni — salah satunya bersifat sementara dan khusus untuk tahun 2021, tetapi tiga di antaranya permanen dan tampaknya merupakan bagian dari tren yang berjalan lebih lama.

Ditanya tentang dampak pandemi COVID-19, McElvany mengatakan hal itu pasti berdampak pada skor tahun 2021. Namun, dia berpendapat bahwa bukti menunjukkan serangkaian tantangan yang lebih permanen.

“COVID tentu menjadi bagian dari penjelasan kali ini,” kata McElvany kepada penyiar publik Jerman ARD. “Namun, pada saat yang sama kita harus ingat bahwa tren penurunan kompetensi membaca rata-rata di Jerman ini telah diamati sejak 2006.”

Meskipun McElvany menekankan bahwa pekerjaannya lebih berfokus pada pemrosesan data daripada menemukan penjelasan, dia mengatakan beberapa pola tampak jelas.

Dia menyinggung tren berulang dari anak-anak dari latar belakang yang lebih kaya atau berpendidikan lebih baik atau sering kali keduanya, cenderung lebih baik dalam studi semacam itu, terutama pada usia dini.

“Ada juga perubahan di ruang kelas kami. Kami memiliki lebih banyak anak di sekolah yang tidak lagi berbicara bahasa Jerman di rumah. Untuk sekolah dasar, ini bukan tantangan baru, tetapi ini adalah tantangan yang berkembang,” kata McElvany.

Negara-negara lain dengan populasi migran yang lebih besar dan tren budaya multibahasa yang berkembang, seperti Belanda dan Belgia, menunjukkan tren penurunan seperti Jerman, perbedaan yang lebih besar dari rata-rata antara anak-anak yang berkinerja terbaik dan terburuk.

McElvany mengatakan sekolah dasar di Jerman menghabiskan sekitar 140 menit seminggu untuk kegiatan membaca, dibandingkan dengan rata-rata sekitar 200 menit di negara-negara OECD dan Eropa yang sebanding.

Studi ini adalah yang terbaru dari beberapa studi serupa. Pada 2022 studi lain oleh Universitas Humboldt di Berlin — disebut Tren Pendidikan IQB — menemukan penurunan nilai sekolah dasar dalam matematika dan bahasa Jerman.*  

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:SD EropaSD JermanUE
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Presiden Ukraina Zelenskyy Hadiri KTT Liga Arab di Saudi
Tulisan selanjutnya cek arah kiblat Sabtu-Ahad Rasdhul Kiblat, Cek Arah Kiblat Anda

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

4 Juni 2026 11:00
Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

4 Juni 2026 10:00
Berita

Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

4 Juni 2026 09:00
Berita

Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

4 Juni 2026 08:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?